Tampilkan postingan dengan label Corat-coret. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Corat-coret. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Agustus 2013

Saya Benci Petasan!!!

Duar, duar. der, doorrr!!! Pernahkan kaget ketika mendengar suara letusan. Bukan letusan tembakan atau bom, tapi ini adalah 'bibit' bom. Ya kalau yang belum pernah merasakan miniatur bom seperti apa bisa dekat-dekat dengan petasan. Atau yang ingin menjadi 'pengantin' seperti awak-awak teroris bisa itu main-main dengan petasan. Bagi saya, petasan adalah awal mula kita memainkan bom. Jujur saya cukup kesal dan emosi ketika mendengar suara petasan yang mengagetkan. Emang  sih, tidak ada petasan yang tidak membuat kaget. Jujur ketika kecil saya juga pernah memainkan petasan, sampai saya merasakan ledakan petasan terjadi persis di depan mata, untung saja tidak berakibat fatal. Sejak saat itu saya mengatakan berhenti untuk main-main dengan yang namanya petasan.

Beberapa tahun belakangan ini petasan sudah jadi bahan yang dilarang beredar di masyarakat. Terutama sejak kasus peledakan bom oleh teroris berjubah. Razia demi razia dilakukan pihak keamanan untuk membatasi peredaran petasan, namun tetap saja produksi dan distribusinya berjalan, karena memang tingkat konsumsi petasan masyarakat kita juga tinggi. Konsumsi yang tinggi terhadap petasan ini banyak ditemui dari anak-anak kecil sampai orang dewasa yang memainkan petasan, entah di jalan, di lapangan atau dimana saja ketika mereka punya uang untuk dibelikan. Mereka sepertinya tidak eman-eman membelanjakan uang untuk membeli sebuah petasan, kepuasan terbayarkan ketika melihat suatu ledakan, apalagi kalau bisa membuat orang kaget. Sungguh bagi saya ini benih atau bibit 'pengantin' pelaku terorisme. Karena sedari kecil sudah dibiasakan melihat ledakan dan menjadi eksekutor ledakan serta senang ketika melihat orang lain terkaget-kaget.

Sungguh saya dibuat kesal ketika melihat anak-anak kecil bermain petasan dan meledakannya di sembarang tempat, tergantung kesukaan mereka, setelah itu mereka bersorak kegirangan. Sungguh ironis, padahal di sudut lain ada orang tua atau orang lain yang jantungnya hampir copot mendengar ledakan petasan yang mereka mainkan. Ironis lagi ketika dilakukan di sebuah lapangan dekat dengan tempat ibadah, masjid misalnya. Ketika orang-orang sedang teraweh, eh anak-anak bermain petasan, suara ledakan petasan jelas mengganggu kekhusukan beribadat. Belum lagi nanti setelah shalat hari raya, pasti petasan dibunyikan sembarangan. Padahal ada di masjid lain ada umat yang masih beribadat. Sungguh tindakan yang tak terpuji, namun masih saja dibiarkan atau mungkin dibina.

Pembinaan yang positif harusnya sudah mulai dilakukan di tingkat keluarga, kemudian tingkat yang lebih tinggi masyarakat, bisa melalui ceramah agama atau cara lain yang lebih 'keras' mendidik bahwa bermain petasan itu adalah tindakan yang tidak terpuji. Penggunaan petasan secara sembarangan adalah suatu tindakan yang tidak boleh dilakukan, apalagi oleh anak-anak dibawah umur. Petasan sewajarnya digunakan untuk acara-acara tertentu saja, misalnya diadat Betawi ada penggunaan petasan untuk ritual tertentu, kemudian masyarakat Tionghoa ketika imlek atau acara pernikahan. Di sanalah penggunaan petasan yang dianggap wajar, tidak lebih dari itu, yang justru tak membawa manfaat apa-apa. Paling manfaat keuntungan dari si produsen dan distributor petasan tersebut.

Sudah banyak korban jiwa akibat penggunaan petasan yang salah, dari tingkat konsumen, distributor sampai produsennya. Bahayanya ya meledak, kebakaran, serta korban jiwa bisa saja meninggal atau harus diamputasi. Mengerikan bukan? Sama seperti korban dari ledakan bom. Jadi sekali lagi wajar jika saya mengatakan bahwa petasan adalah bibit dari bom. Malah saya sampai senang melihat korban jiwa pelaku-pelaku petasan, dalam hati berkata, "Syukurin, mampus lu!!!" Apalagi kalau ada yang diamputasi, karena itu imbalan yang cukup agar mereka jera tidak menggunakan petasan untuk kesenangan atau kepuasan sesat.

Penggunaan petasan yang salah lebih dominan ketika menjelang hari raya, atau pas hari raya, kemudian ketika momen tahun baru, bahkan malah har-hari biasa dimana tidak ada momen apa-apa. Mereka pengguna petasan dengan mudah membeli petasan, di kaki lima. Padahal kalau dirazia selalu pedagang berdalih hanya menjual kembang api, tapi nyatanya masih aja ada suara "Duarm der, dor!" dari kejauhan. Kalau kembang api sih semua orang juga tahu dan memang ada suara yang mengagetkan juga, namun masih ada efek keindahan yang bisa dinikmati, dibandingkan petasan yang hanya meledak sesaat dan mengagetkan. Alih-alih berbagi rejeki, tapi efek negatifnya menjalar kesemua orang. Lalu sampai kapan kebiasaan buruk ini akan terus berjalan? Ketegasan pihak keamanan dalam menegakan aturan jadi sangat penting. Selama masih ada petasan beredar, mungkin sumpah serapah untuk korban dari pelaku pemain petasan akan terus terucap. Karena mereka lebih puas atau jera ketika sudah menjadi korban daripada sebelum menjadi korban mereka sadar. Jadi karena itu pilihan anda, rasakan akibatnya bermain petasan. "Mampus saja sekalian meledak bersama petasan yang kamu mainkan!!!"

Rabu, 17 Juli 2013

Mandi Air Hangat

Siapa yang senang mandi air hangat? Siapa saja yang ditanyakan pertanyaan ini akan menjawab "Saya mau!" Karena mandi air hangat itu bisa buat badan lebih terasa rileks. Alasan orang mandi air hangat  bisa karena sakit, bisa juga tidak karena sakit, bisa juga karena ingin, dan bisa juga karena dingin, saya memilih mandi dengan air hangat. Mandi dengan air hangat juga sama menyenangkannya seperti mandi air dingin, asalkan ya tadi, sesuai dengan syarat yang disebutkan diawal paragraf.

Ketika sedang tidak enak badan (sakit) air hangat jadi pilihan saya. Karena menjaga kondisi suhu tubuh pada suhu tertentu akan membantu kondisi badan tetap stabil. Contohnya saat sedang sakit mriang, greges, flu atau sakit lainnya yang hubungannya kekondisi suhu tubuh. Air hangat bisa jadi solusi agar sakit tidak parah. Mungkin lain soal kalau kena penyakit kulit. Efek hangat yang ada diair itu bisa jadi sumber relaksasi alami. Lebih nikmati lagi kalau kita mandi atau berendam diair hangat yang bersumber dari panas bumi atau air hangat belerang.

Saya punya beberapa pengalaman mandi air hangat, baik buatan sendiri, dikelola swasta sampai yang alami. Pengalaman saya mandi air hangat yang sering si mandi karena air masak sendiri, air mendidih, lalu dicampur dengan air dingin di bak mandi. Dicampur sampai rasa hangat 'suam-suam kuku'. Setelah dirasa hangat barulah menyiramkan ketubuh untuk jadi air mandi. Pengalaman mandi air hangat lain yaitu dipemandian kolam air hangat buatan atau bisa dibilang kolam air hangat yang sudah dikelola dalam komplek hotel atau pemandian khusus. Yang saya ingat, saya pernah mencoba di daerah Kuningan, Jawa Barat dan di Tabanan, Bali. Untuk di Tabanan, Bali itu dikenal sebagai pemandian belerang. Pengalaman lain soal mandi air hangat itu saya pernah mandi langsung dimata air panas belerang alami, di daerah Hobatua, Ende, NTT. Di sana mata air panas benar-benar alami, karena air panas keluar dari sela-sela batu yang kemudian bercampur dengan air biasa. Mata air itu muncul di sebuah sungai kecil, ketinggian air juga relatif dangkal.

