Tampilkan postingan dengan label Jalan-jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalan-jalan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Juli 2013

Penertiban PKL Harus Dilakukan Sejak Dini

Pedagang kaki lima (PKL) selalu jadi musuh pemerintah daerah, selama ini begitulah yang terjadi. PKL dan pemerintah daerah tidak pernah bisa sinkron dan bekerja sama dengan baik. Kenapa? Kalau saya menilai karena sudah sejak awalnya hubungan mereka dimulai dari kemasabodohan. PKL memang akar ekonomi masyarakat kecil, mereka ini ibarat rumput liar yang muncul diantara ladang-ladang petani. Rumput-rumput liar ini dianggap mengganggu petani, tapi terkadang rumput-rumput liar yang ada bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak. Intinya menyikapi masalah ini adalah tinggal bagaimana mengelolanya saja.

Saya punya pengamatan tersendiri melihat PKL ini. PKL bisa dikatakan pedagang-pedagang liar yang memanfaatkan tempat seadanya untuk berjualan, PKL ini memanfaatkan peluang yang ada, meski peluang itu melanggar aturan (Perda) yang ada. Sekarang kembali ke pemerintah daerah untuk setiap saat melakukan fungsinya memonitoring perda yang ada apakah berjalan dengan baik atau tidak. Penindakannya bagaimana? Tegas atau tebang pilih? Kalau perda yang ada dijalankan dan sanksi tegas diberikan, maka ini akan menjadi alat untuk manajemen kelola yang baik. Kemudian, selama ini pemerintah daerah hanya mengatur PKL tetapi tidak pernah mengatur si pembeli. Karena PKL itu ada sebenarnya mengikuti pembeli, jika suatu tempat sepi dan tidak ada pembeli, PKL tidak akan menjamur di sana. Tapi jika tempat itu ramai pasti PKL akan menjamur dengan cepat. Sekarang, bisakah pemerintah daerah mengatur pembeli untuk juga tertib?

Saya mengamati dari suatu kota yang sedang berkembang. Biasanya diawali dari sebuah kota yang sepi, baru lama-kelamaan  tumbuh menjadi kota yang ramai. Nah ketika kota itu masih sepi, pemerintah daerah harusnya sudah melakukan perecanaan matang, mana saja tempat yang boleh dan layak untuk menjadi tempat berusaha, untuk kalangan rakyat kecil, menengah atau atas. Semua itu harusnya sudah diperhatikan pemerintah daerahsetempat dengan bekal perda yang mereka miliki.

Saya mengamati kota dimana saya dilahirkan, yaitu Kota Cirebon. Terutama di wilayah kecamatan dimana saya tinggal yaitu Kecamatan Harjamukti. Dulu sekali di tahun 1990 daerah dimana saya tinggal sangatlah sepi, tidak banyak warung atau pertokoan atau pedagang kaki lima yang ada di pinggir jalan. Bahkan untuk mencari makanan di warung pinggiran jalan harus pergi ke arah kota, sebagai pusat keramaian kota Cirebon saat itu. Namun seiring perjalanan waktu Kota Cirebon bergeliat dengan pembangunan perumahan terutama di wilayah Kecamatan Harjamukti. Sekarang di tahun 2013, saya amati mulai batas perumnas gunung, yaitu ujung Jalan Ciremai Raya di perempatan By Pass sampai masuk ke arah komplek perumahan Kalijaga kini sudah ramai komplek pertokoan dan warung-warung yang berada di kiri kanan jalan. Bahkan warga perum gunung kalau mau mencari kebutuhan sehari-hari sudah tak perlu lagi pergi jauh ke pusat keramaian kota. Di kiri kanan jalan sekarang sudah diisi pedagang-pedagang yang membuat warung. Pedagang-pedagang inilah yang akan jadi bibit PKL ke depannya, jika pemerintah daerah tidak mau konsentrasi menertibkan dan menatanya. Menertibkan dalam arti pemerintah daerah sudah harus mendata mereka, dan kumpulkan mereka ke dalam suatu kesepakatan, jika suatu saat pemerintah daerah menertibkan atau mengatur, mereka akan dengan sukarela melakukannya tanpa harus ada pemaksaan. Setiap tahun mereka harus diajukan nota kesepakatan yang harus mereka penuhi, karena mereka berdagang di lahan milik publik. Dan setiap enam bulan sekali pemerintah daerah harus mendata mereka secara rutin dan melakukan pembinaan. Dengan cara ini proses monitoring akan berjalan, dan PKL itu sudah sejak awal dididik untuk tertib. Hasil monitoring itu pun pemerintah bisa konsentrasi melindungi usaha PKL dari bentuk-bentuk pemerasan yang mengatasnamakan keamanan oleh preman-preman setempat.

Nah hasil pengamatan saya di area Kecamatan Harjamukti, hal tersebut di atas tidak dilakukan. Pemerintah daerah seakan-akan malas dan menutup mata, dan nanti baru membuka mata ketika sudah ada masalah. Inilah sifat-sifat birokrat yang ada sekarang. Tidak hanya terjadi di kota atau daerah-daerah kecil, tapi sudah sampai ke tataran ibukota, seperti yang dialami DKI Jakarta yang kini sedang berjuang menegakan aturan sebagaimana mestinya. Pemerintah daerah yang niat memperbaiki malah harus menanggung dosa pemerintahan periode-periode sebelumnya. Ya itulah yang terjadi sekarang.

PKL sebenarnya punya kecenderungan memanfaatkan celah kosong yang tidak diperhatikan pemerintah. Mereka sadar bahwa yang dilakukan itu melanggar aturan dan mengganggu kenyamanan publik, tetapi ketika dibenturkan kemata pencaharian mereka dan mereka sudah melakukannya bertahun-tahun mereka akan sulit melepaskan kesalahan mereka itu. Dan malah mereka akan membela diri mati-matian meski mereka melanggar, dan alasan yang diangkat adalah HAM. Meski pemerintah daerah sudah mencoba memindahkan mereka, tetap saja pasti akan ditolak karena alasan mereka sudah punya langganan, atau di tempat yang baru itu sepi, di tempat yang baru tidak layak dan alasan-alasan lain yang membenarkan apa yang mereka lakukan. Hal inilah yang terjadi di DKI Jakarta. Jokowi dan Ahok perlu kreatifitas ditingkat yang lebih tinggi lagi untuk menangani masalah ini. Tanggung jawab pemerintahan Jokowi adalah tetap menegakan perda yang ada dan mengakomodir semua kepentingan. Akhirnya hal yang tadinya mudah menjadi hal yang kompleks dan sulit dilakukan. Andaikan saja, sedari awal pemerintah daerah bertindak seperti yang saya maksudkan tadi di paragraf sebelumnya, pasti mengelola PKL akan lebih baik dan PKL akan jadi aset pemerintah daerah.

Kota Cirebon terutama di wilayah Kecamatan Harjamukti juga akan jadi biang masalah PKL seperti yang dialami DKI Jakarta jika dari sekarang pemerintah daerahnya tidak mau mulai bekerja dengan baik. Kota Cirebon ini punya potensi untuk berkembang menjadi kota yang maju, dan sebelum masa itu tiba proses demi proses awal ini harus dijalani dengan baik, bekerja dengan baik itu kuncinya.

Solusi pemerintah DKI Jakarta menurut saya, adalah mendata semua PKL yang ada, terutama di kawasan yang sedang dibenahi yaitu di Tanah Abang dan Pasar Minggu. Data semua PKL tersebut, bagi per KTP. Setelah data semua dimiliki itu jadi dasar penataan, dan inilah yang memang sedang dilakukan pemda DKI Jakarta. Seperti di Tanah Abang dan Pasar Minggu pun memang sebenarnya sudah disiapkan lokasi baru untuk PKL, namun kembali seperti alasan klasik PKL, karena kembali lagi mereka sudah mendarah daging di lokasi lama, jadi selalu sulit mencoba hal baru. Pemerintah DKI Jakarta juga harus mulai menertibkan pembeli-pembeli, pengguna jalan yang membeli barang dagangan PKL. Mereka calon pembeli dan pembali harus membeli di tempat yang disediakan, dengan alasan ketertiban umum. Dengan begini, pemerintah daerah bertindak mengatur semua pihak, jadi tidak ada ketimpangan, yang ini diatur sedangkan yang lain tidak. Mulailah dengan pemasangan baliho seruan kepada pembeli dan pedagang untuk berjualan dan membeli di tempat yang telah disediakan. Seruan ini dilakukan secara intens di seluruh wilayah, sekaligus menjadi pelajaran buat masyarakat untuk berlaku tertib.

Kemudian, momen lebaran tahun ini adalah momen yang tepat, yakni ketika lebaran, Jakarta akan ditinggalkan pendatang. Nah kebanyakan PKL ini adalah pendatang dari daerah, ketika mereka semua pulang, saatnya pemerintah daerah menertibkan. Lahan-lahan yang biasa digunakan untuk berjualan, ditutup dengan apalah itu yang membuat mereka ketika kembali ke lokasi mendapati kesulitan membuka lapaknya. Ketika nanti ada aksi perusakan terhadap fasilitas publik, pemerintah daerah dan pihak kepolisian tinggal menindak tegas pelaku. Cara ini dilakukan untuk mencegah dan menimbulkan efek jera. Kembali ke lahan publik adalah milik publik dan tidak bisa dikuasai segelintir orang. Saat lahan publik itu kosong atau bebas dari pedagang, pemerintah daerah tinggal membenahinya, dan situasi yang cocok adalah ketika Jakarta ditinggal semua pendatang yang hanya terjadi setahun sekali. Hasil pengamatan saya, ketika lebaran, Jakarta seperti kota sepi, dan inilah situasi Jakarta sebenarnya. Karena penduduk Jakarta kebanyakan ya pendatang dari daerah.

