Tampilkan postingan dengan label Wisata Kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Kuliner. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Agustus 2013

Wiskun: Es Sop Timun Suri

Bulan puasa selalu berbeda dari bulan-bulan biasa setiap tahunnya. Meski kami bukan yang menjalani ibadah di bulan tersebut, namun suasana di bulan puasa bisa menjalar ke semua orang. Bukan soal tidak bisa makan di tempat umum, tetapi lebih ke variasi kuliner yang bisa dinikmati di bulan puasa ini, ya terutama ketika akan berbuka. Dikatakan ketika puasa sih harusnya bisa lebih irit, tapi nyatanya tidak juga, justru di bulan puasa ini pengeluaran relatif lebih besar, karena di bulan ini pula sebagian orang yang berusaha berdagang makanan untuk berbuka mendulang rupiah yang tidak sedikit. Banyak menu-menu kuliner yang dijajakan ketika bulan puasa. Sering juga dikenal dengan namanya takjil. Entahlah arti pastinya apa, yang jelas yang saya pahami adalah menu awal untuk berbuka, berupa kuliner yang manis. Ragamnya macam-macam, dan banyak dijumpai di jalanan ketika menjelang waktu berbuka.


Omong-omong soal takjil ini, keluarga saya juga mempersiapkannya, meski kami tidak menjalankan ibdah puasa. Kebetulan nyokap senang buat olahan makanan, ya dari yang sifatnya sederhana sampai yang ribet. Kemarin sore (2/8), nyokap membuat takjil yang saya namai "es sop timun suri". Soalnya saya tidak tahu lagi menamai aoa, karena tidak ada nama paten untuk itu. Kebetulan isi dari kuliner yang dibuat itu hanya timun suri, lalu jus sirsak yang dicampur jadi satu, plus susu dan sedikit gula.

Timun suri memang cukup terkenal di bulan puasa, ya karena buah satu ini cukup segar bila diolah menjadi menu takjil, bisa untuk sop buah, coctail dll. Mengomentari soal timun suri, saya ingat tahun lalu atau dua tahun lalu. Timun suri ramai dijajakan penjual di kiri kanan jalan, ketika itu saya masih di ibukota, Depok dan Jakarta. Banyak pedagang yang menjual timun suri di jalanan, warna buahnya cukup menggoda, hijau kekuningan yang cerah, sehingga ketika dijajakan di pinggir jalan terlihat sekali rasa segarnya jika dikonsumsi. Memangg cocok menjadi menu penggoda ketika di bulan puasa, apalagi mantab jadi menu berbuka puasa. Warna hijau kekuningan yang cerah itu sudah bisa dipastikan ketika dari kejauhan, pasti itu timun suri. Nah yang berbeda di tahun ini, saya tidak melihat timun suri seperti yang dulu, warna hijau kekuningan sudah tak terlihat lagi. Bukan karena timun surinya tidak ada, timun surinya ada, hanya warnya tak serah dulu. Timun suri yang dijual sekarang kecil buahnya, memang ada yang besar, namun warnanya sekarang cenderung pucat, putih kehijauan. Sehingga ketika kita melihat dari jauh, sulit meyakinkan bahwa itu adalah timun suri. Saya pikir, timun suri begitu karena pengaruh cuaca, karena tahun ini kemarau basah tak kunjung usai. Sedangkan timun suri maksimal panen ketika musim kemarau. Mungkin karena itu banyak petani yang memanen lebih awal untuk mencegah buahnya busuk atau gagal panen, sehingga efek hijau kekuningan tidak terlihat jelas. Rasanya sih tidak berbeda, tetap manis.

