Tampilkan postingan dengan label Iman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Iman. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Juli 2013

Pengalaman Iman dari Maria dan Marta (Bdk. Lukas 10: 38 42)

Pengalaman Iman dari Maria dan Marta, itu yang ingin saya tulis kali ini. Pengalaman iman ini saya peroleh dari bacaan Injil hari Minggu dan renungan dari khotbah romo yang memimpin misa sore ini. Melalui Maria dan Marta digambarkan bahwa seperti itulah sedikit wajah manusia. Namun dari pengalaman iman yang dialami Maria dan Marta bisa jadi pelajaran juga untuk kita, jika kita mau merenungkannya.

Bacaan Injil sore ini mengisahkan soal Maria dan Marta yang mendapat kunjungan Yesus, ketika Yesus dengan murid-muridnya mengunjungi Yerusalem. Ketika tiba di suatu desa, Yesus diterima di rumah Marta. Marta mempunyai saudara yang bernama Maria. Ketika Yesus datang dan berada di rumah Marta, Maria saudara Marta duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedangkan Marta sibuk melayani. Melihat Maria asyik duduk dekat Yesus, Marta mendekati Yesus dan berkata, "Tuhan, tidakkah Engkau peduli bahwa saudariku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku." Tetapi Tuhan menjawabnya, "Marta, Marta, engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak hal, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian terbaik, yang tidak akan diambil dari dia."

Romo memberikan perenungannya dari bacaan Injil Minggu ini. Bahwa kita diajak untuk menyadari bahwa kita harus punya waktu untuk mendekatkan relasi dengan Tuhan, bukan berarti kita sibuk, kita melupakan relasi dengan Tuhan. Marta memilih untuk duduk dekat Yesus dan mendengarkan sabda-Nya, sedangkan Marta sibuk melayani. Bukan berarti apa yang dilakukan Marta salah dan Maria juga salah, tidak ada yang salah dari keduanya. Hanya saja, kita diajak untuk melakukan keseimbangan. Maria memilih untuk dekat bersama Yesus, diharapkan apa yang sudah diperoleh ketika berelasi dengan Yesus bisa diterapkan dengan baik dalam kehidupan. Kemudian, kita tidak boleh memelihara benih-benih sakit hati, iri hati dll. Karena disanalah awal dari segala yang jahat, dari sakit hati itu akan teradi terus balas membalas karena alasan sakit hati atau iri hati sebelumnya.

Romo mengisahkan pengalaman pribadinya ketika di seminari, berkaitan dengan sakit hati. Di asrama seminari dimana sewaktu romo masih pendidikan, tinggal beberapa calon romo. Di sana tinggal frater-frater dari berbagai latar belakang, ada yang kaya, menengah sampai yang miskin. Kebiasaan ketika habis kunjung pulang ke keluarga, frater-frater itu terkadang membawa buah tangan dari rumahnya untuk bekal selama di seminari. Ada frater dari keluarga biasa saja membawa makanan rakyat, buat frater dari yang keluarga kaya membawa makanan yang sedikit berbeda. Di pengalaman romo ini diceritakan ada seorangg frater membawa biskuit, biskuit jadi barang yang agak langka di sana. Nah frater ini bisa dianggap pelit, karena biskuit yang dia bawa hanya disimpan di lemarinya saja, tidak bersama-sama dibagi ketika sedang kumpul bersama frater lainnya. Akhirnya muncul rasa iseng dari kawan fraternya, untuk mengambil biskuit itu. Jadi ketika pulang dari sekolah, frater yang ingin iseng itu pulang lebih dulu untuk mengamankan biskuit milik frater yang pelit tadi. Frater yang pelit tadi tidak tahu. Malam hari ketika acara kumpul bersama, oleh frater iseng tadi biskuit hasi curian tadi dikeluarkan untuk makan bersama. Kemudian datang frater pelit tadi, ikut makan bersama, sambil dipikirannya muncul rasa heran, dari mana asal biskuit-biskuit ini padahal sebelumnya tidak pernah ada yang membawa makanan sekelas biskuit ini. Akhirnya frater pelit ini melihat ke lemarinya dan melihat biskuitnya kosong. Frater ini tidak mempermasalahkannya, hanya menyimpannya di dalam hati, padahal ada rasa kesal. Akhirnya suatu waktu sepulang dari sekolah, frater pelit tadi sedang mampir di sebuah warung makan. Frater ini memanggil teman-temannya frater untuk datang makan bersama, pikir dari teman-teman frater yang diundang adalah akan ada traktiran. Akhirnya teman-teman frater pelit tadi makan, belum teman-teman frater pelit tadi selesai makan, frater pelit pamit pulang setelah membayar hanya makanan yang dia makan saja. Sontak situasi ini membuat teman frater pelit yang diajak makan kaget dan bergumam dalam hati, karena mereka tidak membawa uang untuk membayar makanan yang telah dimakan. Inilah balasan atas apa yang dilakuan beberapa waktu lalu soal biskuit. Akhirnya si pemilik warung makan sadar, bahwa ada masalah diantara mereka yang sedang makan kalau tidak membayar. Akhirnya si pemilik warung memberikan keleluasaan agar dilain waktu mereka bisa membayarnya, besok bisa sepulang sekolah membayarnya.