Saya sendiri mengalami dan merasakan cukup terganggu dengan PKL yang tidak tertib. Terutama di Tanah Abang, PKL di sana jadi biang kemacetan luar biasa setiap harinya, disamping itu juga ulah pembeli yang berhenti seenaknya, dan membeli di tempat yang tidak seharusnya, lalu ulah-ulah angkutan kota dan pemilik truk barang yang parkir bongkar muat seenaknya memakan badan jalan. Kemudian hal yang sama juga terjadi di Pasar Minggu. PKL ini sudah jadi sumber keruwetan, kemacetan dan kekotoran. Mereka tidak memperhatikan kebersihan sama sekali. Itulah yang menjadi sumber kekumuhan ibukota.

Semua pihak harus bekerja sama, baik masyarakat yang memanfaatkan jasa PKL, dan PKL itu sendiri yang mencari nafkah pun harus sadar bahwa kepentingan umum diatas segalanya. Masyarakat kita ini masih terlalu egois. Seharusnya ketika sudah hidup bermasyarakat, yang dinomorsatukan adalah kepentingan umum. Sehingga tidak ada lagi alasan yang mengatasnamakan kepentingan pribadi, bahkan untuk alasan HAM sekali pun. Penegak HAM pun harus berpikir hal yang sama, sehingga tidak mudah termakan alasan-alasan yang mengatasnamakan HAM.

Jadi buat daerah yang masih sedang mengalami proses perkembangan dan pertumbuhan, mulailah buka mata, karena permasalahan dikemudian hari haruslah dimulai diselesaikan dari sekarang, saat semuanya masih dini, karena semua perkara besar dimulai dari perkara kecil. Mau atau tidak tergantung semua pihak yang ada, pemerintah daerah, swasta dan masyarakatnya. Sudah banyak contohnya, dan janganlah jadi pemerintah daerah macam keledai yang senang jatuh di lubang yang sama berkali-kali. Saya berharap Kota Cirebon melalui pemerintah daerahnya mau membuka mata, tidak ada kata terlambat untuk berbenah, sekarang atau tidak sama sekali. Memang semuanya tidak mudah, tidak semudah yang diutarakan banyak pengamat, termasuk saya ini, tapi kalau sudah memilih sebagai pemimpin itulah tanggung jawab yang harus dilakukan. Semoga demikian (^_^)?

 

> Postingan ini juga diposting di Naturality dengan judul yang sama <

Kamis, 11 Juli 2013

Puasa Hari Pertama di Kota Cirebon

Akhirnya tiba juga bulan Ramadhan di tahun 2013 ini. Artinya sudah memasuki masa puasa buat saudara kita yang beragama Muslim. Mau diakui atau tidak, ketika sudah masuk kemasa puasa, ada perbedaan suasana antara hari-hari biasa dengan hari-hari selama bulan puasa. Suasananya selalu ada perbedaan, entah disadari atau tidak, tetapi saya merasakan demikian.

Pada bulan puasa di 2013 ini saya lebih banyak menghabiskan waktu di Kota Cirebon. Di hari pertama puasa, suasananya cukup lengang. Pagi ini saya kebetulan ada kegiatan keluar rumah, sekitar pukul setengah tujuh pagi. Jalanan di depan pasar Perumnas nampak lengang, sepertinya waktu lebih lambat satu jam, artinya suasana yang ada itu suasana sekitar jam setengah enam. Padahal hari biasa, jam segitu termasuk sudah siang, aktivitas masyarakat cukup ramai di depan pasar. Belum lagi ditambah aktivitas para pekerja yang mau berangkat bekerja. Memang kebetulan bulan puasa tahun ini anak-anak sekolah bertepatan dengan libur sekolah, jadi menambah suasana semakin lengang. Lanjut ke suasana siang hari, juga tidak jauh berbeda, suasannya tetap lengang, tidak banyak aktivitas. Ya seperti suasana di hari-hari tertentu, dimana lebih banyak masyarakat yang tidak keluar rumah. Tanda-tanda aktivitas sih tetap ada, namun tidak seramai daripada hari biasa.

Nah, yang membedakan dimasa puasa ini adalah suasana sore hari. Bila dihari-hari biasa ketika sore hari ya biasa saja, ramai suasana sore, tetapi di bulan puasa suasana sore nampak lebih riuh, jalanan lebih ramai. Karena pada sore hari banyak sekali pedagang-pedagang takjil yang menjual makanan untuk berbuka, belum lagi masyarakat yang menghabiskan waktu untuk menunggu berbuka, dikenal dengan ‘ngabuburit’. Suasana sore ini yang jadi unik yang membedakan dengan hari-hari biasa. Dari sisi ekonomi terlihat lebih menggeliat dibandingkan hari-hari biasa. Karena setiap masyarakat yang tidak biasa berdagang, dibulan ini mencoba untuk berdagang.

Suasana seperti inilah yang akan menemani beberapa hari ke depan, tepatnya ya 29 hari ke depan, sampai nanti masa puasa ini ditutup dengan malam takbiran menuju hari raya Idul Fitri. Suasana yang berbeda di setiap tahunnya, meski tidak genap setiap tahun, karena diamati bulan Ramadahan ini selalu bergerak maju di tahun kalender. Mungkin dulu pernah bulan Ramadhan dekat dengan bulan Desember, tapi kini bergerak maju ke bulan Juli-Agustus, bukan tidak mungkin tahun 2014 bulan Ramadhan akan lebih maju lagi ke bulan Juni-Juli. Sampai jumpa, dihari pertama puasa di tahun berikutnya. Cu next time

Rabu, 10 Juli 2013

Konsumsi BBM Paska Kenaikan Harga

BBM atau bahan bakar minyak merupakan salah satu bahan pendukung kehidupan di republik ini. BBM ini tak kalah penting dari sembilan bahan pokok, juga kebutuhan primer yang lainnya. BBM ini tidak saja berhubungan dengan transportasi, tapi juga menunjang atau mendukung dalam kebutuhan rumah tangga. Contohnya seperti dulu, ketika harga minyak dunia naik, yang berpangaruh itu dua sisi, yaitu minyak untuk bahan bakar transportasi dan minyak bahan bakar untuk kebutuhan rumah tangga, seperti minyak tanah. Permasalahan kala itu ketika harga minyak dunia naik, pemerintah kewalahan dengan beban subsidi. Permasalahan ini membuat semakin maraknya spekulan minyak, hal ini menyebabkan minyak tanah jadi langka, dan harganya bisa melambung tinggi sekali. Keadaan ini sangat mempersulit masyarakat kecil terutama ibu-ibu rumah tangga yang masih menggantungkan diri pada minyak tanah. Namun seiring berjalannya waktu, pemerintah saat itu punya solusi untuk konversi minyak tanah ke gas. Meski prosesnya tidak mulus dan banyak memakan korban, namun kini masyarakat sudah bisa menyesuaikan dan masalah kesulitan atau ketergantungan terhadap minyak tanah bisa dikurangi.

Sekarang permasalahan yang kerap muncul dan selalu tidak bisa diselesaikan adalah soal bahan bakar minyak untuk transportasi.BBM untuk transportasi di Indonesia ini terkenal mempunyai harga jual yang sangat murah dibandingkan negara-negara lain, terutama ya di sekitar asia tenggara. Kenapa bisa lebih murah, karena harga BBM tersebut mendapat subsidi dari pemerintah, agar masyarakat kecil tidak terbeban dengan harga asli BBM yang mengikuti pasar dunia. Akhirnya beban subsidi itu ditanggung negara, tapi karena kita punya negara yang tak ikhlas menanggung beban masyarakat, akhirnya negara “protes” dan ingin mencabut beban subsidi itu. Dengan alasan-alasan “heroik”, untuk menyelamatkan APBN, untuk mengadilkan masyarakat karena subsidi yang diberikan tidak tepat sasaran, yang lebih “heroik” lagi adalah untuk mesejahterakan masyarakat.

BBM di Indonesia itu dikenal ada premium dan solar, keduanya mendapat subsidi, ada lagi pertamax, pertamax plus, dan solar non subsidi. Soal premium dan solar masih jadi primadona masyarakat, karena harganya yang murah. Dulu saya ingat, waktu saya kecil, harga premium di eceran itu hanya Rp 700,00, itu  pun harga kita beli di eceran. Dulu saya ingat, setiap beli bensi selalu di eceran, sebelum mengenal SPBU, waktu itu jumlah SPBU masih sedikit sekali. Sampai akhirnya jaman sekarang 2013 , harga BBM untuk premium Rp 6.500,00. Harga ini masih lebih murah dari negara-negara lain kawasan terdekat dengan republik ini.

Masih di tahun yang sama, pengeluaran untuk BBM biasa sih Rp 10.000,00 sudah cukup untuk beberapa hari, ya 2-3 hari pemakaian kendaraan, untuk aktivitas di Kota Cirebon. Tapi untuk pemakaian di ibukota Kota Depok - DKI Jakarta PP, sehari untuk bahan bakar bisa habis Rp 15.000,00. Bayangkan dengan harga premium sekarang, dengan nominal yang sama hanya dapat berapa liter??? Pastinya jelaskan akan memberatkan. Biasa dengan harga yang dulu isi Rp 10.000,00 dapat 2,22 liter premium dan kalau isi Rp 15.000,00 dapat 3,33 liter. Untung saja motor saya termasuk motor yang irit Yamaha Vega R 2006, 1 liter bisa habiskan 48 kilometer. Dikalikan saja untuk Rp 10.000,00 daya tempuhnya 106,56 kilometer sedangkan Rp 15.000,00 daya tempuhnya 159,84 kilometer.