Menu takjil es sop timun suri buatan nyokap bisa dilihat di foto yang saya ambil di meja makan. Tidak jelas tapi lumayan untuk dokumentasi. Jadi ketika saya tak bisa pulang, saya bisa melepas kangen dengan membaca postingan ini dan melihat gambar yang saya sajikan. Sekian catatan saya di pos tentang wisata kuliner, meski saya tidak berwisata kuliner karena ini kuliner buatan sendiri, tapi tidak apa karena tidak jauh dengan kuliner. Jika ada yang mau mencoba es sop timun suri ini bisa berwisata ke rumah saya. ha3x, sekian, sampai jumpa di postingan tentang kuliner lainnya. "Yummmy"

Sabtu, 03 Agustus 2013

Wiskun: Es Sop Timun Suri

Bulan puasa selalu berbeda dari bulan-bulan biasa setiap tahunnya. Meski kami bukan yang menjalani ibadah di bulan tersebut, namun suasana di bulan puasa bisa menjalar ke semua orang. Bukan soal tidak bisa makan di tempat umum, tetapi lebih ke variasi kuliner yang bisa dinikmati di bulan puasa ini, ya terutama ketika akan berbuka. Dikatakan ketika puasa sih harusnya bisa lebih irit, tapi nyatanya tidak juga, justru di bulan puasa ini pengeluaran relatif lebih besar, karena di bulan ini pula sebagian orang yang berusaha berdagang makanan untuk berbuka mendulang rupiah yang tidak sedikit. Banyak menu-menu kuliner yang dijajakan ketika bulan puasa. Sering juga dikenal dengan namanya takjil. Entahlah arti pastinya apa, yang jelas yang saya pahami adalah menu awal untuk berbuka, berupa kuliner yang manis. Ragamnya macam-macam, dan banyak dijumpai di jalanan ketika menjelang waktu berbuka.


Omong-omong soal takjil ini, keluarga saya juga mempersiapkannya, meski kami tidak menjalankan ibdah puasa. Kebetulan nyokap senang buat olahan makanan, ya dari yang sifatnya sederhana sampai yang ribet. Kemarin sore (2/8), nyokap membuat takjil yang saya namai "es sop timun suri". Soalnya saya tidak tahu lagi menamai aoa, karena tidak ada nama paten untuk itu. Kebetulan isi dari kuliner yang dibuat itu hanya timun suri, lalu jus sirsak yang dicampur jadi satu, plus susu dan sedikit gula.

Timun suri memang cukup terkenal di bulan puasa, ya karena buah satu ini cukup segar bila diolah menjadi menu takjil, bisa untuk sop buah, coctail dll. Mengomentari soal timun suri, saya ingat tahun lalu atau dua tahun lalu. Timun suri ramai dijajakan penjual di kiri kanan jalan, ketika itu saya masih di ibukota, Depok dan Jakarta. Banyak pedagang yang menjual timun suri di jalanan, warna buahnya cukup menggoda, hijau kekuningan yang cerah, sehingga ketika dijajakan di pinggir jalan terlihat sekali rasa segarnya jika dikonsumsi. Memangg cocok menjadi menu penggoda ketika di bulan puasa, apalagi mantab jadi menu berbuka puasa. Warna hijau kekuningan yang cerah itu sudah bisa dipastikan ketika dari kejauhan, pasti itu timun suri. Nah yang berbeda di tahun ini, saya tidak melihat timun suri seperti yang dulu, warna hijau kekuningan sudah tak terlihat lagi. Bukan karena timun surinya tidak ada, timun surinya ada, hanya warnya tak serah dulu. Timun suri yang dijual sekarang kecil buahnya, memang ada yang besar, namun warnanya sekarang cenderung pucat, putih kehijauan. Sehingga ketika kita melihat dari jauh, sulit meyakinkan bahwa itu adalah timun suri. Saya pikir, timun suri begitu karena pengaruh cuaca, karena tahun ini kemarau basah tak kunjung usai. Sedangkan timun suri maksimal panen ketika musim kemarau. Mungkin karena itu banyak petani yang memanen lebih awal untuk mencegah buahnya busuk atau gagal panen, sehingga efek hijau kekuningan tidak terlihat jelas. Rasanya sih tidak berbeda, tetap manis.