Dari kisah itu, kita diajak merefleksikan bahwa sifat buruk sakit hati yang tersimpan akan menjadi perbuatan buruk, yang kemudian jadi perbuatan balas-membalas, karena kepuasan yang negatif muncul setelah bisa membalas kesakithatian yang dialami. Jika hal ini dilakukan terus menerus makan tidak akan ada ujung pangkalnya. Bagaimana meredam sakit hati adalah kuncinya untuk memutus mata rantai. Kita diajak untuk melakukan demikian, untuk membuang sifat sakit hati, iri hati, dengki dan segala macam yang buruk.

Kalau perenungan yang bisa saya ambil dari bacaan Injil adalah Maria dan Marta adalah gambaran manusia, ya kita ini. Dari apa yang mereka alami itu menunjukan agar kita dalam melaksanakan sesuatu itu sepenuh hati, dan jangan mengeluh atas apa yang kita lakukan. Sama sih dengan yang romo katakan, bahwa kita juga tidak boleh iri hati. Nah Maria memilih untuk duduk dekat Yesus dan mendengarkan pengajaran Yesus. Pilihan itu harus dilakukan sepenuh hati, yaitu dengan mengamalkan pengalaman relasi pegajaran Yesus yang sudah diperoleh di kehidupan sehari-hari. Marta memilih untuk sibuk bekerja melayani tamu yang datang ke rumahnya. Apa yang dilakukan Marta tidaklah salah, Marta melayani. Namun yang harus diperhatikan, lakukanlah dengan sepenuh hati dan segenap hati, janganlah ada perhitungan apa lagi rasa iri hati. Apa yang Marta tanyakan terhadap Yesus adalah contoh bentuk keirihatian, dan itulah pelajaran iman yang bisa kita ambil.

Saya sadar, saya manusia yang masih melakukan apa yang terjadi pada Maria dan Marta, dari refleksi yang ada mencoba saya lakukan sesuai jalan yang Yesus ajarkan. Renungan ini sangat mengena, saya bisa menyadari kekurangan saya. Berusaha untuk menjadi lebih baik harus terus dilakukan agar kita bisa bersama Yesus nanti, di tempatnya yang kudus di surga. Amin.