Kalau dengan harga premium sekarang Rp 6.500,00. Untuk pengisian Rp 10.000,00 hanya dapat 1,53 liter dan Rp 15.000,00 hanya dapat 2,31 liter. Angkanya sungguh jauh berbeda sekali, hal ini sudah pasti akan mempengaruhi jarak tempuh. Dengan patokan literan di atas, jarak tempuh kendaraan saya hanya: untuk Rp 10.000,00 daya tempuhnya hanya 73,44 kilometer dan Rp 15.000,00 daya tempuhnya 110,88 kilometer.

Itung-itungan kasar di atas sudah sangat jelas akan mempengaruhi pengeluaran bulanan. apalagi ditambah penghasilan yang tidak naik, sudah pasti akan memberatkan. Ya ini untuk saya yang itungannya termasuk masyarakat menengah kebawah. Lalu bagaimana masyarakat yang memang benar-benar miskin? Apakah cukup, ganti rugi kenaikan BBM dengan BLSM hanya beberapa rupiah saja? Entahlah, mungkin pemerintah lebih pintar main itung-itungan, soal “ngadalin” rakyat mereka jagonya. Jadi sudahlah, mau bagaimana lagi. Sekarang sih kita masyarakat yang harus lebih kreatif daripada pemerintah, ya biar saja rakyat semakin pintar dan pemerintah semakin tolol. Buat saya pribadi ya menyikapinya, konsumsi pengeluaran untuk bahan bakar tetap ditekan diangka rupiah sebelum kenaikan, dengan konsekuensi mengrangi daya tempuh kendaraan. Karena bila menaikan pengeluaran lagi untuk bahan bakar maka pendapatan tidak akan mencukupi. Belum lagi tekanan kenaikan harga akibat efek berantai kenaikan BBM. Sekali lagi kita yang harus kreatif mensiasati hal ini. Biarlah kita jadi rakyat yang pintar dan pemerintah jadi yang paling tolol. Semoga pemerintahan yang sekaran ini berjalan cepat usai, purba tugas. Mudah-mudahan pimpinan negeri ini nanti jauh-jauh-jauh lebih kompeten dan lebih pro pada rakyat. Paling tidak minimal seperti Jokowi dan Ahok yang sedang jadi sorotan sebagai contoh pimpinan terbaik jaman ini. Semoga demikian!!!Itung-itungan kasar di atas sudah sangat jelas akan mempengaruhi pengeluaran bulanan. apalagi ditambah penghasilan yang tidak naik, sudah pasti akan memberatkan. Ya ini untuk saya yang itungannya termasuk masyarakat menengah kebawah. Lalu bagaimana masyarakat yang memang benar-benar miskin? Apakah cukup, ganti rugi kenaikan BBM dengan BLSM hanya beberapa rupiah saja? Entahlah, mungkin pemerintah lebih pintar main itung-itungan, soal “ngadalin” rakyat mereka jagonya. Jadi sudahlah, mau bagaimana lagi. Sekarang sih kita masyarakat yang harus lebih kreatif daripada pemerintah, ya biar saja rakyat semakin pintar dan pemerintah semakin tolol. Buat saya pribadi ya menyikapinya, konsumsi pengeluaran untuk bahan bakar tetap ditekan diangka rupiah sebelum kenaikan, dengan konsekuensi mengrangi daya tempuh kendaraan. Karena bila menaikan pengeluaran lagi untuk bahan bakar maka pendapatan tidak akan mencukupi. Belum lagi tekanan kenaikan harga akibat efek berantai kenaikan BBM. Sekali lagi kita yang harus kreatif mensiasati hal ini. Biarlah kita jadi rakyat yang pintar dan pemerintah jadi yang paling tolol. Semoga pemerintahan yang sekaran ini berjalan cepat usai, purba tugas. Mudah-mudahan pimpinan negeri ini nanti jauh-jauh-jauh lebih kompeten dan lebih pro pada rakyat. Paling tidak minimal seperti Jokowi dan Ahok yang sedang jadi sorotan sebagai contoh pimpinan terbaik jaman ini. Semoga demikian!!!

Minggu, 07 Juli 2013

Kolam Renang Pemuda Sport Center, Kota Cirebon

Siang hari enaknya memang berenang, karena rasanya akan sangat menyegarkan, dan siang ini saya melakukannya bersama keluarga saya. Beberapa waktu lalu saya pernah buat postingan berenang di kolam renang miliki Mako Brimo, Kelapa Dua, Depok. Kali ini saya mencicipi berenang di kolam renang lainnya. Kali ini saya berenang di Pemuda Sport Center, letaknya di Jalan Pemuda, Kota Cirebon. Posisinya tidak jauh dari kantor Samsat, Kota Cirebon, sebelah kirinya percis. Lokasinya ini satu komplek dengan lapangan futsal.

Kolamnya tidak terlalu besar, ya standar kolam olimpic saja. Sama ada satu kolam untuk anak kecil. Ya mirip-mirip seperti yang dimiliki Mako Brimob Kelapa Dua, Depok. Soal kolamnya nanti bisa dilihat di gambar yang saya ambil. Memang tidak detail, tapi lumayan untuk dokumentasi. Yang membedakan, di kolam renang ini terdapat kanopi penutup, jadi ketika hujan atau panas tidak langsung mengarah ke kolam, meski berenang siang hari atau hujan badai tidak jadi masalah. Kemudian untuk kamar gantinya tidak terlalu buruk, yah lebih bersih dibandingkan yang ada di Mako Brimob. Cuma sekilas bau pesing merebak hidung, itu sih karena kejorokan si pemakai kamar bilas.


Harga karcis masuknya itu kalau tidak salah Rp 10.000,00 per orang. Tempatnya cukup nyaman, ya buat saya sih nyaman, kebetulan juga tidak terlalu ramai, padahal hari itu hari Minggu. Menurut pengamatan sih yang banyak berenang di sini adalah orang tua ya paruh baya, ibu-ibu serta anak-anaknya yang sedang belajar berenang. Saya juga sebenarnya sedang diajarin berenang, karena kebetulan ada teman nyokap yang bisa lakukan itu. Yah lumayan saya jadi bisa berenang sesuai aturan instruktur, dengan status free cost. ha3x ... #malugratisan

Hasil berenang hari ini sepertinya akan jadi awal untuk seterusnya, karena saya jadi lebih percaya diri untuk berenang, tentunya karena setelah diajarin sama instruktur. Terus jika saya kebetulan berkunjung ke Cirebon lagi dan ingin berenang, tempat ini saya kunjungi. Sampai jumpa dipostingan lainnya ;) he3x ... (^_^)?

Sabtu, 06 Juli 2013

Wajah Stadion Bima, Kota Cirebon

Kalau masyarakat Kota Cirebon ditanya, "Apa nama stadion sepakbola kebanggaannya?" Jawabannya tertuju pada Stadion Bima, yang terletak di komplek perumahaan Pertamina Kota Cirebon. Stadion ini pernah jadi markas dari beberapa kesebelasan, salah satunya juga jadi markas kesebelasan Indocement. Kemudian pernah juga jadi markas (kandang) Persikad Depok. Tapi itu dulu, kalau sekarang ini Stadion Bima tidak tahu lagi digunakan untuk markas kesebelasan apa. Bahkan untuk kesebelasan kota asalnya Cirebon juga saya tidak pernah mendengarnya.

Di wilayah Stadion Bima ini sebenarnya tidak hanya ada stadion untuk sepakbola saja, tetapi ada juga arena-arenauntuk olahraga lain, seperti arena bulutangkis, tenis lapangan, dan ada juga gelanggang renang. Sebenarnya tempat ini sudah seperti sport centernya Kota Cirebon. Tinggal perlu sedikit polesan dan perawatan yang intensif untuk menjadikan daerah ini menjadi sport center. Namun itu semua hanya angan saja, karena sampai saat ini komplek olahraga masyarakat Cirebon teronggok tak terawat.

Pada awalnya yang saya ketahui, komplek gelanggang olahraga di sini dibuat oleh Pertamina. Ketika itu kalau tidak salah Pertamina sedang mengadakan pekan olahraga. Hingga akhirnya dibuatlah sarana olahraga yang lengkap saat itu di Kota Cirebon. Hingga akhirnya acara terselenggara, gelanggang olahraga tersebut tidak lagi dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat atau pemerintah daerah setempat. Malah kian waktu gelanggang olahraga itu mulai renta termakan usia tanpa perawatan yang optimal. Padahal masyarakat Kota Cirebon, terlebih-lebih masyarakat sekitar gelanggang olahraga kerap memanfaatkan lokasi tersebut untuk berolahraga. Meski hanya sekedar jogging, bermain sepak bola, renang, bermain tenis, atau buat tempat nongkrong. Malah terkadang bila malam tiba sering digunakan untuk sirkuit balap liar. Ada juga sih digunakan untuk balap road race yang resmi diselenggarakan di komplek gelanggang olahraga tersebut..

Sudah lama sekali saya tidak berkunjung ke gelanggang olahraga tersebut. Saya lebih mengenal dengan sebutan "Komplek Stadion Bima". Pagi ini saya meniatkan waktu untuk berkunjung ke sana untuk sekedar olahraga pagi. Masuk ke komplek yang saya amati hanyalah rimbunnya semak belukar, nampak suram, kusam dan kotor sekali, belum lagi jalanannya yang sudah berlubang dan berkubang. Lanjut ke stadion sepak bola, dinding tribun stadion yang terbuat dari tanah kini sudah ditumbuhi semak belukar yang lebat. Kondisi pagar keliling stadion sudah berkarat, dan ada beberapa sisi yang sudah terlepas besi pagarnya. Pintu masuk tribun dari sisi timur stadion yang awalnya tertutup oleh pintu tralis kini sudah tidak lagi, bahkan pintu tralisnya sudah hilang.