Menu takjil es sop timun suri buatan nyokap bisa dilihat di foto yang saya ambil di meja makan. Tidak jelas tapi lumayan untuk dokumentasi. Jadi ketika saya tak bisa pulang, saya bisa melepas kangen dengan membaca postingan ini dan melihat gambar yang saya sajikan. Sekian catatan saya di pos tentang wisata kuliner, meski saya tidak berwisata kuliner karena ini kuliner buatan sendiri, tapi tidak apa karena tidak jauh dengan kuliner. Jika ada yang mau mencoba es sop timun suri ini bisa berwisata ke rumah saya. ha3x, sekian, sampai jumpa di postingan tentang kuliner lainnya. "Yummmy"

Jumat, 26 Juli 2013

Wiskun: Bubur Sum-sum ala Nyokap

Senangnya, kenyang lagi perut ini. Cocok sekali untuk keberhasilan program penggemukan badan. he3x. Siang ini nyokap kembali membuat makanan rakyat, jajanan rakyat murah meriah. Jajanan rakyat yang saya maksud adalah bubur sum-sum. Kuliner yang terbuat dari tepung beras, yang ditemani santan kelapa dan gula merah cair. Nyokap paling senang buat kuliner yang seperti ini.

Sebenarnya sudah kangen juga sama bubur sum-sum, cuma karena nyokap selalu sibuk tidak 'kober' untuk buat, jadi baru terealisasi hari ini. Karena kebetulan juga ada tetangga yang pengin, dia seorang ibu yang sudah sepuh. Beliau sedang sakit, kata anggota keluarganya ibu ini sulit makan. Kebetulan nyokap juga sudah berencana membuat bubur sum-sum ini untuk di rumah hanya tidak ada waktunya, pas kebetulan ada tetangga kepengin, ya sekalian berbagi, jadi nyokap buat.

Membuatnya tidak sulit, ya karena saya cuma melihat saja sih, hi3x. Nyokap mengaduk air dan tepung beras ke dalam mangkuk adonan, lalu kemudian mangkuk adonan itu dicampurkan ke dalam panci besar untuk mengaduk bubur sum-sum itu. Diaduk terus sampai bubur tampak kalis. Di lain tempat sudah disiapkan juga santan cair yang dipanaskan hingga mendidih, bisa dari santan instan atau santan kelapa. Lalu cairkan juga gula aren atau gula merah untuk pencampur pemberi rasa manis di adonan bubur tadi.

Kenapa disebut bubur sum-sum, karena bubur ini berwarna putih, namanya sum-sum kan hubungannya sama tulang dan darah, darah warnanya merah, nah efek warna merah ini dari gula merah cair. Mungkin begitu kenapa dinamakan bubur sum-sum. Entah dari mana asal-usul kuliner satu ini, yang jelas sudah dikenal sejak jaman nenek moyangnya nyokap. Nyokap pasti dapat cara memasak bubur ini dari ibunya (nenek/ mbah/ eyang putri), nah ibunya nyokap dapat dari ibunya lagi. Nah jadi kan mungkin kuliner turun-temurun. Yang pasti tetap lestarikan kuliner rakyat seperti ini ditengah gempita berbagai macam kuliner hasil eksperimen yang semakin beragam. Sekian catatan saya soal kuliner ini. Sampai jumpa dicatatan tentang kuliner lainnya. (^_^)?

Kamis, 18 Juli 2013

Wiskun: Serabi Kinca ala Nyokap

Pernahkah tahu kuliner yang namanya serabi kinca? Entah dari mana asal kuliner yang satu ini. Yang jelas saya mengenal kuliner ini dari orang tua saya, terutama ibu yang membuatkannya. Karena cukup mudah untuk membuat kuliner yang satu itu. Kebetulan juga ibu saya ini bisa membuat segala macam kuliner bubur-buburan yang terbuat dari tepung beras dan tidak membutuhkan biaya lebih untuk itu. Jadi sering sekali ibu saya membuat kuliner rakyat yang banyak ragamnya itu.
Serabi dalam wadah sebelum dicampur dengan kinca
Santan dan gula  merah cair, untuk disiram sebagai kuah serabi
Hasil akhir, serabi kinca siap santap

Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari 'mbah Google', kuliner serabi kinca ini berasal dari tanah Sunda, tepatnya berasal dari Bandung, Jawa Barat. Serabi dalam serabi kinca ini sama atau mirip dengan kuliner serabi pada umumnya atau apem di Jawa. Kalau apem sendiri berasal dari turunan kata 'appom' atau 'appam' dari India. Makanan apem ini digunakan masyarakat Jawa untuk sesajen bagi para leluhur dan para dewa. Kalau serabi kinca sendiri menurut saya seperti pancake yang biasa dijual di cafe-cafe. Hanya saja pada serabi kinca ini ada teman gula merah cair dan santan untuk disiram dikue serabi.
Serabi kinca dalam hal ini serabinya itu dibuat dari bahan dasar tepung beras, yang kemudia dibuat adonan. Adonan ini kemudian dicetak ke dalam loyang berbentuk serabi atau loyang cembung. Untuk teman kuah siramnya berasal dari santan kelapa, bisa juga dari santan instan atau dari santan kelapa parut. Kemudian gula merah yang dipanaskan hingga cair. Serabi kinca yang dimaksud ini adalah serabi kinca ala tanah Pasundan. 
Serabi kinca ini jadi kuliner kesukaan saya. Ketika saya mudik pulang kampung, saya selalu minta ibu membuatkan kuliner ini. Kebetulan saat ini saya sedang dibuatkan kuliner serabi kinca.  Jadi saya coba buatkan dokumentasinya dan catatannya di sini. Setidaknya jika saya kangen dengan kuliner satu ini saya bisa mengingatnya ketika membaca tulisan ini. Soalnya jarang sekali pedagang atau cafe atau apa lah itu yang menjual kuliner ini, wajar karena jajanan ini termasuk jajanan pasar yang untuk sekarang ini belum dianggap layak dijual di lingkup cafe. Lalu mungkin jika masuk di cafe harganya tidak lagi harga pasar, jadi jelas menghilangkan nilai-nilai jajanan pasar. ha3x, ya itu menurut saya. Sekian catatan kuliner saya ini ; )

Selasa, 02 Juli 2013

Wiskun: Sego Pecel “Mbok Ijo”

Kembali lagi saya ingin posting tentang wiskun saya di Kota Cirebon. Kali ini saya dapat referensi makanan yang menarik, ya paling ga buat nongkrong isi perut sekedar mengganjal perut yang lapar. Wiskun kali ini adalah soal nasi pecel. Nasi pecel biasanya sih terkenal di daerah Madiun, tapi pecel yang ini yang buat katanya sih dari Jogja. Tak apalah kalau kita mencoba bagaimana rasanya. Kalau saya sih merasakan cita rasa pecel biasa saja, tidak ada perbedaan mencolok.

Tempat makan nasi pecel ini bernama Sego Pecel “Mbok Ijo”, lokasinya berada di depan sebuah ruko yang terletak di Jalan Veteran, Kota Cirebon. Lokasinya tidak jauh dari lampu merah Veteran yang berbatasan dengan perempatan Alun-alun Kejaksan. Tempat makannya sederhana saja, seperti tempat makan kaki lima gitu, Cuma tidak di trotoar. Lokasinya nyaman dan bersih.

Untuk harga per porsi kalau tidak salah itu Rp 8.000,00 harga tercatat sebelum harga BBM naik (24 Juni 2013) lho, tidak tahu kalau harga setelah BBM naik, saya belum ke sana lagi. Per porsi seharga itu bisa dilihat di gambar yang saya ambil di lokasi. Kalau soal rasa komentar saya sih lumayan lah, biasa seperti makanan nasi pecel. Saya memang tidak terlalu suka nasi pecel, jadi saya tidak terlalu bisa membedakan cita rasa nya. Tapi buat yang mau coba menu nasi pecel di Cirebon, bisa mampir di sini. Monggo : )

Selasa, 18 Juni 2013

Wiskun: Nasi Jamblang Pelabuhan Cirebon

Kembali saya memanfaatkan waktu panjang saya di Cirebon ini untuk mencicipi kuliner Cirebon yang sudah lama tak saya santap. Beberapa waktu lalu saya pernah buat postingan tentang nasi jamblang, karena rasa kangen saya terhadap kuliner saya yang satu itu. Berbeda dengan postingan lalu, kali ini saya memposting karena masih fresh, saya baru saja menyantap nasi jamblang. Nasi jamblang yang saya santap ini, nasi jamblang pelabuhan, Kota Cirebon. Di sini tempat nasi jamblang yang buat saya tertarik dibandingkan nasi jamblang lainnya. Pilihan warung nasi jamblang di kota ini sangatlah banyak, namun ya tempat ini yang lebih saya sukai, meski tak menolak jika makan di warung nasi jamblang lainnya.