Itulah pengalaman saya seputar air hangat. Sebuah pilihan lain untuk mandi, terutama ketika kondisi tubuh sedang tidak fit. Air hangat ini juga bisa bantu untuk pemulihan fisik alias terapi pasien-pasien dengan sakit-sakit tertentu, bisa juga untuk pembersih luka. Jadi bukan hanya merilekskan, menghangatkan dan menyegarkan saja, air hangat juga bisa jadi sarana penyembuh. Bagi yang tidak suka dengan mandi air hangat ini sepertinya rugi deh, tapi sih itu semua pilihan, so up to you. Sekian corat-coret saya  see you next time.

Jumat, 05 Juli 2013

Corat-coret: Cirebon Sejuk di Awal Bulan Juli

Sejak memasuki awal bulan Juli 2013 ini Kota Cirebon sedang sejuk-sejuknya. Ya setidaknya untuk hari-hari pertama bulan ini. Biasanya kalau hari-hari normal pagi saja untuk jam sembilan matahari sudah bersinar terik. Lain dengan hari ini, terasa sejuk dari pagi. Mungkin karena pengaruh hujan sedari kemarin sore hingga malam.

Sampai hari ini dari awal Juli, setiap sore sekitar pukul empat cuaca berubah mendung, dan tidak tanggung kadang hujan turun, besaran hujannya sendiri variatif, tidak besar juga, kecil juga tidak. Kalau pun berhenti masih sedikit disertai gerimis ringan saja.

Suasana ini memang mendukung sekali untuk tidur, karena sejuk. Ya normalnya Cirebon itu panas sekali. Untuk rumah saya yang sehari-hari selalu menggunakan kipas angin mulai mengurangi penggunaannya. Biasanya dimalam hari kipas angin selalu non stop nyala sampai pagi, beberapa hari ini tidak demikian. Ya bagus lah setidaknya mengirit umur pakai kipas angin. Soalnya kalau tidak pakai kipas angin bisa keringat bercucuran.

Saya tidak tahu pasti sekarang ini masuk ke musim apa, penghujan atau kemarau. Kalau musim normal, seharusnya bulan-bulan ini sudah masuk ke kemarau. Tapi biarlah, bagaimana pun hujan atau air merupakan berkah. Air merupakan sumber kehidupan. Harapan juga dengan hujan yang turun bisa menjadi sumber untuk mata air di dalam tanah, terutama ya untuk stok air bersih di wilayah kota Cirebon sendiri. Misalkan juga hujannya turun di wilayah sebelah atas Cirebon seperti Kabupaten Kuningan, harapannya cadangan air di kawasan hulu bisa meningkat, sehingga pasokan air ke Kota Cirebon yang berada di bawahnya bisa terjamin. Kita tahu bahwa pasokan air bersih untuk Kota Cirebon kebanyakan juga dipasok dari PDAM, yang mana sumber airnya berasal dari wilayah kaki Gunung Ciremai yang berada di wilayah atas, Kabupaten Kuningan dan sekitarnya.

Kesejukan juga sebenarnya dipengaruhi oleh banyaknya tumbuhan yang ada. Karena tumbuhan ini berfungsi sebagai penyuplai oksigen, alat pemberi sejuk juga dengan rindangnya dedaunannya, serta menyimpan air. Ya inilah yang menjadi sumber sejuk itu, air. Harapan dengan datangnya hujan di awal bulan ini bisa memberi berkah kesuburan untuk tanah-tanah yang kering, sehingga semakin banyak yang tumbuh. Semoga kesejukan di bulan Juli ini terus berlanjut. Amin.

Kamis, 04 Juli 2013

Corat-coret: Catatan Minggu Lalu

Minggu lalu, saya ingat hari Kamis, 27 Juni 2013 saya sedang dalam perjalanan trip dari Surabaya ke Maumere, dalam misi mengantar tanta pulang ke kampung halamannya. Kamis pagi sekitar jam setengah empat pagi kami sudah berbenah, mandi, sarapan dan paking barang untuk menuju bandara Internasional Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur. Kami start dari kontrakan salah satu sepupu kami di Surabaya, tepatnya di Kelurahan Kendangsari, Surabaya, Jawa Timur.

Pagi masih sepi kami sudah berangkat menuju bandara, karena setengah lima pagi kita harus sudah check in di loket Merpati Airlines. Ya, maskapai "manuk dara" yang jadi pilihan kami untuk menghantar kami ke Maumere. Sayangnya pesawat yang menghantar kami ini tidak langsung turun di Maumere, namun harus transit di Makassar terlibih dahulu, nanti di sana dilanjutkan dengan pesawat yang lebih kecil untuk turun di Maumere.

Jadwal keberangkatan pesawat kami yang tercantuk di tiket reservasi pesawat harus take off jam enam pagi, namun karena delay masalah operasional kami baru lepas landas jam setengah tujuh pagi. Pesawat jenis boing yang menghantar kami ke Makassar sebagai bandara transit di Sultan Hassanudin Airport. Sampai Makassar itu kalau tidak salah jam setengah sembilan pagi waktu Indonesia bagian tengah. Penerbangan tidak lama, hanya kurang lebih satu jam tiga puluh menit atau lima belas menit lah kami sudah landing di Makassar. Perjalanan kami tidak ada masalah.

Sampai Sultan Hassanudi Airport kami turun, masuk bandara langsung menuju loket transit, boarding pass lagi di sana, akhirnya kami menuju ruang tunggu. Penerbangan selanjutnya akan diantar dengan pesawat yang lebih kecil, MA60, pesawat buatan China yang kerap bermasalah. Kami masih menggunakan maskapai yang sama, yaitu maskapai "manuk dara aduan". Jadwal penerbangan kami berikutnya itu sekitar jam tiga sore. Sehingga sejak kedatangan kami di Makassar ya terpaksa harus menunggu untuk waktu yang lama.

Sembari menunggu ya yang bisa dilakukan hanya menelepon keluarga (mengabari), online dengan BBM, YM, bahkan sampai harus online menggunakan Lenov yang saya bawa dari Cirebon. Bosan dengan gadget, mata memandang ke segala arah, liat sana-sini, jalan sana-sini, ya karena hanya itu yang bisa dilakukan untuk membuang waktu menunggu waktu keberangkatan.

Sudah lama menunggu, ternyata kami harus kembali membuang waktu karena pasawat yang akan membawa kami urung tiba di Makassar, sehingga 'judulnya' delay. Benar-benar membosankan sekali ketika menunggu saat itu. Sabar-sabar akhirnya ya terdengar juga panggilan untuk pesawat kami, kami pun menuju gate yang ditentukan.

Akhirnya kami berangkat juga dengan MA60 dan menghabiskan perjalanan kurang lebih satu jam lima belas menit. Sekitar pukul setengah lima sore waktu Indonesia bagian tengah kami mendarat di Frans Seda Airport, Maumere, NTT. Perjalanan lancar tanpa ada halangan berarti, aman, nyaman dan yang terpenting selamat, mengingat pesawat MA60 ini sering bermasalah.

Itulah catatan yang bisa saya catat sekarang, yang mana catatan ini merupakan catatan singkat aktivitas minggu yang lalu. Sekali lagi ini kembali jadi catatan saya pribadi yang akan tersimpan secara online. Catatan yang serupa mungkin juga akan saya buat di postingan yang lain terkait perjalanan saya tersebut. Cu next time ; ) 

Rabu, 03 Juli 2013

Merasakan Terapi Bio-Electric

Serangan stroke yang dialami paman (om) satu bulan lalu (pertengahan Mei) dijadikan pelajaran berharga buat kami orang-orang terdekat, termasuk saya sendiri yang setiap saat mengurus dan merawat beliau. Setelah masa kritis terlewati, kini kondisi kesehatannya sudah membaik. Kelumpuhan sebagian tubuh bagian kanan yang pada awalnya mengganggu kini sudah berangsur-angsur normal.

Penanganan baik medis maupun pengobatan alternatif kami lakukan untuk mengembalikan kondisi paman saya itu seperti semula. Meski kondisi yang sedia kala 100% masih belum tentu terwujud, namun dengan bisa melakukan aktivitas normal itu sudah jauh lebih baik, dan itu yang kami (keluarga) harapkan.