Saya sempatkan berhenti dan masuk ke salah satu sisi tribun. Tangga naik ke tribun penonton saja sudah dikelilingi semak, sangat amat terkesan kusam, belum lagi sampah sisa-sisa makanan berserakan terbuang sembarangan. Hingga akhirnya saya sampai di tribun penonton, nampak hamparan lapangan hijau yang kelihatannya rumputnya sudah tak terawat. Saya amati sekeliling tempat duduk tribun yang terbuat dari semen dengan ubin biasa ada beberapa yang sudah terkelupas dan terpecah, ditemani serakan sampah sisa-sisa makanan penonton, ditambah sedikit semak-semak yang tumbuh dari balik kelupasan semen di tempat duduk tribun.

Saya amati lagi menara-menara untuk pemantau lapangan, yang sepertinya digunakan untuk dokumentasi pertandingan yang terletak di empat sudut lapangan. Menara-menara itu tampak sudah berkarat dan terlihat lapuk, tapi entah kondisi fisik yang sebenarnya. Ada dua menara yang sudah tak terlihat lagi puncaknya, nampaknya seperti digerogoti, besi-besi paling atas rupanya sudah dipotong/ dilepas. Entah dipotong/ dilepas secara resmi oleh pihak pengelola atau oleh tangan-tangan ilegal. Kabar yang saya dengar, banyak besi-besi yang ada di komplek gelanggang olahraga ini dirusak dan dicuri oleh orang-orang tak bertanggungjawab untuk dijual menjadi besi bekas. Memperihatinkan sekali nasib stadion sepakbola ini. Sungguh-sungguh tak terawat.

Entah kenapa selama bertahun-tahun pemerintahan pemimpin daerah Kota Cirebon tidak mengamati hal ini. Seakan-akan mereka tutup mata melihat kondisi ini. Tidak ada yang bisa mereka perbuat untuk memperbaiki atau sekedar merawat komplek gelanggang olahraga kebanggaan masyarakat Kota Cirebon ini. Atau mungkin karena ketidakjelasan pengelolaannya sehingga seperti halal untuk diabaikan. Keasadaran masyarakat Kota Cirebon juga sangat kecil. Ya terlihat dengan aksi corat-coret yang sering dilakukan di dinding sisi stadion membuat kesan kusam.

Ini posting saya buat sebagai catatan saya, sekaligus keperihatinan melihat aset daerah yang teronggok seperti ini. Setidaknya dilain waktu saya kembali datang berkunjung ke stadion ini sudah ada wajah baru karena saat itu Kota Cirebon sudah dipimpin oleh pimpinan berfigur seperti Jokowi ha3x #mimpi sepertinya. Ada beberapa gambar yang saya abadikan dengan kamera BlackBerry saya tadi pagi sekitar pukul tujuh. Tidak banyak yang saya ambil, tetapi paling tidak dari gambar itu ada sesuatu yang berbicara, bahwa begitulah sesungguhnya kondisi stadion kebanggan masyarakat Kota Cirebon itu. (^_^)?

 

Postingan ini diterbitkan pertama kali di Naturality: Wajah Stadion Bima, Kota Cirebon dan diforum Kompasiana[dot]com oleh account Christopher Leopold Lalo Nusa, denganjudul yang sama Wajah Stadion Bima, Kota Cirebon

Kamis, 04 Juli 2013

Corat-coret: Catatan Minggu Lalu

Minggu lalu, saya ingat hari Kamis, 27 Juni 2013 saya sedang dalam perjalanan trip dari Surabaya ke Maumere, dalam misi mengantar tanta pulang ke kampung halamannya. Kamis pagi sekitar jam setengah empat pagi kami sudah berbenah, mandi, sarapan dan paking barang untuk menuju bandara Internasional Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur. Kami start dari kontrakan salah satu sepupu kami di Surabaya, tepatnya di Kelurahan Kendangsari, Surabaya, Jawa Timur.

Pagi masih sepi kami sudah berangkat menuju bandara, karena setengah lima pagi kita harus sudah check in di loket Merpati Airlines. Ya, maskapai "manuk dara" yang jadi pilihan kami untuk menghantar kami ke Maumere. Sayangnya pesawat yang menghantar kami ini tidak langsung turun di Maumere, namun harus transit di Makassar terlibih dahulu, nanti di sana dilanjutkan dengan pesawat yang lebih kecil untuk turun di Maumere.

Jadwal keberangkatan pesawat kami yang tercantuk di tiket reservasi pesawat harus take off jam enam pagi, namun karena delay masalah operasional kami baru lepas landas jam setengah tujuh pagi. Pesawat jenis boing yang menghantar kami ke Makassar sebagai bandara transit di Sultan Hassanudin Airport. Sampai Makassar itu kalau tidak salah jam setengah sembilan pagi waktu Indonesia bagian tengah. Penerbangan tidak lama, hanya kurang lebih satu jam tiga puluh menit atau lima belas menit lah kami sudah landing di Makassar. Perjalanan kami tidak ada masalah.

Sampai Sultan Hassanudi Airport kami turun, masuk bandara langsung menuju loket transit, boarding pass lagi di sana, akhirnya kami menuju ruang tunggu. Penerbangan selanjutnya akan diantar dengan pesawat yang lebih kecil, MA60, pesawat buatan China yang kerap bermasalah. Kami masih menggunakan maskapai yang sama, yaitu maskapai "manuk dara aduan". Jadwal penerbangan kami berikutnya itu sekitar jam tiga sore. Sehingga sejak kedatangan kami di Makassar ya terpaksa harus menunggu untuk waktu yang lama.

Sembari menunggu ya yang bisa dilakukan hanya menelepon keluarga (mengabari), online dengan BBM, YM, bahkan sampai harus online menggunakan Lenov yang saya bawa dari Cirebon. Bosan dengan gadget, mata memandang ke segala arah, liat sana-sini, jalan sana-sini, ya karena hanya itu yang bisa dilakukan untuk membuang waktu menunggu waktu keberangkatan.

Sudah lama menunggu, ternyata kami harus kembali membuang waktu karena pasawat yang akan membawa kami urung tiba di Makassar, sehingga 'judulnya' delay. Benar-benar membosankan sekali ketika menunggu saat itu. Sabar-sabar akhirnya ya terdengar juga panggilan untuk pesawat kami, kami pun menuju gate yang ditentukan.

Akhirnya kami berangkat juga dengan MA60 dan menghabiskan perjalanan kurang lebih satu jam lima belas menit. Sekitar pukul setengah lima sore waktu Indonesia bagian tengah kami mendarat di Frans Seda Airport, Maumere, NTT. Perjalanan lancar tanpa ada halangan berarti, aman, nyaman dan yang terpenting selamat, mengingat pesawat MA60 ini sering bermasalah.

Itulah catatan yang bisa saya catat sekarang, yang mana catatan ini merupakan catatan singkat aktivitas minggu yang lalu. Sekali lagi ini kembali jadi catatan saya pribadi yang akan tersimpan secara online. Catatan yang serupa mungkin juga akan saya buat di postingan yang lain terkait perjalanan saya tersebut. Cu next time ; ) 

Rabu, 26 Juni 2013

Surabaya Trip

Seingat saya, dulu sekali ketika saya masih kecil, saya datang ke Surabaya. Ketika itu saya ingat di sana saya bersama keluarga transit mau ke Maumere, Flores, NTT. Kami menunggu jadwal keberangkatan kapal yang akan membawa kami sekeluarga ke Maumere, Flores. Tidak banyak yang bisa saya ingat dari kedatangan saya dulu ke kota besar di timur pulau Jawa ini. Beberapa waktu lalu, ya tiga tahun lalu saya juga pernah ke Surabaya, tapi waktu itu tidak lama, hanya transit bus waktu saya berangkat dan pulang, liburan ke Denpasar, Bali dengan Kramat Djati.

Kali ini saya kembali lagi ke Surabaya, ya setidaknya saya di sini bermalam satu malam di kota ini. Meski tidak banyak yang bisa dilakukan di kota ini sementara bermalam di sini. Kebetulan juga di sini hanya transit sambil menunggu jadwal penerbangan ke Maumere, Flores, NTT, dalam rangka menghantar tanta pulang. Di Surabaya ini saya bermalam di daerah Kendangsari,  Surabaya. Tidak jauh dari kawasan pabrik, Rungkut Industri, Surabaya.

Saya start dari Terminal Cirebon, Harjamukti, PO. EZRI jadi pilihan untuk menghantar kami ke Surabaya. Hari itu ramai sekali, hamir semua PO bus mendapat banyak penumpang, mengingat sudah masuk liburan anak sekolah. Biasanya sih bukan PO ini yang jadi pilihan untuk menghantar perjalanan ke Jawa Tengah atau ke Jawa Timur. Tapi karena tidak ada lagi apaboleh buat, itung-itung pengalaman.

Senin, 24/6 sore saya berangkat dengan tanta. Bus yang kami naiki ini cukup lumayan, meski sebenarnya bus super eksekutif yang ingin dinaiki tetapi yang ada hanya class eksekutif (bisnis class), Ini saja sudah dua kursi terakhir, akhirnya kami tidak bisa memilih tempat duduk, terpaksa 27-28 jadi tempat duduk kami. karena sudah tidak tersisa tempat duduk ya sudahlah. Untuk satu tiket dikenakan Rp 145.000,00, meski harga BBM sudah naik untung PO ini masih menunggu kabar kenaikan harga dari Organda Pusat, sehingga tarif lama masih dipakai.