Senin, 22 April 2013

Iman dan Ilmu

Pagi beberapa waktu yang lalu saya mendengarkan ceramah subuh di televisi. Meski saya bukan pemeluk kepercayaan dari si penceramah, tapi saya terkadang simpatik mendengarkan apa yang disampaikan si penceramah. Cara penceramah menyampaikan pesan-pesan moral serta pesan agamanya cukup menarik.
Menggelitik ketika penceramah membahas soal iman dan ilmu. Selama ini saya tidak pernah membedakan apa itu iman dan ilmu. Nah di sini saya pahami apa bedanya. Iman, kita terima dahulu baru bertanya, sedangkan ilmu tanya dahulu baru kita terima. Dan memang benar seperti inilah yang terjadi.
Tapi yang saya lihat keduanya sering sama-sama diperdebatkan di masyarakat, antara pemeluk iman satu dengan yang lain atau antara ilmuwan satu dengan yang lain. Seharusnya ketika kita dihadapkan dengan iman, tidak usah lah kita ribut memperdebatkan apa yang diimani orang lain. Iman adalah keyakinan yang diyakini seseorang untuk menuntun hidupnya ke arah lebih baik. Iman itu juga termasuk hak paling asasi, menurut saya.
Ilmu, kalau ilmu memang benar, kita pasti bertanya terlebih dahulu sebelum kita meyakininya. Karena ilmu itu sendiri lahir karena kajian-kajian yang perlu diperdebatkan untuk mendapatkan hasil yang terkaji dengan baik. Memang ada yang dikenal ilmu pasti, tanpa perlu dikaji itu pasti. Tetapi perbedaan ilmu akan selalu berkembang berdasarkan kebutuhan manusia. Semakin ilmu itu dikaji semakin kaya lah ilmu tersebut, itu menurut saya.
Sedangkan iman hanya bisa pribadi kita yang kaji dengan bantuan hati, serta mencoba menjalin relasi dengan Pencipta. Atau juga melalui sharing dengan sesama yang satu iman. Kajian iman adalah melalui sharing dengan sesama yang seiman. Contohnya, mendengarkan ceramah agama, ikut diskusi tentang iman, atau sharing pengalaman iman.
Bila kita ada di pihak lain yang tak seiman mendengarkan apa yang disampaikan menurut iman orang lain, tak perlu kita memperdebatkan. Jangan perlakukan iman seperti ilmu, karena yang ada adalah merusak hubungan diantara umat yang beriman. Tapi justru apa yang dilakukan itu sebenarnya menunjukan orang tersebut tidak punya iman.
Apa yang saya tulis ini apa yang ada dipikiran saya, opini yang muncul karena terpancing sesuatu yang menarik dan menggelitik tentang iman dan ilmu.


Minggu, 07 April 2013

Memandang Hal Berbau Mistik/ Klenik

Beberapa minggu terakhir di infotaiment ramai sekali dibahas perseteruan antara Adi Bing Slamet dengan Eyang Subur. Perseteruan seorang murid yang katanya sih telah disesatkan oleh gurunya itu, yang menurut Adi gurunya menggunakan ilmu sesat. Ramai sekali perdebatan mereka di berita. Masing-masing punya pendukung, ada yang memang pernah jadi korbannya, ada yang mendukung pihak si tertuduh, karena mereka merasa tidak pernah dilakukan seperti itu. Mungkin karena juga sering diberi sesuatu oleh si tertuduh jadi lain pembelaannya. Yah kita tidak tahu bagaimana dan siapa yang benar. Tetapi nantinya yang benar akan terlihat dan masyarakat pasti bisa menilainya sendiri, siapa yang memang berbohong. Pastinya salah satu jelas berbohong. Karena pada prinsipnya, mana ada seorang dukun mengaku dirinya sesat dijaman seperti sekarang ini, kalau ada pasti sudah habis dihakimi oleh FPI (laskarnya kebenaran dunia, anggapan saya #sindiran) dan sudah dinyatakan sesat oleh MUI.