Penanganan medis dilakukan sejak pertama kena serangan, kalau dihitung tiga minggu waktu penanganan di rumah sakit. Berdasarkan pengamatan saya meihat kondisi paman saya itu, pengobatan di rumah sakit hanya sebatas membuat kondisi pasien pada tahap pemulihan kesehatan saja, tapi tidak dapat mengembalikan fungsi gerak motoriknya dengan baik. Pada waktu minggu ketiga saat keluar rumah sakit itu pun kondisinya masih lumpuh sebagian. Paman saya sangat amat terbatas dalam gerak motoriknya. Memang pihak rumah sakit memberikan fisio terapi, namun jauh dari harapan.

Pengobatan medis itu tidak sepenuhnya kami percayai, diam-diam tanpa sepengetahuan dokter (pihak rumah sakit), kami keluarga juga memberikan obat herbal. Dan obat herbal itulah yang juga memberi kesembuhan lebih cepat. Kembali kesoal  kondisi fisik yang lumpuh tadi, akhirnya kami pihak keluarga membawa paman saya ini ke pengobatan alternatif bio-elektrik. Tidak jauh berbeda teorinya dengan metode fisio terapi di rumah sakit, namun di pengobatan alternatif ini, energi listrik yang disalurkan ke tubuh pasien dapat dikontrol, sehingga tidak sekedar kejut listrik statis kepada saraf tertentu saja, tetapi juga ke seluruh tubuh, bahasa baiknya terapi di alternatif ini lebih menyeluruh ke seluruh badan, sehingga efeknya lebih bisa dirasakan.

Terapi hari pertama itu hasilnya luar biasa, paman saya langsung bisa duduk, terapi kedua paman saya bisa berdiri, terapi ketiga paman saya bisa melangkah dan seterusnya perkembangan ke arah yang lebih baik. Hal ini jauh berbeda dengan terapi yang dilakukan di rumah sakit selama perawatan di sana. Ini yang buat saya luar biasa, dan membuka mata saya, bahwa pengobatan alternatif bisa jadi solusi untuk kesembuhan, tidak semata-mata percaya saja pada pengobatan medis. Karena nyatanya pengobatan alternatif punya solusi lebih baik daripada medis di rumah sakit yang menekankan pada pengobatan kimiawi yang lebih banyak punya efek samping merusak organ tubuh yang lain. Hingga kini pengobatan alternatif pada paman saya itu masih berjalan sampai ke kondisi yang jauh lebih baik, dengan target satu bulan pemulihan saraf motoriknya baik. Meski begitu, pelatihan gerak secara pribadi juga dilakukan untuk pemulihan.

Berdasarkan pengalaman itu ada keinginan saya mencoba. Kebetulan saat kondisi saya sangat amat lelah. Wajar sejak serangan stroke pertama pada paman saya, saya intens mengurus menjaga hingga kondisinya sekarang lebih baik. Belum lagi ditambah aktivitas lain yang membuat kelelahan fisik saya itu. Saya merasakan ketegangan saraf di tubuh terutama di bagian kepala. Alih-alih takut terkena penyakit yang paman saya alami itu, saya memutuskan untuk melakukan pencegahan dengan mencoba pengobatan alternatif yang paman saya jalani itu.

Pengobatan alternatif itu tidak hanya untuk orang yang sakit, bahkan kita yang terlihat sehat perlu untuk itu. Karena pada dasarnya, pengobatan ini untuk melancarkan saraf-saraf di tubuh kita yang terhambat. Karena sebenarnya kunci dari kesehatan adalah sirkulasi daraf, saraf-saraf di tubuh berjalan dengan baik.

Akhirnya saya merasakan manfaat dari pengobatan itu. Setelah saya menjalani terapi, tubuh saya yang tadinya lelah, capek, tegang menjadi lebih baik. Keluhan-keluhan saya itu bisa hilang, tubuh jauh lebih ringan. Saya merasakan kondisi yang lebih baik. Kesimpulan dari saya pribadi, memang pengobatan alternatif bio-electric ini sungguh luar biasa. Kuncinya ya ada diterapisnya, beliau punya kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Listrik yang dialirkan itu sepertinya energi alami, jauh berbeda dengan listrik PLN yang punya sifat merusak terhadap tubuh manusia. Beliau bisa mengendalikan seberapa kuat energi yang perlu disalurkan ke impuls saraf yang sakit, sehingga dapat kembali normal. Kesimpulannya sekali lagi adalah mantab!

Meski begitu yang lebih mantab adalah tetap menjaga kesehatan, melakukan pola hidup sehat dan selalu makan makanan yang bergizi. Mudah-mudahan cara ini menjauhkan kita dari sakit. Sakit bisa datang kapan saja, namun seberapa parahnya bergantung dari pola hidup kita juga. Kesembuhan bisa datang dari mana saja, tapi yang terutama ya dari dalam diri kita, yaitu semangat untuk sembuh, disamping pengobatan dari luar baik medis maupun alternatif. Ini hanya share yang saya alami, setidaknya bisa menjadi catatan pribadi saya dikemudian hari. Sampai jumpa dishare pengalaman yang lainnya. (^_^)?

Selasa, 02 Juli 2013

Pesta Demokrasi di Tingkat RT/ RW

Pesta demokrasi sangatlah wajar di tanah air Indonesia ini, karena Indonesia adalah negara yang memegang prinsip demokrasi. Bahkan Amerika yang dikenal sebagai negara yang memegang prinsip ini memuji perkembangan iklim demokrasi di Indonesia. Memang tidak sepenuhnya baik iklim demokrasi di Indonesia, tapi itu semua adalah proses demokrasi, proses belajar menuju ke arah yang lebih baik.
TPS pemilihan ketua RW05 Bina Asih, Kel. Larangan, Kec. Harjamukti, Kota Cirebon, Jawa Barat
Tidak hanya ditingkat nasional demokrasi ada, tapi di tingkat yang paling rendah proses demokrasi juga sudah dilakukan. Pemilu merupakan bentuk proses demokrasi. Tingkat yang paling rendah yang saya maksudkan di sini adalah acara pemilihan ketua RW di lingkungan saya tinggal, RW05 Bina Asih, Kelurahan Larangan, Kecamatan Harjamukti. Acara pemilihan ketua RW ini dilakukan pada 23 Juni 2013.
Pertama kalinya saya ikut acara yang semacam ini di tingkat RW. Saya ikut memberikan suara pada pemilihan RW hari itu. Suasana demokratis saya lihat ketika saya datang ke tempat pemungutan suara. Terlihat warga di RW saya itu antusias memberikan suaranya di TPS. Memang kalau dilihat dari total pemberi suara, hanya kurang lebih 50% yang memberikan suara ke TPS ini. Wajar, karena banyak juga warga yang tidak berada di tempat namun terdaftar. Tapi hal ini tidak menjadi masalah. Jauh berbeda ketika pemungutan suara tingkat kabupaten/ kota, atau pemilu provinsi hingga pilpres, kesalahan sedikit saja pasti dimanfaatkan oknum-oknum tak bertanggungjawab untuk mencuri suara.
Ya yang membedakan karena di tingkat RW ini jarang sekali ada konflik kepentingan untuk memperebutkan keuntungan tertentu. Sehingga siapa saja yang terpilih atau yang mencalonkan diri ya niatnya untuk bekerja bagi warganya. Toh jarang juga warga yang mau mencalonkan diri untuk sibuk mengurus warganya di tingkat RT/ RW. Ya karena itu tadi tidak adanya kepentinan yang bisa dijadikan keuntungan. Tapi biarlah proses demokrasi di tingkat terendah di masyarakat terus berkembang, agar terus belajar menjadi lebih baik.