 Beberapa menit perjalanan, komentar saya menggunakan PO ini langsung muncul, supirnya nampak ugal-ugalan, kurang halus mengemudikan bus ini, entah memang karena bus nya atau memang kemahiran supirnya yang kurang. Jadi setiap hentakan mesin atau perpindahan transmisi terasa, belum lagi ketika mengerem selalu mendadak, sehingga membuat badan ikut bergoyang ke depan ke belakang, serta kiri kanan. Belum lagi karena tempat duduk kami tepat berada di atas roda belakang sehingga getaran jalan ke roda hingga ke kursi sangat terasa. Hal ini membuat tidak nyaman.

 Fasilitas yang bisa terlihat di dalam bus ini ya standar seperti bus bisnis class lainnya, ada AC, TV, lampu di atas masing-masing bangku kursi, sistem kursi 2-2, kemudian ada kamar mandi. Total kursi kalau tidak salah ya sekitar 35an. Jarak antara kursi ya relatif luas, sehingga cukup nyaman untuk perjalanan jauh. Hanya saja yang soal kamar mandi ini tidak bisa digunakan maksimal, untuk penumpang perempuan agak sulit menggunakannya.

 Perjalanan lancar-lancar saja, sampai akhirnya bus kami masuk Surabaya sekitar pukul setengah delapan pagi. Memang sedikit lambat karena ketika di tengah perjalanan terhambat sedikit karena ban bocor. Tepat setengah sembilan bus masuk Terminal Purbaya atau Bungur Asih. Nah ketika masuk terminal ini saya sempat bingung, di depan saat mau masuk komplek terminal tertulis “Bungur Asih”, pas masuk terminal tertulis “Terminal Purbaya”, saya kira saya salah masuk terminal. Eh ternyata memang sama saja, Bungur Asih atau Purbaya. Kebetulan sepupu yang menjemput saya terlihat sehingga keraguan saya sirna sudah.

 

Menikmati Malam di Surabaya

Sambil menunggu keberangkatan pesawat nanti tanggal 27/6 pagi, kami bermalam di Surabaya.  Saya dan tanta bermalam di tempat sanak saudara di daerah Kendangsari, Surabaya, dekat kawasan Rungkut Industri, Surabaya.

Tidak jauh berbeda dengan kota besar lain, ya beginilah ternyata Surabaya, memang tidak jauh berbeda dengan Jakarta. Kebetulan di tempat kami tinggal ini berada di pinggiran Surabaya, jadi tidak begitu ramai sekali. Entah dimana pusat keramaian Kota Surabaya ini. Saya masih belum bisa menilai banyak soal kota ini. Tetapi yang sama ya, masih sama saja kumuh seperti kota besar lain. Suasananya mirip-mirip di Kota Semarang dan Jakarta.

Soal air bersih di sini ya cukup memperihatinkan. Untuk air tanah atau air sumur di sini nampaknya berbau, dan warnanya agak kekuningan. Saudara saya ini malah tidak menyarankan untuk berkumur dengan air ini, mungkin karena air ini tak layak untuk konsumsi. Air untuk konsumsi orang-orang di sini menggunakan air bersih lain.

Tidak jauh berbeda dengan ibukota Jakarta, di sini rumah tinggal seperti kontrakan cukup banyak. Ada gang-gang kecil banyak didominasi rumah-rumah petak untuk kontrakan, ada yang terlihat kumuh ada yang biasa saja. Ya gambaran keadaan ekonomi masyarakat kita yang nampaknya masih butuh rumah tinggal yang layak. Ya setidaknya ini masih akan menjadi pekerjaan rumah pemerintah Indonesia.

Sesuatu yang tidak berbeda ketika saya kecil datang ke Surabaya hingga sekarang saya datang kembali ke sini adalah Surabaya masih saja banyak nyamuk, ya untuk yang tinggal di kawasan padat penduduk. Entah kalau yang tinggal di kawasan perumahan layak lainnya. Ini yang saya rasakan saja.

 

Bandara Juanda

Beruntung dari perjalanan saya kali ini saya bisa menemukan dan mendatangi tempat-tempat baru. Tempat yang baru buat saya, yang saya datangi kali ini adalah Bandara Juanda. Awalnya saya kira bandara ini berada di wilayah Kota Surabaya, ternyata saya salah.

Bandara Juanda itu ternyata terletak di Sidorajo, Jawa Timur. Ya tidak jauh memang untuk orang Surabaya untuk menuju bandara ini. Pertama kali datang ke bandara ini seperti mirip-mirip Bandara Ngurah Rai, Denpasar dulu sebelum berubah seperti sekarang. Suasana tempat parkirnya juga mirip sekali. Kemudian tak jauh beda dengan suasana parkir di Bandara Soeta, Cengkareng, Tanggerang. Ya mungkin seperti di Jakarta, dikira bandaranya di wilayah Jakarta, tetapi sebenarnya Soeta terletak berdekatan juga dengan wilayah Tanggerang yang mana masuk Provinsi Banten. Hanya saja di Bandara Juanda ini suasananya nampak ramai sekali, saya datang berkunjung ketika malam hari.

Lusa nanti tanggal 27/6 saya dan tanta akan check in di bandara ini, mungkin ada sesuatu yang bisa ditambahkan dari perjalanan saya ini. Mengenai suasana dari bandara ini. Karena bandara ini merupakan bandara ketiga yang saya kunjungi selain Ngurah Rai, Denpasar, dan Bandara Wai Oti (Frans Seda), Maumere dan sekarang ini Bandara Juanda, Sidoarjo. Dan nanti saat transit di Makassar saya juga akan mensinggahi tempat baru lagi.

 

Saya senang bisa berkunjung dan singgah di tempat-tempat baru. Menambah pengalaman buat saya, pernah ke sini, ke situ. Paling tidak bisa untuk berbagi cerita buat yang belum pernah. Sekian dulu catatan trip saya ke Surabaya. Tambahan catatan akan saya tulis di kolom komentar. Sampai jumpa dicatatan selanjutnya (^_^)? 

Sabtu, 22 Juni 2013

Catatan Trip Dua Malam di Ibukota

Akhirnya saya kembali lagi ke Cirebon, sebagai tempat awal keberangkatan saya untuk trip kali ini. Sebenarnya saya ini sudah lama stay di Depok, Jabar, namun karena ada urusan yang mendesak saya harus kembali ke Cirebon, kota udang. Nah trip kali ini saya ke Depok untuk mengecek My Vega yang sudah hampir genap sebulan tidak dipanasin sama sekali, daripada kondisinya semakin parah, saya harus mengeceknya. Kemudian saya juga harus mengambil berkas-berkas yang harus diperpanjang di kota asal saya.
Tiket kereta Tegal Arum jurusan Jakarta Kota dari Prujakan Cirebon

Trip kali ini saya lakukan dari tanggal 20 – 22 Juni. Seperti biasa saya melakukan perjalanan menggunakan Cirebon Ekspres, tapi kali ini saya memakai kereta lain, yaitu Tegal Arum ekonomi-ac. Alasannya sih simpel, karena Tegal Arum menawarkan tarif yang lebih murah dengan kenyamanan yang relatif layak tidak jauh beda dengan Cireks yang bisnis, hanya untuk waktu tempuh sedikit tidak ontime dibandingkan Cireks yang bisnis. Tarifnya Rp 40.000,00 lebih murah dibandingkan dengan Cireks yang Rp 70.000,00.
Penampilan Stasiun Prujakan Cirebon kini, arah Jateng

Penampilan Stasiun Prujakan Cirebon kini, arah Jakarta
Dari perjalanan ini banyak catatan yang bisa saya catat untuk mengisi blogs saya yang beberapa hari ini “tidur”. Ingin membuat postingan tetapi kadang idenya sulit sekali keluar. Nah untuk memancing ide, kebetulan saya habis melakukan trip, ingin saya catatkan di sini. Setidaknya sebagai catatan harian saya.

Mengikuti jadwal Tegal Arum berangkat di Stasiun Prujakan berangkat pukul 08:00, itu sih sesuai yang tertera pada tiket, kenyataannya sih kereta baru berangkat sekitar pukul 08:20, sedikit molor dari jadwal. Situasi di dalam kereta nampak kondusif, dan saya dapat kursi sesuai dengan yang tertera di tiket. Wajar, terakhir kali saya naik kereta ekonomi, belum ada sistem kursi. Suasana di dalam kereta juga relatif nyaman, mesin pendinginnya bekerja cukup maksimal, pagi itu, namun waktu semakin siang mesin pendinginnya mulai tak bekerja, hawa panas mulai terasa sampai akhirnya Tegal Arum tiba di stasiun terakhir di Jakarta Kota. Selama perjalanan, kereta ini ya berhenti dibeberapa stasiun, ya ciri khas dari kereta ekonomi, “legowo”, “ngalah melulu”. Tegal Arum masuk Jakarta tepat pukul 12:00, sesuai jadwal sih, namun tiba di Stasiun Jakarta Kota lewat 30 menit dari waktu yang dijadwalkan.
Sampai stasiun saya langsung siapkan tiket untuk pulang lusa. Tidak ngantre lama untuk membeli tiket pulang. Suasana Stasiun Jakarta Kota pun relatif normal seperti biasa, tidak terlihat antrian pembelian tiket sampai panjang.
Owh iya, ketika saya ke Jakarta ini, untuk sistem tiket kereta komuter line sudah mulai mengalami perubahan. Kini sudah menggunakan sistem tiket elektronik. Program ini sudah mulai berjalan sejak 1 Juni lalu untuk sistem single trip, dan rencananya tanggal 1 Juli sistem multitrip diberlakukan. Soal ini akan saya bahas dicatatan yang lain.
Kartu tapping single trip, sebelum pemberlakuan kartu multi trip
Menikmati suasana ibukota setelah sebulan berada di kota kecil. Ya cukup mengobati rasa kangen saya. Suasana persaingan kental terasa sejak kereta yang saya naiki masuk ke wilayah Bekasi, Jabar, sampai akhirnya saya turun di Jakarta Kota. Setelah sampai saya langsung beli tiket komuter line dan pulang menuju Depok. Di Depok inilah tujuan saya membereskan urusan sebelum saya kembali ke Cirebon.
Saya stay hanya dua malam di Depok. Malam pertama saya sampai Kamis (malam Jumat) dan Jumat malam (malam Sabtu). Waktu yang cukup untuk mengobati rasa kangen setelah satu bulan meninggalkan segala aktivitas padat di ibukota. Kangen juga tidur di kamar sendiri, di kamar yang punya jaminan privasi tersendiri.
Setelah urusan saya selesai, hari ini Sabtu saya harus kembali ke Cirebon. Tiket semua sudah siap, jam 16:15 waktu Tegal Arum membawa saya kembali ke Cirebon. Ditemani sahabat dan atau juga kekasih mengantar kepulangan sementara saya ke Cirebon. Saya berharap sih beberapa hari ke depan urusan saya di Cirebon cepat usai dan saya bisa kembali mengejar target hidup saya.
Sekian catatan saya kali ini, ini jadi awal untuk membuat postingan lainnya untuk mengisi di bulan Juni 2013 ini. Keep blogging ;)