Pagi ini saya menyempatkan waktu untuk wisata kuliner ke warung jamblang pelabuhan, yang lokasinya di samping pintu masuk Pelabuhan Kota Cirebon. Dekat pintu masuk eks Taman Wisata Ade Irma Suryani. Sedari dulu saya kenal tempat ini tidak lah berubah, ya hanya bergeser di situ-situ saja. Mungkin dulu letaknya agak ke depan, tapi sekarang lebih menjorok ke dalam. Nah ada yang unik dari nasi jamblang pelabuhan, yaitu menyoal lokasi. Untuk menuju tempatnya mesti masuk celah pintu kecil, antara gapura dengan tembok. Celahnya cukup sempit, ya macam gang senggol. Ini yang unik, entah kenapa tidak dibuka saja pintunya, kenapa harus sesempit itu. Kalau saya berpikir, apakah itu "sarat" tertentu agar jualannya laris? Entahlah, tapi buat saya, nasi jamblang adalah khas.

Pagi ini saya mengajak sepupu saya dari Flores untuk mencoba kuliner khas Cirebon ini. Saya memilih menu nasi jamblang panas, dengan lauknya sambal merah, sate kentang dua tusuk dan telor dadar, sedangkan sepupu saya memilih menu nasi jamblang panas (posri cewe), sate kentang, semur tahu dan tahu bulat plus sambal merah. Minumnya cukup teh tawar hangat saja. Untuk dua porsi nasi jamblang itu sekitar Rp 18.000,00. Dibayar langsung setelah kita pilih lauk, sehingga setelah makan kita bisa langsung pulang. Pagi ini sih tidak terlalu ramai, jadi nyaman untuk makan dan ngobrol. Meski tak ramai selalu saja ada yang datang untuk makan di sini.

Soal rasa, ya nasi jamblang dimana-mana menurut saya sama, khusus yang dijual di Kota Cirebon dan sekitarnya. Kalau di luar daerah itu tentunya rasanya pasti agak berbeda, kecuali memang si pembuatnya asli orang Jamblang. Mungkin karena ada bumbu-bumbu tertentu untuk memasak lauk yang ada di menu nasi jamblang.

Yang unik lagi di depan pintu masuk gang senggol itu ada pengemis yang duduk mengharap receh dari penggunjung. Unik memang, meski buat saya ada rasa tidak nyaman. Karena mereka duduk dekat sekali dengan jalan masuk, sangat tidak etis melangkah diantara orang yang duduk meminta-minta di sana. Tapi sudahlah, mungkin di sana mata pencaharian mereka, memang sangat disayangkan hidup dengan meminta.

Sekian dulu catatan wiskun saya, sayang sekali saya tidak bisa menyajikan fotonya, karena saya lupa membawa kamera hape atau kamera sejenisnya. Jadi mungkin fotonya saya sajikan menyusul saja. Salam wiskun :) "Maknyos!" (^_^)?

Selasa, 21 Mei 2013

Wiskun: Bubur Sop Ayam ala Pedagang Cirebon

Bubur ayam, semua pasti sudah sering mencicipi makanan yang satu ini. Ya wajar saja, biasanya dikonsumsi untuk santap sarapan. Bubur ayam banyak ragamnya itu yang saya tahu. Karena sering sekali saya menemukan bubur ayam disajikan dengan rupa dan cita rasa yang berbeda. Tetapi intinya ya tetap bubur atau nasi yang dimasak lembut dan suir-suir daging ayam jadi poin wajib.

Bubur ayam yang sering saya temui ada bubur ayam kering, ada bubur ayam yang agak berkuah, dan ada yang berkuah banyak. Nah yang saya temui di sini adalah bubur ayam yang berkuah, namaya adalah bubur sop ayam. Setidaknya itu yang saya lihat di spanduk kain yang dipasang di gerobak jualannya.