Sabtu, 22 Juni 2013

Catatan Trip Dua Malam di Ibukota

Akhirnya saya kembali lagi ke Cirebon, sebagai tempat awal keberangkatan saya untuk trip kali ini. Sebenarnya saya ini sudah lama stay di Depok, Jabar, namun karena ada urusan yang mendesak saya harus kembali ke Cirebon, kota udang. Nah trip kali ini saya ke Depok untuk mengecek My Vega yang sudah hampir genap sebulan tidak dipanasin sama sekali, daripada kondisinya semakin parah, saya harus mengeceknya. Kemudian saya juga harus mengambil berkas-berkas yang harus diperpanjang di kota asal saya.
Tiket kereta Tegal Arum jurusan Jakarta Kota dari Prujakan Cirebon

Trip kali ini saya lakukan dari tanggal 20 – 22 Juni. Seperti biasa saya melakukan perjalanan menggunakan Cirebon Ekspres, tapi kali ini saya memakai kereta lain, yaitu Tegal Arum ekonomi-ac. Alasannya sih simpel, karena Tegal Arum menawarkan tarif yang lebih murah dengan kenyamanan yang relatif layak tidak jauh beda dengan Cireks yang bisnis, hanya untuk waktu tempuh sedikit tidak ontime dibandingkan Cireks yang bisnis. Tarifnya Rp 40.000,00 lebih murah dibandingkan dengan Cireks yang Rp 70.000,00.
Penampilan Stasiun Prujakan Cirebon kini, arah Jateng

Penampilan Stasiun Prujakan Cirebon kini, arah Jakarta
Dari perjalanan ini banyak catatan yang bisa saya catat untuk mengisi blogs saya yang beberapa hari ini “tidur”. Ingin membuat postingan tetapi kadang idenya sulit sekali keluar. Nah untuk memancing ide, kebetulan saya habis melakukan trip, ingin saya catatkan di sini. Setidaknya sebagai catatan harian saya.

Mengikuti jadwal Tegal Arum berangkat di Stasiun Prujakan berangkat pukul 08:00, itu sih sesuai yang tertera pada tiket, kenyataannya sih kereta baru berangkat sekitar pukul 08:20, sedikit molor dari jadwal. Situasi di dalam kereta nampak kondusif, dan saya dapat kursi sesuai dengan yang tertera di tiket. Wajar, terakhir kali saya naik kereta ekonomi, belum ada sistem kursi. Suasana di dalam kereta juga relatif nyaman, mesin pendinginnya bekerja cukup maksimal, pagi itu, namun waktu semakin siang mesin pendinginnya mulai tak bekerja, hawa panas mulai terasa sampai akhirnya Tegal Arum tiba di stasiun terakhir di Jakarta Kota. Selama perjalanan, kereta ini ya berhenti dibeberapa stasiun, ya ciri khas dari kereta ekonomi, “legowo”, “ngalah melulu”. Tegal Arum masuk Jakarta tepat pukul 12:00, sesuai jadwal sih, namun tiba di Stasiun Jakarta Kota lewat 30 menit dari waktu yang dijadwalkan.
Sampai stasiun saya langsung siapkan tiket untuk pulang lusa. Tidak ngantre lama untuk membeli tiket pulang. Suasana Stasiun Jakarta Kota pun relatif normal seperti biasa, tidak terlihat antrian pembelian tiket sampai panjang.
Owh iya, ketika saya ke Jakarta ini, untuk sistem tiket kereta komuter line sudah mulai mengalami perubahan. Kini sudah menggunakan sistem tiket elektronik. Program ini sudah mulai berjalan sejak 1 Juni lalu untuk sistem single trip, dan rencananya tanggal 1 Juli sistem multitrip diberlakukan. Soal ini akan saya bahas dicatatan yang lain.
Kartu tapping single trip, sebelum pemberlakuan kartu multi trip
Menikmati suasana ibukota setelah sebulan berada di kota kecil. Ya cukup mengobati rasa kangen saya. Suasana persaingan kental terasa sejak kereta yang saya naiki masuk ke wilayah Bekasi, Jabar, sampai akhirnya saya turun di Jakarta Kota. Setelah sampai saya langsung beli tiket komuter line dan pulang menuju Depok. Di Depok inilah tujuan saya membereskan urusan sebelum saya kembali ke Cirebon.
Saya stay hanya dua malam di Depok. Malam pertama saya sampai Kamis (malam Jumat) dan Jumat malam (malam Sabtu). Waktu yang cukup untuk mengobati rasa kangen setelah satu bulan meninggalkan segala aktivitas padat di ibukota. Kangen juga tidur di kamar sendiri, di kamar yang punya jaminan privasi tersendiri.
Setelah urusan saya selesai, hari ini Sabtu saya harus kembali ke Cirebon. Tiket semua sudah siap, jam 16:15 waktu Tegal Arum membawa saya kembali ke Cirebon. Ditemani sahabat dan atau juga kekasih mengantar kepulangan sementara saya ke Cirebon. Saya berharap sih beberapa hari ke depan urusan saya di Cirebon cepat usai dan saya bisa kembali mengejar target hidup saya.
Sekian catatan saya kali ini, ini jadi awal untuk membuat postingan lainnya untuk mengisi di bulan Juni 2013 ini. Keep blogging ;)

Minggu, 09 Juni 2013

Hari Minggu Ketiga Stug

Hari ini sudah masuk keminggu ketiga saya stug di kondisi ini, kejenuhan mulai menyerang. Banyak pikiran yang terlintas di kepala ini. #stresbinjenuh. Waktu yang potensial ketika saya ada di rumah adalah dua minggu, selepas waktu itu kepuasannya seperti menurun. Seperti hukum kepuasan dalam ekonomi. Ketika kepuasan diteruskan sampai titik maksimum makan nilai kepuasannya akan menurun. ya setidaknya begitu inti dari hukum kepuasan ekonomi.

Sekarang ini saya sedang mengalaminya. Jenuh sekali rasanya. Padahal ketika ditengah kesibukan yang padat ingin juga ada waktu senggang, tetapi kalau waktunya terlalu banyak untuk senggang ya tidak enak juga. Memang harus seimbang, kerja dan refresing. Kemarin yang saya alami waktu kerja lebih banyak daripada refresing, sekarang sebaliknya. Meski refresing yang dialami sekarang dalam tanda kutip. Refresing di apartemen rumah sakit.

Semoga kondisi ini lekas berlalu, ya paling tidak ada sesuatu yang bisa diperbuat. Sehingga bisa mengatasi kejenuhan saya ini, dan yang terpenting saya butuh uang, I need money. Semoga demikian, cawan ini berlalu daripada ku ... ;( 

Sabtu, 25 Mei 2013

Corat-coret: Rumah Sakit dan Hotel

Siapa yang tak kenal rumah sakit, dan siapa yang tak mengenal hotel? Sebuah tempat yang berbeda, namun punya kesamaan jika dilihat dari sudut pandang tertentu. Kalau hotel, banyak orang menginginkan mengunjunginya, sedangkan sebaliknya, rumah sakit jadi tempat yang tidak ingin dikunjungi, kalau pun harus mengunjungi itu pada keadaan tertentu, ya ketika sakit.

Apa yang saya tulis ini terinspirasi dari beberapa hari saya berada di rumah sakit. Ya, seperti postingan di blog pribadi saya, Netbook cocoper6, saya sedang menjaga om saya yang sedang sakit. Selama beberapa hari di rumah sakit, saya melihat ada kesamaan antara rumah sakit dengan hotel.

Pembedanya hanyalah rasa ketika kita tinggal di dua tempat tersebut. Ketika kita tinggal di sebuah hotel, perasaan kita adalah senang, hiburan, melepaskan segala kepenatan. Sebaliknya ketika kita tinggal di rumah sakit, yang dirasa ya kesakitan, kegelisahan, ketidakbetahan, kejenuhan serta rasa sakit apabila kita merupakan pasien dari rumah sakit tersebut.

Kalau bahas sol kamar, ya kalau di rumah sakit kita memilih ruang perawatan untuk kelas VIP atau VVIP, tentunya bisa merasakan suasana perawatan yang nyaman lengkap dengan segala fasilitasnya, ya ada kamar mandi dalam, kemudian televisi, kulkas, ada juga extra bed, mungkin juga sofa, wastafel, meja dan peralatan pendukung kenyamanan pasien dan keluarganya. Untuk soal biaya juga jelas berbeda untuk memperoleh semua fasilitas tersebut. Tidak jauh berbeda jika kita memilih sebuah hotel berbintang, ada harga lebih yang harus dibayar atas fasilitas yang diharapkan.

Sebagai pembanding saja, di rumah sakit tempat om saya dirawat kenas cas Rp 450.000,00 per malam, untuk pukul 00:00 perhitungan biayanya. Harga yang tak jauh berbeda untuk hotel berbintang, minimal bintang tiga. Ya inilah yang saya bilang ada kesamaan antara rumah sakit dan hotel, yang membedakan ya tadi perasaan si empunya sewa di ruang perawatan rumah sakit atau di kamar hotel tersebut.