Senin, 20 Mei 2013

Trip Pulkam Mei 2013

Akhirnya setelah sekian lama, saya bisa trip dengan sepur lagi hari ini. Soalnya beberapa bulan lalu ketika trip ‘pulkam’, moda transportasi travel yang saya pilih, karena kepraktisan dan ada dana lebih. ha3x. Berhubung bulan ini sedang dalam masa keterbatasan, trip dengan sepur jadi pilihan, alasannya lebih murah. Sebenarnya sih kalau dibandingkan enak menggunakan sepur, soalnya banyak sesuatu yang bisa diamati, kesempatan untuk bersosialisasi jadi lebih luas. Kalau menggunakan travel itu  waktu kita hanya untuk duduk dan tidur, paling ya ngobrol dengan teman sekursi.

Trip kali ini melelahkan, ya wajar karena selama ini saya sangat jarang menggunakan angkutan umum di ibukota. Rasanya macam ‘nano-nano’, ramai rasanya. Ada panas, sumpek, belum lagi was-was copet, plus capek itu semua jadi teman perjalanan. Yang jadi catatan si soal panas dan capeknya ini. Biasa saya naik motor ke tempat tujuan tak perlu menunggu, tinggal tancap gas, masalahnya ya paling macet dan panas. Kalau sekarang, sebelum berangkat saja saya sudah berolahraga, jalan kaki euy, ya lumayan 700 meter lah dari kosan Yulimar menuju jalan utama Margonda. Dari jalan utama mesti nyebrang lagi ke arah Stasiun Pondok Cina. Moda angkutan KRL comuter jadi piihan karena alasan efisiensi waktu dan kenyamanan, meski tidak terlalu nyaman juga. Soalnya yang saya tahu hanya dengan angkutan itu. Kalau soal cost nya sih ya relatif mahal, tiket comuter aja Rp 8.000,00, belum lagi angkutan dari stasiun transit ke stasiun keberangkatan.

Sejak ada peraturan baru comuter tidak berhenti di Stasiun Gambir cukup merepotkan. Karena kalau mau trip ke Jawa  dari Depok, moda transportasi yang strategis ya comuter. Sejak tidak boleh turun di Gambir, otomatis pilihan turun ya di Stasiun Gondangdia sebelum Gambir dan Stasiun Juanda setelah Gambir. Dari situ ya terpaksa harus melanjutkan dengan angkutan yang lain entah bisa bajaj, kopaja atau ojek. Kalau saya tadi itu dari Gondangdia terpaksa naik ojek, ya Rp 10.000,00 harus saya keluarkan, awalnya ojeknya minta bayaran lebih, tapi akhirnya ketemu diangka itu, karena saya tak mau ribet lagi menawar, karena saya sudah gerah sekali. Ya inilah yang membuat saya tak terlalu suka menggunakan angkutan umum di ibukota, karena untuk perjalanan tertentu saja banyak biaya yang harus dikeluarkan dan gerahnya, kesulitan dapat angin sih.

Awalnya memang saya inginnya sih naik motor saja ke Gambir, lalu motor saya dititipkan di sana. Namun takutnya saya terlalu lama di kampung halaman akhirnya niat itu saya urungkan. Faktor keamanan juga jadi pertimbangan saya.

Akhirnya saya sampai juga ke Gambir. Sampai stasiun langsung menuju loket tiket. Awal-awal cukup was-was soal harga tiket, berapa ya? Maklum saya sudah lama juga tidak naik sepur. Mengingat selama ini tiket kereta terkadang harganya sulit diprediksi, kadang mahal sekali, kadang ya biasa aja. ha3x … Tanya di loket, “Tiket untuk Cireks tujuan Cirebon, berapa?” Jawab si mba petugas karcisnya, “Rp 75.000,00 berangkat jam 13:30.” Saat itu pula legah rasanya, budgetnya masih sisa, lumayan lah buat ongkos ngangkot di kampung halaman. Akhirnya bayar dan duduk deh di ruang tunggu, soalnya masih 1,5 jam lagi.

Owh iya, ada catatan saya kali ini. Untuk setiap perjalanan dengan menggunakan kereta api ini, pihak KAI sudah menerapkan displin berangkutan. Dari soal membeli tiket untuk keberangkatan langsung saja, kita calon penumpang harus menunjukan KTP. Kemudian untuk masuk ke loket juga sama menunjukan KTP. Memang lebih ribet, ya tapi inilah cara KAI untuk meminimalisir calo tiket.

Waktu keberangkatan masih lama, jadi ya saya mengeluarkan Lenov dan buat postingan ini, sekalian mengisi waktu luang lah. Sekian dulu lah share saya, lanjut lagi nanti setelah saya sampai kampung halaman, “kota udang”. Bye. (^_^)?

Kamis, 09 Mei 2013

Menghargai Waktu

Ada sebuah slogan, “waktu adalah uang, time is money”. Mungkin ada benarnya slogan itu, terutama bagi pebisnis, atau juga bagi kita awam yang melakukan aktivitas seperti biasa. Waktu sangat berharga karena kita tidak dapat mengulang waktu yang sudah terlewat. Di dunia nyata seperti sekarang ini tidak ada “mesin waktu” seperti cerita “Doraemon” atau “Teko Ajaib” yang bisa memaninkan waktu sesuka hati dan kebutuhan.
Saya sih bukan mau membahas sekelumit soal itu. Saya hanya ingin membuat tulisan ini karena kegelisahan, kekesalan terhadap mereka yang tidak bisa menghargai waktu. Jujur si, saya sangat amat membenci hal tersebut, menyepelekan waktu itu sunggu sebuah tindakan yang sangat menyebalkan, itu menurut saya, entah bagi yang berpandangan lain. Tidak masalah ketika waktu dipermainkan jika tidak ada orang yang dirugikan, alias hanya merugikan diri sendiri. Memang saya juga bukan orang yang sempurna menghargai waktu, namun berusaha melakukan yang terbaik masih lebih baik.

Hari ini, ya seperti biasa, melihat teman yang terbiasa bermain-main dengan waktu. Yang pertama jelas, saya salut, hebat dan bisa mempermainkan waktu, segala sesuatu dilakukan dengan mepet. Biasanya sih yang dibutuhkan orang semacam ini adalah keberuntungan, selama keberuntungan selalu berpihak terhadapnya, bermain-main dengan waktu itu akan sangat menyenangkan, mungkin lebih seru dibandingkan dengan naik roller coaster.
Teman saya punya rencana travelling, jauh-jauh hari semuanya sudah dipersiapkan matang, dari akomodasi berangkat hingga pulang, akomadasi di tempat tujuan pun dipersiapkan dengan cukup baik berikut tempat tujuan yang akan dikunjungi. Semua itu sudah tercatat sesuai jadwal, dan ada jam (waktu)-nya. Buat saya, yang terpenting adalah keberangkatan, kenapa, karena kita berangkat dengan transportasi umum, yakni kereta, dimana kereta sudah punya jadwal tertentu, yang apabila kita melewatkannya, kita akan tertinggal kereta. Jelas hal ini seharusnya jadi peringatan serius bagi yang mau melakukan perjalanan.
Jadwal keberangkatan kereta pukul 11.30 siang. Ya seperti biasa, kebiasaan yang sangat menyenangkan buat teman saya itu, selalu mepet dalam segala hal. Waktu luang ada sedari pagi, meski pagi hari sempat diisi dengan aktivitas ibadah. Tapi jelas ada waktu sisa banyak. Kalau alasannya packing, pertanyaannya, “Kenapa tidak dipersiapkan tadi malam?” Jadi pagi hari sudah tinggal finishing, dan jam 09.00 pagi sudah siap, tinggal mengingatkan hal-hal lain. Kenyataannya yang teman saya lakukan ini lain. Entah tidak tahu jadwal keberangkatan kereta atau apa, baru berangkat jam 10.00, mending itu langsung sampai stasiun keberangkatan. Ternyata jam 10.00 baru berangkat ke stasiun komuter untuk menuju stasiun keberangkatan. Lanjut lagi di stasiun komuter masih menunggu rekan, akhirnya sampai jam 11.00 lewat, masih stug menunggu teman. Entahlah, apa bisa dapat kereta yang 11.30 sesuai yang dijadwalkan? Tiket dll sudah dibeli, lalu bagaimana bila tertinggal? Cuma keberuntungan yang bisa menemaninya untuk menghindarkan dirinya dari kerugian.
Saya berharap, semua yang terbaik, yang penting adalah pelajaran, biar KAPOK. Malah lebih baik adalah benar-benar tertinggal kereta, karena penyesalan itu tamparan yang cukup berharga dibandingkan diingatkan orang lain. Kerugian tiket yang sudah dibeli dengan harga yang jauh dari harga normal untuk tiket kereta ekonomi. Atau bila memang keberuntungan berpihak, semoga masih bisa berpikir hal tersebut jadi pelajaran