Bubur sop ayam ini sangat banyak kuahnya, jadi itu bubur seperti terbanjiri kuar. Malah dari tampilannya buburnya tak terlihat karena tertutup kuah kaldu tauco yang berwarna coklat, kemudian suiran ayam, kol, seledri dan kacang. Soal rasa yang saya rasakan ketika menikmati kuahnya yaitu berasa seperti kuah tauco. Bumbu tauconya sangat terasa, karena seperti ada kacang kedelainya. Yang saya tahu itu tauco itu terbuat dari kacang kedelai.

Kalau rasa keseluruhan sih biasa saja, tidak terlalu berkesan. Ya begitulah yang saya rasakan ketika menyantap menu kuliner bubur ayam. Tapi setidaknya dengan mengenal ragam menu bubur ayam jadi menambah wawasan tersendiri. Setidaknya sih kalau lagi sakit, menu bubur pasti jadi pilihan karena kelembutannya, jadi nanti tinggal pilih menu bubur yang model apa.

Sekian dulu share saya soal kuliner yang saya temui. Ya paling tidak ini jadi tempat saya untuk berbagi dan sekaligus jadi catatan pribadi saya. Sampai jumpa di jenis kuliner yang lainnya. (^_^)?

Minggu, 05 Mei 2013

Wiskun: Batagor Ichsan, Depok

Kembali saya mau sharing soal tempat hangout lainnya, masih di kota Depok. Tepatnya di jalan Margonda Raya, kiri jalan arah Jakarta. Letaknya itu setelah Detoz, beberapa ratus meter, kiri jalan ketemu SPBU Shell, 50 meter sudah komplek Batagor Ichsan. Tempatnya jadi satu dengan tempat makan lainnya seperti Kopi Tiam, Bubur Barito. Sepertinya di sana tempat makan terintegrasi. Sering saya hanya lewat di depannya, tempat ini selalu saja ramai, baik hari biasa maupun weekend. Parkirannya selalu saja penuh, baik pengunjung dengan sepeda motor maupun mobil.
Tempatnya memang nyaman, dari parkirannya hingga tempat makannya. Untuk parkiran memang tanpa atap, jadi jika ke sana saat hujan pasti akan kuyup kendaraan kita, terutama untuk pengguna motor.
Semalam seperti biasa M e m e y, ingin mencoba Batagor Ichsan, karena penasaran seperti apa, katanya sih enak. Sebelumnya di Purwokerto soal batagor sudah sering mencoba, ada Batagor Eric, ada juga Batagor Kitasari. Itu jaman waktu kuliah di Purwokerto. Harganya relatif murah untuk kantong mahasiswa. Dengan pembanding itulah kami datang kemari.
Batagor Biasa
[Sumber: Dokumentasi cocoper6]

Es Shianghai dan Es Lecy
[Sumber: Dokumentasi cocoper6]
Sampai di TKP, kami duduk dan ditawarkan daftar menu, di sini daftar menu nya sudah terintegrasi, jadi duduk dimana saja kita bisa pesan menu makan yang berbeda. Malam ini saya pesan Batagornya, karena juga penasaran soal rasanya. Di sini harga yang ditawarkan satu porsi Batagor Biasa itu 16K. Tersedia dalam satu posri ada potongan telur rebus setengah. Kemudian untuk menu minuman saya memilih Es Shianghai dan M e m e y memilih Es Lecy.
Kembali bahas soal tempat, jujur di sini nyaman untuk hangout bareng teman atau keluarga. Di sini cukup banyak tersedia tempat. Tak lama menu pun datang, tidak menunggu terlalu lama, mungkin karena menu kami sederhana. Tetapi saya lihat dari meja lainnya, jeda waktu pesan menu dengan diantarnya menu juga relatif tidak lama.
Nah tiba kami mencoba menu yang dihidangkan. Hmm, komentarnya “biasa saja” sama seperti batagor biasa, bahkan bila dibandingkan dengan Batagor Eric atau Batagor Kitasari malah mending batagor di sana, harga pun jauh. Komentar biasa muncul karena ketidak sinkronan antara harga dan rasa, cukup mahal 16K untuk satu porsi batagor Untuk Es Lecy masih lebih baik, tapi menurut saya kurang spesial aja, dibandingkan Es Lecy milik Pizza Hut. Nah, soal Es Shianghai, es ini mirip es campur, hanya dibuat dengan menggunung, ada es krim ditaruh di puncak gunungan es serut, ditambah astor, ditambah uga hiasan mesis dan agar-agar warna-warni, ada nanas, lecy. Soal buah yang ada di dalam es ini saya duga dari buah koctail instan. Rasa ini yang membuatnya tidak compact, jadi rasanya seperti kurang gimana gitu, “biasa saja”. Malah lebih oke dengan Es Oyen atau Es Campur biasa yang ada di pinggir jalan. Balik lagi, karena harga dan rasa tidak sinkron. All comment menurut saya biasa.
Penasaran saya, menu apa sih yang membuat daya tarik pengunjung kemari? Apakah karena taste atau karena tempatnya yang nyaman? Pertanyaan yang masih belum terjawab. Oh iya, barang kali ada rekan yang pernah merasakan sensasi lain makan di sini, bisa sharing di sini, sekalian bantu teman-teman yang penasaran dan ingin mencoba ke sana. Sekian sharing wiskun saya kali ini (^_^)?