Saya pun merasakan demikian, di ruang perawatan VIP rumah sakit ini relatif nyaman, ya tak berbeda dengan hotel. Hanya saja, untuk tempat tidurnya bukan spring bed layaknya tempat tidur hotel, tetapi tempat tidur dorong (mekanik). Ya setidaknya ruang perawatan VIP ini jadi tempat inap sementara kami yang menunggui pasien yang sakit yakni om saya. Keluarga bisa berkumpul di sini, di tempat yang nyaman bak hotel, meski ras yang kami rasakan di sini berbeda jika kami menginap di sebuah hotel. Tapi tak apalah, kebersamaan berkumpul bersama keluarga itu yang tidak jauh berbeda jika kita bermalam di hotel bersama keluarga.

Nah jadi sekarang, pilih mana, mau menginap di rumah sakit atau di hotel? ha3x … Pertanyaan bodoh kayanya. Jelaslah kita akan memilih hotel untuk menginap, daripada rumah sakit yang mempunyai fasilitas bak hotel. Karena harga sebuah ketenangan dan, kesehatan mahal harganya. Jadi kalau sekarang baru hanya mampu menikmati suasana hotel ala rumah sakit, ya harap maklum, karena nanti suatu ketika bermalam di hotel berbintang tak lagi malu atau minder. (^_^)?

Senin, 20 Mei 2013

Semoga My Uncle Lekas Sembuh

Akhirnya setelah perjalanan 4 jam dengan kereta, saya sampai juga di kampung halaman. Sebelumnya saya sempat posting ketika saya masih di stasiun, dan sekarang saya sudah sampai, namun ada sesuatu yang membuat saya sedih. Niat bertemu dan berkumpul keluarga dengan suasana yang baik-baik saja berubah jadi lain. Musibah selalu datang di saat yang tidak kita duga. Meski selalu ada tanda yang mendandai, namun karena kita kurang peka sehingga membuat hal ini semua terjadi tiba-tiba.

Tujuan pulkam saya kali ini memang ingin bertemu om saya, om yang paling dekat (adik bungsu dari ayah). Namun ternyata, belum sampai rumah, saya sudah diberi kabar yang kurang mengenakan. Om saya itu mengalami gangguan kesehatan, dia mengalami serangan stroke.

Saya kaget ketika mendengar itu. Ketika itu ayah saya sedang bersama saya, dia menjemput saya ke stasiun. Ibu dan om saya di rumah. Sore itu om saya sedang asyik memperbaiki peralatan elektronik yang rusak di rumah. Itulah hobinya dan sekaligus keahliannya. Sejak kedatangannya Jumat 17/5 lalu, dia terlihat sibuk, memang seperti biasa ketika dia main ke rumah, selalu membereskan sesuatu yang tidak beres.

Mungkin karena faktor kelelahan  membuat tensi darah naik tinggi. Dia pusing hebat, dan akhirnya membuatnya hilang kesadaran, ketika itu kondisinya sudah seperti orang stroke. Saat itu ibu saya sendirian di rumah, dan harus mencari bantuan tetangga untuk membawa om saya ke rumah sakit terdekat. Saya sempat berbapapasan dengan mereka. Setelah saya sampai rumah saya langsung menyusul ke rumah sakit.

Ketika saya lihat dia, cukup parah memang kondisinya, stroke yang menyerangnya membuat sebagian tubuhnya tidak bisa berfungsi normal. Untuk berbicara dan bergerak saja sulit. Akhirnya dr. menyarankan untuk ct-scan, karena kondisi om ku saat itu muntah dan mengeluhkan pusing. Hasil tes tensi darah cukup tinggi, mencapai angka 195, katanya normalnya itu 120-125. Say cukup buta dengan angka itu, tetapi yang saya tahu hanya itu berbahaya.

Hasil ct-scan akhirnya keluar dan ternyata tensi darah yang tinggi itu membuat pembuluh darah di kepala nya pecah, dan kondisinya seperti sekarang yang terjadi. Sedih sekali saya melihat dia. Dia yang biasanya bersemangat, senang bercanda ketika bertemu ponakannya jadi berbeda. Saya sedih sangat, air mata ini jadi tak sengaja ya keluar begitu saja, namun saya coba tahan. Y bagaimana tidak sedih, niat pulang bisa berkumpul bersama, bercanda bersama jadi seperti ini.

Malam ini, dia masih berada di ruang observasi ICU. Saya berharap kondisinya lekas membaik, sehingga kita akan pelan-pelan untuk menyembuhkan strokenya itu, meski tidak sempurna namun keberadaan dia di tengah kami sangat penting. Siapa pun tidak mau kehilangan orang yang disayang bukan? Kondisi ini membuat situasinya jadi 50:50, meskipun om saya masih dalam kondisi sadar, ya palinng tidak masih bisa diajak komunikasi dengan segala keterbatasannya, kita yang menanggapinya pun mesti sabar mengetahui maksud dari ucapan dan gestur tubuhnya. Yang jelas, sakit yang dia rasakan tidak bisa dibohongi.

Saya berharap om saya bisa kembali berkumpul di tengah kami. Dia yang memang paling perhatian pada kami ponakannya, jujur saya sangat sedih melihatnya seperti ini. Tuhan, bantu om ku untuk sembuh, saya percaya Tuhan sayang. Tuhan tahu betapa baiknya dia bagi kami, Tuhan menolong kami melaluinya, Tuhan sentuh om saya agar dia bisa sehat dan bisa melihat kami ponakan-ponakannya berhasil. Tuhan, kabulkanlah doa kami yang menyanganginya. Gbu.

Trip Pulkam Mei 2013

Akhirnya setelah sekian lama, saya bisa trip dengan sepur lagi hari ini. Soalnya beberapa bulan lalu ketika trip ‘pulkam’, moda transportasi travel yang saya pilih, karena kepraktisan dan ada dana lebih. ha3x. Berhubung bulan ini sedang dalam masa keterbatasan, trip dengan sepur jadi pilihan, alasannya lebih murah. Sebenarnya sih kalau dibandingkan enak menggunakan sepur, soalnya banyak sesuatu yang bisa diamati, kesempatan untuk bersosialisasi jadi lebih luas. Kalau menggunakan travel itu  waktu kita hanya untuk duduk dan tidur, paling ya ngobrol dengan teman sekursi.

Trip kali ini melelahkan, ya wajar karena selama ini saya sangat jarang menggunakan angkutan umum di ibukota. Rasanya macam ‘nano-nano’, ramai rasanya. Ada panas, sumpek, belum lagi was-was copet, plus capek itu semua jadi teman perjalanan. Yang jadi catatan si soal panas dan capeknya ini. Biasa saya naik motor ke tempat tujuan tak perlu menunggu, tinggal tancap gas, masalahnya ya paling macet dan panas. Kalau sekarang, sebelum berangkat saja saya sudah berolahraga, jalan kaki euy, ya lumayan 700 meter lah dari kosan Yulimar menuju jalan utama Margonda. Dari jalan utama mesti nyebrang lagi ke arah Stasiun Pondok Cina. Moda angkutan KRL comuter jadi piihan karena alasan efisiensi waktu dan kenyamanan, meski tidak terlalu nyaman juga. Soalnya yang saya tahu hanya dengan angkutan itu. Kalau soal cost nya sih ya relatif mahal, tiket comuter aja Rp 8.000,00, belum lagi angkutan dari stasiun transit ke stasiun keberangkatan.

Sejak ada peraturan baru comuter tidak berhenti di Stasiun Gambir cukup merepotkan. Karena kalau mau trip ke Jawa  dari Depok, moda transportasi yang strategis ya comuter. Sejak tidak boleh turun di Gambir, otomatis pilihan turun ya di Stasiun Gondangdia sebelum Gambir dan Stasiun Juanda setelah Gambir. Dari situ ya terpaksa harus melanjutkan dengan angkutan yang lain entah bisa bajaj, kopaja atau ojek. Kalau saya tadi itu dari Gondangdia terpaksa naik ojek, ya Rp 10.000,00 harus saya keluarkan, awalnya ojeknya minta bayaran lebih, tapi akhirnya ketemu diangka itu, karena saya tak mau ribet lagi menawar, karena saya sudah gerah sekali. Ya inilah yang membuat saya tak terlalu suka menggunakan angkutan umum di ibukota, karena untuk perjalanan tertentu saja banyak biaya yang harus dikeluarkan dan gerahnya, kesulitan dapat angin sih.