Masih banyak hal lain yang sering saya alami, berkaitan dengan waktu ini. Hal lain yang tidak saya suka adalah statement “anda yang butuh saya, jadi ketika anda menunggu saya, itu adalah hal yang wajar”. Ini sering sekali dialami saya dan mungkin banyak orang, ketika kita tidak punya posisi tawar.
Pernah melamar pekerjaan, atau interview atau psikotes dll. Biasanya selalu ada jadwal yang diberikan. Nah kebanyakan pihak si penawar kerja atau perusahaan ini seenak-enaknya saja mengulur waktu, entah apa itu alasannya. Contoh yang sering terjadi, jadwalnya itu jam 10.00, tetapi waktu pelaksanaan itu molor 1-2 jam dari waktu yang ditentukan. Pihak pelamar dalam hal ini tidak bisa protes, karena berada di posisi yang lemah, karena jika “melawan”, statement yang diatas tadi yang akan keluar (“anda yang butuh saya, jadi ketika anda menunggu saya, itu adalah hal yang wajar”). Jujur saya tidak suka dengan cara ini, tapi apa boleh buat.
Catatan penting buat saya, ketika saya ada di posisi mereka (pemberi kesempatan kerja), saya harus berusaha komitmen dengan waktu. Bukan apa-apa, mereka mencari orang yang disiplin, tapi mereka sendiri tidak disiplin, dan ketika menemukan orang yang tidak disiplin mereka dengan seenaknya “mencoret” atau mendiskualifikasinya. Keadilan itu harus dijunjung, ingin rasanya menampar orang yang melakukan hal itu dengan jam dinding ukuran besar, “BIGBBEN”, supaya KAPOK. Kebanyakan departemen human recources melakukan hal ini. Entah apa yang mereka cari? Kembali, kita sebagai pelamar harus kembali mengalah.

Masih banyak contoh-contoh lain dalam kehidupan sehari-hari orang-orang yang tidak menghargai waktu. Dan mereka semua itu nyaman karena keberuntungan selalu bersama mereka, sehingga apa yang mereka lakukan seakan-akan jadi aktivitas legal, padahal ada banyak yang dirugikan akibat perilaku mereka. Sedangkan mereka yang patuh, disiplin dengan waktu selalu jadi pihak yang dirugikan, jarang sekali yang ditemani keberuntungan. Bagaimana membuat mereka KAPOK?

Senin, 06 Mei 2013

My Vega di Masa Jayanya

Motor kesayangan ku, Yamaha Vega R keluaran tahun 2006. Motor ini sudah menemani ku beberapa tahun, sejak masa ku di pertengahan kuliah hingga sekarang merantau di ibukota. Banyak pengalaman yang sudah terjalin dengan My Vega. Dulu menemani kuliah, sampai harus pulang-pergi KKN di Desa Kesugihan, Kabupaten Cilacap. Vega harus menemani saya PP, balik ke Purwokerto. Sampai harus mengalami ban benjol dan ganti dengan ban baru, wajar saja, jalanan Purwokerto - Cilacap PP sangat tidak bersahabat, kalau siang mungkin tidak masalah, namun jika jalan malam lubang dan jalanan tidak rata tidak dapat terlihat jelas oleh saya, efeknya benturan keras sering dihadapi ban Vega, akhirnya benjol deh.

Vega juga menemani ku perjalanan ke Jogja, itu pun PP. Kemudian ke Kebumen, Purworejo, Bantul, Tegal, Pemalang, Purbalingga, Wonosobo dan daerah lain di Jawa Tengah. Kalau untuk dibawa pulang ke Cirebon pasti, karena kalau mudik Vega selalu menemani saya. Kuningan, Majalengka, Indramayu bahkan sampai akhirnya Vega sampai juga di Jakarta di tahun 2010 hingga sekarang.

Namun karena jam terbang yang tinggi dan kurangnya perawatan membuat kondisi Vega sekarang tak eperti dulu. Pengaruh cuaca ekstrim di Jakarta serta kesibukan yang luar biasa membuat Vega tak terurus, dari sektor mesin, body, kaki-kaki sampai ke performanya kini telah berbeda. Kalau dihitung ini sudah masuk tahun keenam Vega berkarya di jalanan.

Jika ingin melihat Vega di masanya ketika masih "gress" bisa kunjungi link ini, di sana catatan saya di blogdrive, ketika awal menekuni dunia ngeblog, saya sempatkan membuat catatan sedikit. Setidaknya bisa jadi nostalgia saya sendiri, bahwa Vega pernah jadi motor yang cantik dan kinclong di setiap kali saya pakai berpetualang.

Senin yang Crowded, "Katakan Selamat Tinggal untuk Mobil"

Pagi ini sangat terasa terik,  meski angin pagi berhembus membawa dinginnya pagi, namun semua itu tidak ada artinya ketika aktivitas Senin yang padat dimulai di jalanan. Pagi ini siswa sekolah dasar giliran untuk merasakan UN, namun situasi berbeda dari ketika UN SMA/SMK dan UN SMP yang hari pertama lalu lintas relatif lancar. Pagi ini lalu lintas sangat amat macet.

Pagi ini saya beraktivitas seperti biasa, start dari Margonda menuju Pos Pengumben, Jakarta Barat. Macet sudah jadi pembuka di jalan Margonda, lanjut ke ruas jalan depan Universitas Pancasila, lanjut ke Tj. Barat, TB. Simatupang, sampai ke perempatan Ragunan. Menurut pengamatan saya, kepadatan disebabkan karena volume kendaraan meningkat.  Pandangan subjektif saya kemacetan ini karena banyak beredarnya mobil pribadi. Mobil pribadi ini membuat kondisi jalanan menjadi tidak liquid. Pengguna sepeda motor pun relatif cukup banyak beredar di jalanan, sebagai kendaraan alternatif pemecah kemacetan.

Lanjut ke ruas Pejaten arah Kemang, di sana juga terjadi kepadatan, meski tidak terlalu parah. Lanjut ke arah Prapanca-Antasari juga masih relatif lancar, lanjut ke Abdul Majid masih lancar sampai ketemu ruas Fatmawati. Ruas Fatmawati ini memang selalu ramai setiap harinya, kecuali Sabtu yang relatif lancar. Lanjut ke H. Nawi ruas ini juga dianggap masih lancar, sampai akhirnya tembus ke ruas Radio Dalam yang cukup ramai, dan relatif padat.

Lanjut ke ruas yang cukup padat adalah ketika masuk ke ruas jalan depan Mall Gandaria City. Di situ kemacetan sudah terasa selepas underpas Gandaria City. Lanjut ke kolong flyover Cipulir di sana kemacetan cukup terasa, karena ulah angkutan kota kopaja yang bermanuver sembarangan di kolong flyover Cipulir serta sambil 'ngetem' menunggu penumpang. Lanjut ke arah underpas Kebayoran Lama kendaraan terlihat antre memasuki underpas, lanjut ke ruas Simprug di sana pun sama, padat. Sampai di flyover Permata Hijau, juga terasa kemacetan karena antrian mengular kendaraan yang akan berbelok ke arah Pejompongan/ Slipi. Selepas putaran arah Pejompongan/ Slipi, di lampu merah Permata Hijau pun terpantau padat, tampak ruwet karena volume kendaraan meningkat dan terjebak di kondisi lampu merah.

Macet juga sudah mulai terasa di ruas jalan depan Bellezza, lanjut ke lampu merah Kebayoran Lama, dekat Rumah Sakit Medika, di sana kondisi lalu lintas kacau balau, kendaraan jadi seperti terkunci tak bisa maju dan mundur, akhirnya antrian panjang mengular. Hampir dari semua ruas volume kendaraan terhenti di perempatan itu. Kacau balau kondisi pagi ini di sana. Saya akhirnya mengalihkan laju ke arah H. Soleh, di sana cukup lancar, dan banyak biker yang memilih jalan ini untuk menghindari macet, bahkan dari arah sebaliknya banyak biker yang menggunakan jalan ini. Hal ini jadi indikator bahwa ruas jalan sebaliknya mengalami kemacetan, sampai para biker mencari jalur alternatif. Sampai di Pos Pengumben, kondisi lalinnya kacau balau di setiap lampu merah. Begitupun arah sebaliknya ketika saya kembali arah pulang dengan jalur yang sama.

Badan oenuh dengan keringat, luar biasa panas cuaca pagi ini ditambah kondisi lalin yang kacau balau. Sepertinya harus ada pembatasan penggunaan mobil, itu pendapat subjektif saya, karena mobil ini banyak membuat masalah karena ukurannya yang banyak menghabiskan badan jalan. Ditambah lagi sikap egois pengguna mobil, hanya mengangkut satu orang saja mobil bebas melintas jalanan, sedangkan kondisi jalanan cukup padat. Bandingkan apabila semua pengguna jalan yang menggunakan mobil beralih ke sepeda motor, dijamin tidak akan ada macet sampai 'terkunci' di sebuah perempatan. Karena sepeda motor akan mudah diatur ketika mengalami simpul kemacetan. Jadi sudahlah, katakan cukup gunakan mobil di weekday. Ada baiknya mobil digunakan untuk weekend saja, sekaligus dalam rangka penghematan konsumsi BBM, karena jelas mobil akan lebih boros dibandingkan dengan sepeda motor. Kampanye gunakan motor atau sepeda untuk aktivitas weekday!!!