Dunia klenik atau mistik yang berbau ilmu supranatural itu menurut saya memang ada. Karena Tuhan sendiri memang menciptakan makluk dalam rupa seperti itu, tidak terlihat namun mereka ada. Dan janji mereka terhadap Tuhan adalah akan berusaha terus menyesatkan manusia agar tidak mengimani Tuhan Sang Pencipta. Itu sudah tertulis di kitab suci berbagai kepercayaan. Mereka adalah iblis, yang akan terus mempengaruhi manusia untuk jauh dari jalan Tuhan.
Soal ilmu hitam atau ilmu putih. Pada awalnya saya meyakini bahwa keduanya itu ada. Tetapi setelah saya ngobrol dan berdiskusi dengan teman, akhirnya pandangan saya itu sedikit berubah. Ilmu itu semua diciptakan baik adanya. Soal apa itu alirannya putih atau hitam adalah tergantung bagaimana menggunakannya, untuk jalan yang baik atau buruk. Jalan yang direstui oleh Tuhan atau yang sesuai dengan jalan iblis. Itu saja sebenarnya yang membedakan. Begitulah kesimpulan yang saya peroleh.
Kalau saya pribadi pernah tahu tentang hal seperti itu, namun belum pernah bersentuhan langsung dengan hal-hal yang mistik atau klenik, atau yang berkaitan dengan ritual-ritual tertentu, untuk mendapatkan sesuatu atau apapun itu dengan memohon atau berharap pada sesuatu yang bukan dari Tuhan. Memang kenyataannya sulit membedakan hal tersebut, ada yang mengatakan mengharapkan sesuatu itu melalui perantara Tuhan juga, tetapi koq ujungnya lain. Karena segala sesuatu yang berasal dari Tuhan itu tidaklah instan, sedangkan yang dijalankan itu sebaliknya. Memang sih, tidak ada yang tak mungkin bagi Tuhan. Inilah yang membuat kita manusia bingung, dan perlu iman yang kuat untuk memahami ini semua.
Menurut agama saya, Katolik. Hal-hal semacam ritual klenik atau mistik itu tidak terlalu dibahas detail dan mendalam. Saya hanya mengakui bahwa iblis itu ada dan mereka punya tujuan yang akan mereka lakukan hingga akhir jaman, entah bagaimana caranya semua sudah ditunjukan di Alkitab. Yang saya pahami adalah bagaimana menghadapi itu semua, yaitu dengan selalu mendekatkan diri kepada Tuhan, dan selalu percaya akan cara Tuhan berkarya pada diri kita. Karena semua akan indah pada waktunya. Iblis hanya bisa dilawan dengan  keteguhan iman dan percaya akan Tuhan jadi kunci.
Kembali ke soal pengalaman saya. Ada pengalaman dari anggota keluarga yang pernah mengikuti hal-hal semacam itu. Konstruksinya memang sama seperti yang dikisahkan oleh Adi Bing Slamet. Memang sih tidak mesti mirip dengan yang Adi lakukan, karena kalau merujuk atas pengalaman Adi konotasinya negatif. Hanya cara dan ritualnya yang ada kemiripan.
Memang ciri orang yang menyatakan mampu atau mengerti dengan hal-hal spritual atau mistik, klenik atau gaib itu ada kemiripan. Ya itu tadi, segala sesuatu dan tindakannya tidak jauh dengan hal seperti itu juga. Memang mereka mengaku menggunakan kekuatan mereka dari Tuhan. Bahkan sampai bacaan atau mantra yang digunakan menggunakan lafal-lafal agama yang mereka yakini. Ajaran-ajaran positif memang mereka ajarkan, dan kalau yang awam mengetahui pasti bilang tidak ada yang aneh. Kalau saya menilai, mereka terkesan netral terhadap semua agama atau menganggap semua agama sama saja, meskipun bacaan yang dipergunakan lebih dekat dengan lafal dari keyakinan tertentu.
Ciri awal ketika kita pertama mengenal orang dengan kemampuan seperti itu dimulai dengan menerawang nasib, atau membaca soal kepribadian kita. Kalau kita interest atau tertarik biasanya akan dilanjutkan dengan pembicaraan lainnya, biasanya dimulai dengan membahas masalah hidup si pasien (saya sebut begitu). Setelah terjadi keterbukaan di obrolan itu, barulah orang yang 'pandai' itu memberi solusi dengan cara lain, yang diluar cara seorang konselor memberi solusi. Nah di sinilah hubungan yang berbau klenik, mistis atau ritual gaib dimulai. Begitulah secara singkat, sesuai apa yang saya ketahui dari pengalaman anggota keluarga yang menceritakannya pada saya.
Kalau dihubungkan dengan kasus Adi Bing Slamet menurut saya memang ada benarnya dengan apa yang Adi  sampaikan ke media soal apa yang dialaminya. Kalau didalami lebih dalam pembedanya hanya bisa diketahui dari orang yang mengalami sendiri. Bila kita orang luar yang tidak tahu apa-apa alias awam pasti tidak akan mempercayainya begitu saja, apalagi kita orang yang berpikir dengan cara logika. Bagi yang mengerti atau mereka yang punya aliran serupa yaitu orang yang paham dunia klenik, mistik dan gaib pasti akan tersenyum dan bisa mengetahuinya, namun belum tentu mereka akan membeberkan mana yang benar dan salah. Mungkin itu kode etik dari mereka yang punya profesi serupa.
Oh iya, kembali lagi ke pengalaman seputar hal seperti itu. Anggota keluarga saya yang pernah dekat dengan hal seperti itu pernah juga mengajak saya, katanya sih untuk meruwat. Namun apa yang saya alami biasa saja, saya tidak merasa seperti dimasuki sesuatu ketika saya seperti diritualkan. Saya tetap memposisikan untuk berpikir logika saja ketika itu. Saya juga sempat diberikan sesuatu oleh orang yang paham soal hal mistik, klenik dan gaib itu. Sesuatu itu seperti potongan kecil seperti karpet dengan motif rambut. Entah itu potongan kulit beserta rambutnya atau apalah itu, di balik kulit rambut itu ada lafal-lafal tertentu yang saya tidak tahu. Sewaktu awal dikasi sih baunya wangi, ya wangi kaya bau parfum arab gitu deh. Namun setelah lama berlalu baunya sudah hilang. Katanya sesuatu itu suruh disimpan dan saya bawa. Saya hanya melakukan saja, karena saya tidak enak sama yang memberi, kenyataannya sesuatu itu saya simpan saja. Sampai sekarang sesuatu itu sepertinya masih ada, saya sudah lama tak pernah melihatnya lagi. Ingin sekali saya buang, tetapi itu pemberiaan, saya hanya merasa tidak sopan membuang pemberian orang. Jadi bingung juga, akhirnya saya simpan begitu saja.
Seperti itulah pengalaman saya seputar hal-hal yang seperti itu. Memang tidak langsung berhubungan atau ditunjukan hal-hal yang benar-benar gaib. Ya memang baru sebatas itu saja yang pernah saya temui, tetapi saya bisa membayangkan lebih jauh apabila apa yang saya alami itu saya percayai dan yakini, mungkin saja saya bisa 'tersesat'. Tapi sudahlah, biarlah itu adanya, bagi kita yang belum pernah tetaplah dan yakin akan kuasa Tuhan, biarlah yang seperti itu berjalan dengan apa adanya, tidaklah usah kita ikut campur atau mencampuradukan. Semua sudah ada porsinya, percayakan nasib dan hidup kita di tanganNya karena Dia yang berkuasa atas kita manusia dan dunia ini berserta segala isinya, bahkan termasuk mereka yang tak kelihatan. Tuhanlah Raja Semesta Alam. Amin