Awalnya memang saya inginnya sih naik motor saja ke Gambir, lalu motor saya dititipkan di sana. Namun takutnya saya terlalu lama di kampung halaman akhirnya niat itu saya urungkan. Faktor keamanan juga jadi pertimbangan saya.

Akhirnya saya sampai juga ke Gambir. Sampai stasiun langsung menuju loket tiket. Awal-awal cukup was-was soal harga tiket, berapa ya? Maklum saya sudah lama juga tidak naik sepur. Mengingat selama ini tiket kereta terkadang harganya sulit diprediksi, kadang mahal sekali, kadang ya biasa aja. ha3x … Tanya di loket, “Tiket untuk Cireks tujuan Cirebon, berapa?” Jawab si mba petugas karcisnya, “Rp 75.000,00 berangkat jam 13:30.” Saat itu pula legah rasanya, budgetnya masih sisa, lumayan lah buat ongkos ngangkot di kampung halaman. Akhirnya bayar dan duduk deh di ruang tunggu, soalnya masih 1,5 jam lagi.

Owh iya, ada catatan saya kali ini. Untuk setiap perjalanan dengan menggunakan kereta api ini, pihak KAI sudah menerapkan displin berangkutan. Dari soal membeli tiket untuk keberangkatan langsung saja, kita calon penumpang harus menunjukan KTP. Kemudian untuk masuk ke loket juga sama menunjukan KTP. Memang lebih ribet, ya tapi inilah cara KAI untuk meminimalisir calo tiket.

Waktu keberangkatan masih lama, jadi ya saya mengeluarkan Lenov dan buat postingan ini, sekalian mengisi waktu luang lah. Sekian dulu lah share saya, lanjut lagi nanti setelah saya sampai kampung halaman, “kota udang”. Bye. (^_^)?

Kamis, 16 Mei 2013

My Work Table

Ah menyebalkan sekali, perasaan saya sudah buat postingan tentang hal ini kemarin, ketika saya menceritakan bahwa saya sekarang sudah punya meja kerja, up's meja belajar tepatnya. Saya biasa membuatnya di ScribeFire, cuma karena saya lupa dengan versi ScribeFire yang saya gunakan ini berbeda dengan yang saya gunakan dulu di Firefox. Jadi draft postingan yang sudah saya buat kalau ditutup dengan draf postingan baru, yang lama akan hilang dengan sendirinya, kecuali apabila postingan yang masih berupa draf itu di simpan terlebih dahulu.

My work table ;p
Saya mau share, kalau saya sekarang sudah punya meja kerja/ meja belajar. Memang saya sudah punya fasilitas ini di kamar sewa, cuma ya tidak terpakai maksimal sebagaimana fungsinya, karena tidak ada kursi. Kemarin saya coba mengusahakan kursi agar meja belajar ini bisa dipakai. Sekarang saya dapat menggunakan meja ini sebagaimana mestinya. Sebelumnya meja ini hanya untuk menyimpan sesuatu, ya yang jelas tidak maksimal penggunaannya.
Di meja saya ini saya simpan megicome, dvd player ( yang tak pernah bisa dipakai untuk memutar film, hanya bisa memutar musik saja). Di bagian atas saya simpan perlengkapan pribadi saya, seperti body spray, bedak, roll-on, kaca, pengharum pakaian. Di meja itu saya juga simpan rill pancing kesayangan saya, saya juga simpan beberapa buku di pojok kiri, ada juga botol celengan yang tak kunjung penuh (karena setiap akhir bulan selalu diambil untuk tambah-tambah uang makan). Ada juga dua ban dalam cadangan, untuk jaga-jaga kalau ban bocor disaat dompet lagi tipis. Ya begitulah isi dari meja yang saya miliki sekarang. Ke depannya meja ini akan saya gunakan untuk melakukan aktivitas kerja.
Sebelumnya saya memanfaatkan meja lesehan saja, tapi lama-kelamaan capek juga pantat dan punggung saya, jika duduk depan Lenov berjam-jam. Ya memang yang ideal kalau berkativitas itu duduk di kursi dan bermeja. Itu sebabnya kenapa di kantor-kantor selalu disediakan meja dan kursi untuk aktivitas karyawannya. Bayangkan apabila tidak ada meja dan kursi, karyawan kantor melakukan aktivitas lesehan di lantai ... #lucukaliya
Oh iy, cukup sekian share saya ini. Sekali lagi penting tidaknya catatan ini ya kembali ke urusan saya, toh ini catatan saya, saya mau simpan apa ya suka-suka saya. Toh tempat dimana sekarang saya tinggal ini bukan untuk selamanya. Jadi jika sudah tak lagi jadi tempat tingga saya, saya punya kenangan di sini, dan catatan ini bisa jadi sarana saya nostalgia ... ;o Tentunya begitu ;p (^_^)?

Selasa, 14 Mei 2013

Corat-coret: Buntu ;(

Sudah tiga hari ini saya punya masalah dengan ide. Tidak tahu, kenapa ketika sudah di depan Lenov, langsung ‘ngeblank’, bingung mau ngapain. Kewajiban awal si saya tahu, tapi setelah itu mau buat apa bingung. Apa karena posisi duduknya yang ga PeWe ya? Tidak tahu lah.

Ada banyak yang ingin saya buat, tetapi ketika menuangkan langsung itu hilang semua. Konsepnya muncul ketika saya mandi, atau sedang berkendara, saat tiba waktunya di depan Lenov, konsepnya hilang. Kadang setelah mandi atau setelah berkendara, langsung tuh lupa gitu saja, jadi ya begini ini, mau buat apa tidak tahu. Daripada kosong, ya saya buat catatan ini, siapa tau ini buat pancingan. (*_*)?

Minggu, 12 Mei 2013

Kenali Blogging Saat Masih Sekolah

Blogging buat saya masih jadi aktivitas yang menyenangkan, karena  anggap sebagai hobi, mengisi waktu luang, daripada melamun, blog bisa jadi wadah lamunan kita. Cuma, saya menyesal baru mengenal aktivitas mengasyikan ini ketika saya di bangku kuliah.

Coba saya mulai mengenal sejak saya sekolah dasar, mungkin sudah banyak sesuatu yang saya peroleh, banyak hal yang bisa kita peroleh dari aktivitas ini. Yang utama adalah pengetahuan yang banyak tersedia di internet, kemudian kemampuan kita menulis atau mengungkapkan sesuatu bisa terus diasah, kemampuan memahami sesuatu dengan membaca pun jadi lebih baik. Waktu sekolah jadi tidak hanya diisi dengan kegiatan yang hubungannya dengan akademik, tetapi ada juga refresing yang menarik dari internet.

Mungkin jaman saya dulu, internet jadi sesuatu yang mahal. Bahkan untuk perangkat komputer, harganya sangatlah mahal. Mungkin jika jaman dulu seperti sekarang lain cerita. Ke depannya, saya mencoba mengenalkan hobi yang satu ini ke anak-anak yang masih sekolah, paling tidak ada hal positif yang bisa mereka kerjakan daripada nongkrong, gank motor, tawuran atau main game online yang sifat candunya sangat amat tinggi. Efek blogging lebih banyak nilai positifnya.

Jadi apa salahnya mengenal blogging dari usia belia. Toh sudah banyak blogging muda yang sukses dengan bloggingnya di usia yang masih muda. Menarik bukan ;) Mari!

Sabtu, 11 Mei 2013

Corat-coret: Sesuatu Itu Kalau Melihat Saldo ATM Menipis

Pagi ini nampak begitu cerahnya. Tapi ketika melihat tanggalan, ini tanggal 11 #pusing menyerang ;( Why? Because hari ini adalah tanggal JT pembayaran tagihan 'sewa tinggal'. Oh my God (*_*)? Mau ga mau sebagai 'warga tinggal' yang baik kewajiban ini harus diselesaikan, tidak boleh lewat. #pusing karena bulan ini dan bulan lalu kondisi keuangan saya memang tidaklah baik, ya nampaknya benar-benar 'terseok-seok'.