Sabtu, 04 Mei 2013

Wiskun: H.E.M.A Resto, Keb. Baru

Uih, satu lagi resto yang menarik, dan bisa dijadikan rujukan untuk tempat makan baru, buat yang doyan ganti-ganti pasangan (up’s salah), berganti-ganti tempat makan maksudnya.

Sebetulnya ini saya diajak oleh M e m e y, yang senang hunting tempat makan baru. M e m e y sebelumnya sudah beberapa kali ke tempat ini, 2x tepatnya bersama rekan-rekan kantornya. M e m e y tertarik dengan menu kesayangannya di sana, yaitu Huzaren Sla. Beberapa hari ini memang sudah ingin ke sana, dan semalam akhirnya bisa kesampaian.

Huzaren Sla

Holland Tea and Fruit Punch

Fettuchini Carbonara

H.E.M.A Resto merupakan resto bergaya Belanda, alias londho. Dari luar sih restonya seperti rumah gitu, tapi memang terlihat dari luar ekslusif, kalau buat yang belum pernah mengunjungi tempat makan seperti ini pasti ragu. Kebetulan ada M e m e y yang di depan #payahsayaini.

Di sana kita disambut oleh penerima tamu, dan memilih tempat duduk yang dekat pintu dan jendela. Setelah duduk, diberikan buku menunya. Wah, pertama saya lihat bingung, nama menu makannya bikin “lieur”, pakai bahasa yang saya kurang mengerti. Kembali M e m e y menjadi guide di sini. Seperti yang disampaikan di atas, M e m e y langsung memilih menu kesayangannya, Huzaren Sla menu salad. Saya sendiri bingung memilih menu apa, akhirnya saya memilih menu yang saya ketahui Fettuchini Carbonara. Sebelumnya saya juga sudah pernah mencicipinya di Pizza Hut, jadi saya ingin membandingkannya. Untuk minumnya saya memilih Fruit Punch, biar seger. M e m e y sendiri memilih Holland Tea.

Tak lama kita menunggu menu makan datang. Sambil menunggu saya sempatkan melihat-lihat sekeliling, resto ini dibuat seperti layaknya rumah, ada pernik tungku api dan kursi goyang, serta hiasa lukisan dan poster yang menceritakan tentang negeri Belanda.

Oh iya, soal harga, ya lumayan lah, kelasnya medium. Tidak murah tidak juga mahal. Untuk menu Huzaren Sla itu harganya 23K, Fettuchini Carbonara 35K, Fruit Punch 17K dan Holland Tea 15K. Sebenarnya ada banyak menu-menu lainnya yang harganya lebih dari ini, penasaran silakan mampir saja.

H.E.M.A Resto ada di beberapa tempat di area Jakarta dan Bekasi. Resto dimana kami makan ini beralamat di Jl. KH. Ahmad Dahlan No. 18 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Tempat lainnya di Jakarta ada di TIS Square Jl. Jend. MT. Haryono Kav.9, Tebet, Jakarta Selatan. Kemudian ada di Royal Netherlands Embassy, Jl. HR. Rasuna Said Kav. S-3, Kuningan, Jakarta Selatan. Ada juga di Menteng Muis Jl. Cikini Raya No. 2-4 Menteng, Jakarta Pusat. Untuk di daerah Bekasi ada di Jl. Kemang Pratama Raya Blok MM 19-28, Kemang Pratama, Bekasi. Ada juga di Bekasi Square LG-170 Jl. Jend. Ahmad Yani, Bekasi. Sekian info soal Wiskun nya, kalau penasaran silakan mencoba. Kalau ada yang sudah coba, share juga di comment, biar ramai. (^_^)?

Rabu, 01 Mei 2013

I say: “I like May Day in Jakarta”

Hari ini hari pertama di bulan Mei 2013. Penanggalan pertama di bulan Mei, yang juga jadi hari istiwewa bagi para buruh sedunia. Karena hari ini diperingati sebagai Hari Buruh Internasional. Efek kata ‘internasional’ juga berpengaruh di dalam negeri yang statusnya nasional. Memang sudah jadi agenda rutin para buruh di seluruh Indonesia untuk mengistimewakan hari ini, untuk mereka turun ke jalan, berdemo, mengutarakan pendapat secara besar-besaran.

Oleh karena rutin diselenggarakan setiap tahun, semua pihak yang berhubungan dan bersinggungan dengan aksi mereka pun sudah pasti mempersiapkan diri, termasuk para buruh sendiri. Pihak-pihak yang berhubungan atau bersingunggan dengan aksi para buruh antara lain pihak keamanan seperti TNI-Polri, Sat. Pol. PP DKI Jakarta dan daerah-daerah lain sebagai tenaga keamanan daerah yang diperbantukan. Kemudian pihak perusahaan yang merelakan waktu kerjanya terbuang untuk aksi demo ini. Lalu juga masyarakat yang punya aktivitas di area yang dilalui para buruh berdemo, terutama pengguna kendaraan pribadi roda empat mengurungkan niat mereka memakai kendaraannya. Mereka inilah yang jelas mempersiapkan diri ketika hari ini tiba.

 

Aktivitas saya pagi ini

Hari ini saya punya agenda khusus dari Depok menuju Tanah Abang II. Saya berangkat dari Depok sekitar pukul 8 pagi. Deadline time pukul 10 pagi. Biasanya di hari-hari normal, jika saya berangkat jam segitu jalanan dari Depok menuju Jakarta itu macetnya cukup parah, namun pagi ini cukup berbeda. Ya benar, berbeda karena hari ini adalah hari buruh, “May Day”. “Yeah, I like this. No crowded.”

Rute yang saya lewati pagi ini sama seperti rute yang saya lewati jika menuju kawasan Budi Kemuliaan. Dari Depok saja tidak ada kemacetan berarti, biasa di sekitar Univ. Pancasila, kemudian di sekitar markas PDI-P Lenteng Agung, kolong fly over TB. Simatupang, Tanjung Barat biasanya sudah mulai macet, pagi ini tidak, arus kendaraan lancar saja. Macet yang saya rasakan yaitu di lampu merah Ragunan, dan memang tiap hari di sana selalu macet. Kemacetan terasa di arah menuju Kemang, karena kebanyakan kendaraan roda empat mengalihkan kendaraannya ke arah sini.

Pagi ini memang volume kendaraan roda empat jauh berkurang dari hari biasa. Ini yang saya sukai, karena menurut saya kemacetan justru ditimbulkan oleh kendaraan roda empat. Sering-sering saja May Day ini setiap hari, jadi jalanan lengang tanpa kendaraan roda empat. Kemudian saya melalui Jalan Antasari, Prapanca hingga ke Blok M, lalu menuju arah Bundaran Senayan, hingga Jensud. Jalan-jalan yang saya lewati itu relatif lancar sekali. Padahal kalau hari biasa jalanan ini didominasi oleh kendaraan roda empat. Sampai akhirnya saya ke pusat ibukota, yaitu Bundaran HI, di sini sudah terlihat banyak bus-bus besar, mobilisasi buruh menuju pusat ibukota sedang berlangsung. Suatu kondisi yang “seru, luar biasa” bisa mengumpulkan mereka untuk tuntutan-tuntutan yang intinya “kesejahteraan buruh”.

Tidak hanya para buruh dari berbagai daerah saja yang berkumpul, terlihat awak media, petugas keamanan serta masyarakat yang punya aktivitas di perkantoran sekitar Bundaran HI ikut berbaur. Saya tidak bisa mengabadikan momen ini karena saya sedang berkendara, dan saya tidak bisa menepikan kendaraan, karena di kiri jalan banyak petugas yang mengarahkan kendaraan untuk tetap melaju.

Lanjut ke jalan MH. Thamrin hingga kawasan Budi Kemuliaan pagi ini masih lancar dan lengang. Hari ini untuk pengalaman di jalanan cukup menyenangkan, setidaknya jadi penghibur untuk situasi yang tak menyenangkan setelahnya.

 

Tapi komentar saya untuk  hari ini adalah menyenangkan, dan saya katakan “I like May Day”. Tentunya untuk wilayah Jakarta, karena hari ini cukup berbeda dari hari biasa, untuk itu saya menyenanginya, sama seperti hari raya Lebaran, saya juga sangat menyukainya, karena jalanan Jakarta sangat lengang ketika itu. Inginnya setiap hari adalah “May Day”.

Presiden RI yang masih berkuasa di periode ini mengatakan bahwa akan mengistimewakan hari ini, dimana mulai tahun depan, setiap tanggal 1 Mei adalah hari libur nasional, untuk memperingati Hari Buruh Internasional dan secara nasional. Presiden SBY berharap para buruh bisa memanfaatkan hari libur untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat.

Sekali lagi, “I like May Day in Jakarta”. Saya suka karena jalanan bebas kendaraan roda empat yang menurut saya adalah sumber macet selain angkutan umum. Karena kendaraan roda empat itu banyak memakan badan jalan daripada motor, memang mereka bayar pajak untuk itu, tetapi sama saja buat saya mereka itu sumber kemacetan. Jadi lebih baik gunakan motor saja untuk aktivitas tertentu, jangan pakai mobil hanya untuk pergi ke kantor yang hanya mengangkut satu-dua orang saja. Masih lebih baik satu mobil bisa mengangkut banyak penumpang, sehingga mobil sebagai lambang “ego dan keangkuhan” bisa dihilangkan. That’s my opinion. Sampai jumpa di “May Day” tahun berikutnya. (^_^)? Sukses buat perjuangan buruh Indonesia!!!