Sabtu, 04 Mei 2013

Wiskun: H.E.M.A Resto, Keb. Baru

Uih, satu lagi resto yang menarik, dan bisa dijadikan rujukan untuk tempat makan baru, buat yang doyan ganti-ganti pasangan (up’s salah), berganti-ganti tempat makan maksudnya.

Sebetulnya ini saya diajak oleh M e m e y, yang senang hunting tempat makan baru. M e m e y sebelumnya sudah beberapa kali ke tempat ini, 2x tepatnya bersama rekan-rekan kantornya. M e m e y tertarik dengan menu kesayangannya di sana, yaitu Huzaren Sla. Beberapa hari ini memang sudah ingin ke sana, dan semalam akhirnya bisa kesampaian.

Huzaren Sla

Holland Tea and Fruit Punch

Fettuchini Carbonara

H.E.M.A Resto merupakan resto bergaya Belanda, alias londho. Dari luar sih restonya seperti rumah gitu, tapi memang terlihat dari luar ekslusif, kalau buat yang belum pernah mengunjungi tempat makan seperti ini pasti ragu. Kebetulan ada M e m e y yang di depan #payahsayaini.

Di sana kita disambut oleh penerima tamu, dan memilih tempat duduk yang dekat pintu dan jendela. Setelah duduk, diberikan buku menunya. Wah, pertama saya lihat bingung, nama menu makannya bikin “lieur”, pakai bahasa yang saya kurang mengerti. Kembali M e m e y menjadi guide di sini. Seperti yang disampaikan di atas, M e m e y langsung memilih menu kesayangannya, Huzaren Sla menu salad. Saya sendiri bingung memilih menu apa, akhirnya saya memilih menu yang saya ketahui Fettuchini Carbonara. Sebelumnya saya juga sudah pernah mencicipinya di Pizza Hut, jadi saya ingin membandingkannya. Untuk minumnya saya memilih Fruit Punch, biar seger. M e m e y sendiri memilih Holland Tea.

Tak lama kita menunggu menu makan datang. Sambil menunggu saya sempatkan melihat-lihat sekeliling, resto ini dibuat seperti layaknya rumah, ada pernik tungku api dan kursi goyang, serta hiasa lukisan dan poster yang menceritakan tentang negeri Belanda.

Oh iya, soal harga, ya lumayan lah, kelasnya medium. Tidak murah tidak juga mahal. Untuk menu Huzaren Sla itu harganya 23K, Fettuchini Carbonara 35K, Fruit Punch 17K dan Holland Tea 15K. Sebenarnya ada banyak menu-menu lainnya yang harganya lebih dari ini, penasaran silakan mampir saja.