ATM jadi solusi untuk masalah ini. Namun apa boleh buat, prinsip pegadaian tak berlaku di sini, "menyelesaikan masalah tanpa masalah". Melihat saldo di ATM semakin menipis, tambah #lieur ini kepala, apa yang terjadi jika dalam waktu ini dikuras sejumlah angka tertentu, bisa dibayangkan berapa sisa saldonya ... ;( Masalah bayar 'sewa tinggal' bisa terselesaikan, tetapi permasalahan di depan mata menanti. Yups, mau tak mau harus dihadapi. Memang, sesuatu ketika melihat saldo ATM tidak sesuai yang diharapkan, ketika pemasukan sudah sulit diperoleh. I hope better future ;)

Kamis, 09 Mei 2013

Menghargai Waktu

Ada sebuah slogan, “waktu adalah uang, time is money”. Mungkin ada benarnya slogan itu, terutama bagi pebisnis, atau juga bagi kita awam yang melakukan aktivitas seperti biasa. Waktu sangat berharga karena kita tidak dapat mengulang waktu yang sudah terlewat. Di dunia nyata seperti sekarang ini tidak ada “mesin waktu” seperti cerita “Doraemon” atau “Teko Ajaib” yang bisa memaninkan waktu sesuka hati dan kebutuhan.
Saya sih bukan mau membahas sekelumit soal itu. Saya hanya ingin membuat tulisan ini karena kegelisahan, kekesalan terhadap mereka yang tidak bisa menghargai waktu. Jujur si, saya sangat amat membenci hal tersebut, menyepelekan waktu itu sunggu sebuah tindakan yang sangat menyebalkan, itu menurut saya, entah bagi yang berpandangan lain. Tidak masalah ketika waktu dipermainkan jika tidak ada orang yang dirugikan, alias hanya merugikan diri sendiri. Memang saya juga bukan orang yang sempurna menghargai waktu, namun berusaha melakukan yang terbaik masih lebih baik.

Hari ini, ya seperti biasa, melihat teman yang terbiasa bermain-main dengan waktu. Yang pertama jelas, saya salut, hebat dan bisa mempermainkan waktu, segala sesuatu dilakukan dengan mepet. Biasanya sih yang dibutuhkan orang semacam ini adalah keberuntungan, selama keberuntungan selalu berpihak terhadapnya, bermain-main dengan waktu itu akan sangat menyenangkan, mungkin lebih seru dibandingkan dengan naik roller coaster.
Teman saya punya rencana travelling, jauh-jauh hari semuanya sudah dipersiapkan matang, dari akomodasi berangkat hingga pulang, akomadasi di tempat tujuan pun dipersiapkan dengan cukup baik berikut tempat tujuan yang akan dikunjungi. Semua itu sudah tercatat sesuai jadwal, dan ada jam (waktu)-nya. Buat saya, yang terpenting adalah keberangkatan, kenapa, karena kita berangkat dengan transportasi umum, yakni kereta, dimana kereta sudah punya jadwal tertentu, yang apabila kita melewatkannya, kita akan tertinggal kereta. Jelas hal ini seharusnya jadi peringatan serius bagi yang mau melakukan perjalanan.
Jadwal keberangkatan kereta pukul 11.30 siang. Ya seperti biasa, kebiasaan yang sangat menyenangkan buat teman saya itu, selalu mepet dalam segala hal. Waktu luang ada sedari pagi, meski pagi hari sempat diisi dengan aktivitas ibadah. Tapi jelas ada waktu sisa banyak. Kalau alasannya packing, pertanyaannya, “Kenapa tidak dipersiapkan tadi malam?” Jadi pagi hari sudah tinggal finishing, dan jam 09.00 pagi sudah siap, tinggal mengingatkan hal-hal lain. Kenyataannya yang teman saya lakukan ini lain. Entah tidak tahu jadwal keberangkatan kereta atau apa, baru berangkat jam 10.00, mending itu langsung sampai stasiun keberangkatan. Ternyata jam 10.00 baru berangkat ke stasiun komuter untuk menuju stasiun keberangkatan. Lanjut lagi di stasiun komuter masih menunggu rekan, akhirnya sampai jam 11.00 lewat, masih stug menunggu teman. Entahlah, apa bisa dapat kereta yang 11.30 sesuai yang dijadwalkan? Tiket dll sudah dibeli, lalu bagaimana bila tertinggal? Cuma keberuntungan yang bisa menemaninya untuk menghindarkan dirinya dari kerugian.
Saya berharap, semua yang terbaik, yang penting adalah pelajaran, biar KAPOK. Malah lebih baik adalah benar-benar tertinggal kereta, karena penyesalan itu tamparan yang cukup berharga dibandingkan diingatkan orang lain. Kerugian tiket yang sudah dibeli dengan harga yang jauh dari harga normal untuk tiket kereta ekonomi. Atau bila memang keberuntungan berpihak, semoga masih bisa berpikir hal tersebut jadi pelajaran

Masih banyak hal lain yang sering saya alami, berkaitan dengan waktu ini. Hal lain yang tidak saya suka adalah statement “anda yang butuh saya, jadi ketika anda menunggu saya, itu adalah hal yang wajar”. Ini sering sekali dialami saya dan mungkin banyak orang, ketika kita tidak punya posisi tawar.
Pernah melamar pekerjaan, atau interview atau psikotes dll. Biasanya selalu ada jadwal yang diberikan. Nah kebanyakan pihak si penawar kerja atau perusahaan ini seenak-enaknya saja mengulur waktu, entah apa itu alasannya. Contoh yang sering terjadi, jadwalnya itu jam 10.00, tetapi waktu pelaksanaan itu molor 1-2 jam dari waktu yang ditentukan. Pihak pelamar dalam hal ini tidak bisa protes, karena berada di posisi yang lemah, karena jika “melawan”, statement yang diatas tadi yang akan keluar (“anda yang butuh saya, jadi ketika anda menunggu saya, itu adalah hal yang wajar”). Jujur saya tidak suka dengan cara ini, tapi apa boleh buat.
Catatan penting buat saya, ketika saya ada di posisi mereka (pemberi kesempatan kerja), saya harus berusaha komitmen dengan waktu. Bukan apa-apa, mereka mencari orang yang disiplin, tapi mereka sendiri tidak disiplin, dan ketika menemukan orang yang tidak disiplin mereka dengan seenaknya “mencoret” atau mendiskualifikasinya. Keadilan itu harus dijunjung, ingin rasanya menampar orang yang melakukan hal itu dengan jam dinding ukuran besar, “BIGBBEN”, supaya KAPOK. Kebanyakan departemen human recources melakukan hal ini. Entah apa yang mereka cari? Kembali, kita sebagai pelamar harus kembali mengalah.

Masih banyak contoh-contoh lain dalam kehidupan sehari-hari orang-orang yang tidak menghargai waktu. Dan mereka semua itu nyaman karena keberuntungan selalu bersama mereka, sehingga apa yang mereka lakukan seakan-akan jadi aktivitas legal, padahal ada banyak yang dirugikan akibat perilaku mereka. Sedangkan mereka yang patuh, disiplin dengan waktu selalu jadi pihak yang dirugikan, jarang sekali yang ditemani keberuntungan. Bagaimana membuat mereka KAPOK?

Senin, 06 Mei 2013

Maag Menyerang, di Saat Telat Makan

Sakit maag memang tidak enak, sengsara. Namun bagi yang terbiasa telat makan, maag sudah jadi langganan menyerang. Apalagi kalau sudah ditambah masuk angin, wah terasa tidak enak sekali. Kondisi badan bisa terasa drop, nafas jadi terengal-engal padahal tidak melakukan aktivitas berat, keringat dingin keluar, belum lagi tekanan  di bagian perut hingga ulu hati.

Malam ini saya mengalaminya. Memang saya akui saya telat makan, hari ini saya baru mengisi perut satu kali, yaitu pagi hari, sore yang harusnya saya sudah isi asupan makanan saya memilih menundanya, sampai akhirnya angit keburu mengisi rongga perut, ditambah asam lambung naik. Kesalahan terbesar saya adalah mengisi perut dengan minuman asam.

Sebagai pengisi perut untuk makan malam, saya memilih menu yang salah. Tidak salah sih untuk menu makannya, yang salah adalah saya pilih minumannya. Jeruk panas saya minum terlebih dahulu di kondisi perut yang kosong, seharusnya saya minum jeruk panas itu setelah saya selesai makan, jadi lambung sudah ada alasnya. Saya buru-buru ingin minum jeruk panas karena untuk mengobati sariawan saya yang belum juga sembuh.

Sekarang setelah saya makan, sakitnya masih menyerang, badan terasa lemas, dan ingin sekali rebahan. Minyak angin jadi teman untuk memindai nyeri yang ada di perut bagian bawah dada. Saya usapkan minyak angin di bagian itu untuk memindai nyeri yang saya alami ini. Semoga lekas reda serangan perut ini. Mudah-mudahan malam ini juga lebih sejuk dari malam kemarin, repot bila tidur tak nyenyak di kondisi seperti ini. (*_*)?

Senin yang Crowded, "Katakan Selamat Tinggal untuk Mobil"

Pagi ini sangat terasa terik,  meski angin pagi berhembus membawa dinginnya pagi, namun semua itu tidak ada artinya ketika aktivitas Senin yang padat dimulai di jalanan. Pagi ini siswa sekolah dasar giliran untuk merasakan UN, namun situasi berbeda dari ketika UN SMA/SMK dan UN SMP yang hari pertama lalu lintas relatif lancar. Pagi ini lalu lintas sangat amat macet.

Pagi ini saya beraktivitas seperti biasa, start dari Margonda menuju Pos Pengumben, Jakarta Barat. Macet sudah jadi pembuka di jalan Margonda, lanjut ke ruas jalan depan Universitas Pancasila, lanjut ke Tj. Barat, TB. Simatupang, sampai ke perempatan Ragunan. Menurut pengamatan saya, kepadatan disebabkan karena volume kendaraan meningkat.  Pandangan subjektif saya kemacetan ini karena banyak beredarnya mobil pribadi. Mobil pribadi ini membuat kondisi jalanan menjadi tidak liquid. Pengguna sepeda motor pun relatif cukup banyak beredar di jalanan, sebagai kendaraan alternatif pemecah kemacetan.

Lanjut ke ruas Pejaten arah Kemang, di sana juga terjadi kepadatan, meski tidak terlalu parah. Lanjut ke arah Prapanca-Antasari juga masih relatif lancar, lanjut ke Abdul Majid masih lancar sampai ketemu ruas Fatmawati. Ruas Fatmawati ini memang selalu ramai setiap harinya, kecuali Sabtu yang relatif lancar. Lanjut ke H. Nawi ruas ini juga dianggap masih lancar, sampai akhirnya tembus ke ruas Radio Dalam yang cukup ramai, dan relatif padat.

Lanjut ke ruas yang cukup padat adalah ketika masuk ke ruas jalan depan Mall Gandaria City. Di situ kemacetan sudah terasa selepas underpas Gandaria City. Lanjut ke kolong flyover Cipulir di sana kemacetan cukup terasa, karena ulah angkutan kota kopaja yang bermanuver sembarangan di kolong flyover Cipulir serta sambil 'ngetem' menunggu penumpang. Lanjut ke arah underpas Kebayoran Lama kendaraan terlihat antre memasuki underpas, lanjut ke ruas Simprug di sana pun sama, padat. Sampai di flyover Permata Hijau, juga terasa kemacetan karena antrian mengular kendaraan yang akan berbelok ke arah Pejompongan/ Slipi. Selepas putaran arah Pejompongan/ Slipi, di lampu merah Permata Hijau pun terpantau padat, tampak ruwet karena volume kendaraan meningkat dan terjebak di kondisi lampu merah.

Macet juga sudah mulai terasa di ruas jalan depan Bellezza, lanjut ke lampu merah Kebayoran Lama, dekat Rumah Sakit Medika, di sana kondisi lalu lintas kacau balau, kendaraan jadi seperti terkunci tak bisa maju dan mundur, akhirnya antrian panjang mengular. Hampir dari semua ruas volume kendaraan terhenti di perempatan itu. Kacau balau kondisi pagi ini di sana. Saya akhirnya mengalihkan laju ke arah H. Soleh, di sana cukup lancar, dan banyak biker yang memilih jalan ini untuk menghindari macet, bahkan dari arah sebaliknya banyak biker yang menggunakan jalan ini. Hal ini jadi indikator bahwa ruas jalan sebaliknya mengalami kemacetan, sampai para biker mencari jalur alternatif. Sampai di Pos Pengumben, kondisi lalinnya kacau balau di setiap lampu merah. Begitupun arah sebaliknya ketika saya kembali arah pulang dengan jalur yang sama.

Badan oenuh dengan keringat, luar biasa panas cuaca pagi ini ditambah kondisi lalin yang kacau balau. Sepertinya harus ada pembatasan penggunaan mobil, itu pendapat subjektif saya, karena mobil ini banyak membuat masalah karena ukurannya yang banyak menghabiskan badan jalan. Ditambah lagi sikap egois pengguna mobil, hanya mengangkut satu orang saja mobil bebas melintas jalanan, sedangkan kondisi jalanan cukup padat. Bandingkan apabila semua pengguna jalan yang menggunakan mobil beralih ke sepeda motor, dijamin tidak akan ada macet sampai 'terkunci' di sebuah perempatan. Karena sepeda motor akan mudah diatur ketika mengalami simpul kemacetan. Jadi sudahlah, katakan cukup gunakan mobil di weekday. Ada baiknya mobil digunakan untuk weekend saja, sekaligus dalam rangka penghematan konsumsi BBM, karena jelas mobil akan lebih boros dibandingkan dengan sepeda motor. Kampanye gunakan motor atau sepeda untuk aktivitas weekday!!!

Happy Birthday M e m e y ;)

Hari ini jadi hari istimewa bagi M e m e y, karena hari ini dia berulang tahun. Umurnya kini menginjak angka 27, sebuah angka yang menunjukan proses kedewasaan. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, waktu setahun yang lalu ketika angkanya masih 26, dan kini sudah berlalu dan menginjak angka ‘dua puluh tujuh’.

Tahun lalu perayaan ulang tahun dirayakan bersama D i a n a yang kebetulan masih bertugas di Jakarta saat itu. Saya dan D i a n a membelii sesuatu untuk merayakan hari istimewa M e m e y, sebuah cake ukuran sedang, dan sebuah bingkisan yang sebagai kado ultah ke-26.

Berbeda di tahun ini, kurang ada yang spesial. Perayaan yang diharapkannya di kantornya pun tidak ada. Teman satu tim yang biasa memperhatikan momen-momen seperti hari ulang tahun sudah tidak ada lagi, jadi suasananya tak berbeda dengan hari biasa, nothing surprise. Hanya ada sebuah cake sederhana dari teman-teman yang masih peduli dengan momen ini, mereka adalah Y a n c e dan K a t i n a.

Saya sendiri juga belum bisa memberikan yang istimewa, sebuah pemberian yang sepertinya sudah sederhana, kurang pula ;( masa give cake without candle (^_*)? Kondisi saya memang sedang tidak ‘bagus’.

Saya harap bukan soal pemberian yang diharapkan, berkah, rejeki, kesehatan dan peluk hangat keluarga yang terpenting. Syukur atas apa yang telah diperoleh setahun ini adalah berkah yang luar biasa. Doa dan harapan untuk tahun ke depan jelas akan mengiringi satu tahun ke depan. Harapan untuk selalu mendapat yang terbaik di segala aktivitasnya, kesehatan, rejeki dan kehangatan keluarga. Goodluck always ;) Tuhan sertamu selalu. GBU. Happy birthday M e m e y ;)

Minggu, 05 Mei 2013

Corat-Coret: Beberapa Hari di Awal Mei 2013 "Panas"

Awal Mei 2013 ini hawanya semakin panas saja, tidak pagi, siang, malam. Memang sih sebelumnya sempat hujan lebat juga, sampai ada daerah yang kebanjiran karena tanggul yang jebol. Tapi mulai Jumat, 3 Mei - 5 Mei ini pagi hingga siang panas sekali.

Jumat, dari pagi hingga siang, sore sampai malam juga termasuk panas. Hawanya itu lho yang membuat gerah. Bahkan habis mandi saja buat badan tetap berkeringat terutama saat di ruangan, kalau di luar masih lebih baik karena masih kemungkinan dapat hembusan angin.

Kemudian lanjut Sabtu, hal serupa juga terjadi seperti hari Jumat, bahkan sampai tengah malam masih saja terasa panas, bahkan untuk tidur saja harus melepaskan baju agar lebih adem. Sampai jendela kamar juga harus dibuka agar mendapat angin. Lanjut ke Minggu pagi juga panas sekali, sampai saya buat postingan ini saya setelah selesai mandi masih saja berkeringat. Mudah-mudahan nanti sore cuaca lebih sejuk, paling tidak ada hujan lah, biar sedikit segar. I need water from rain ;)