H.E.M.A Resto ada di beberapa tempat di area Jakarta dan Bekasi. Resto dimana kami makan ini beralamat di Jl. KH. Ahmad Dahlan No. 18 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Tempat lainnya di Jakarta ada di TIS Square Jl. Jend. MT. Haryono Kav.9, Tebet, Jakarta Selatan. Kemudian ada di Royal Netherlands Embassy, Jl. HR. Rasuna Said Kav. S-3, Kuningan, Jakarta Selatan. Ada juga di Menteng Muis Jl. Cikini Raya No. 2-4 Menteng, Jakarta Pusat. Untuk di daerah Bekasi ada di Jl. Kemang Pratama Raya Blok MM 19-28, Kemang Pratama, Bekasi. Ada juga di Bekasi Square LG-170 Jl. Jend. Ahmad Yani, Bekasi. Sekian info soal Wiskun nya, kalau penasaran silakan mencoba. Kalau ada yang sudah coba, share juga di comment, biar ramai. (^_^)?

Sabtu, 13 April 2013

Rasa Tidak Pernah Bohong

Malam ini sepulang misa sore saya dan M e m e y coba mencari sesuatu untuk makan malam. Kebetulan M e m e y sedang pengen martabak asin. Akhirnya kita cari tukang martabak langganan, tempatnya di deket Stasiun Depok Lama. Tidak percis dekat stasiun sih, soalnya masih di pinggir jalan Margonda-Citayam. Posisinya letter T dari belokan ke arah Stasiun Depok Lama, pas kiri jalan sebelum belokan ke arah stasiun ada tukang martabak, di sana biasa kita beli martabak.
Sambil menunggu martabak asin pesanan, saya coba lihat-lihat DVD di sebelah tukang martabak itu (kanan). Sesudah lihat-lihat, ternyata perut lapar, M e m e y pun belum makan. Nah terlihat di sisi sebelah lagi tukang martabak ada warung empal gentong Cirebon. Begitu sih tulisannya di spanduk warungnya, di situ sih tertulis ada menu khas dari Cirebon seperti nasi jamblang, nasi lengko. Namun di dalamnya hanya menjual empal gentong saja. M e m e y belum pernah makan empal gentong, akhirnya kita cobalah makan di sana.
Warungnya sih sebenarnya tak layak lah, tidak jelas juga bentuknya dan menurut saya sih kotor, kurang nyaman saja. Ketika kami duduk ya sedikit kurang nyaman. Kami pesan dua porsi, tetapi ternyata cuma ada satu porsi, ya sudah tak apalah, toh hanya sekedar mencoba, kalau tidak enak jadi tidak rugi. Sambil menunggu pesanan, saya lihat-lihat ada acar, tapi pas saya lihat acarnya sepertinya sudah tak layak. Lalu saya lihat juga jeruk purut yang ada di pisin, jeruknya pun sudah tak segar lagi. Benar-benar tak layak lah, rasanya saya sudah salah memilih tempat makan.
Tak lama datang itu makanan yang kami pesan. Karena hanya satu porsi empal gentong dan kami berdua, akhirnya lontongnya yang dibuat dua porsi. Ketika saya lihat bentuknya, dari kuahnya, komentarnya saya "Wah, mengecewakan, tidak seperti empal gentong asli yang biasa saya temui di Cirebon." Kemudian saya coba kuahnya, dan ternyata memang tidak jauh berbeda dengan komentar hasil pandangan mata. Saya cicipi kuahnya seperti kuah soto biasa dengan bumbu empal. Kemudian saya coba dagingnya, nah di sini saya jauh lebih kecewa lagi, rasa dagingnya adalah rasa seperti daging busuk. Saya menduga, itu empal dimasak sejak beberapa hari lalu, dan dagingnya sudah tak layak makan, tetapi masih saja dijual. Akhirnya saya tidak makan, saya hanya habiskan lontongnya saja sebagai ganjalan perut karena lapar.
Jujur saya kecewa, dan saya katakan KAPOK untuk ke sana lagi. Saya kecewa karena saya mengajak orang lain untuk merasakan kuliner khas Cirebon, tetapi ternyata rasanya seperti itu. Saya harap kapan-kapan bisa merasakan kuliner empal gentong asli Cirebon yang sebenarnya, bukan empal palsu seperti yang kami makan hari ini. Memang, "rasa itu tidak pernah bohong", percayalah pada indera perasa mu, karena makanan enak pasti punya cita rasa yang "jujur". (^_^)?