Hiduplah Seperti Orang Berkhotbah

Khotbah adalah pesan-pesan yang disampaikan seseorang kepada orang lain/ orang banyak, isinya adalah pesan-pesan yang bermakna positif dan membangun. Khotbah biasanya diberikan oleh pemuka agama ketika berceramah. Pesan yang disampaikan penceramah merupakan segala sesuatu yang baik, sesuatu yang mengajak kita untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan jalan yang digariskan Tuhan Yang Maha Kuasa,  yang berkaitan dengan agama atau berhubungan dengan nilai-nilai moral.
Kata khotbah sendiri berasal dari bahasa Arab khutbah yang artinya sebuah presentasi atau pidato. Pengertian khutbah lainnya adalah perkataan yang disampaikan di atas mimbar. Ada definisi lainnya yang disampaikan Dr. Ahmad Al-Hufi yaitu merupakan cabang ilmu atau seni berbicara di hadapan banyak orang dengan tujuan meyakinkan dan mempengaruhi mereka.
Kalau menurut agama saya Katolik, ada yang namanya khotbah dan atau homili. Biasanya diberikan oleh seorang Romo atau Pastur, atau juga bisa seorang Diakon yang diberikan tugas oleh Romo/ Pastur untuk memberikan khotbah ketika misa. Rohaniawan kontemporer sering menggunakan istilah 'homili' untuk merujuk pada sebuah khotbah singkat, yang disampaikan pada suatu pernikahan atau pemakaman. Dalam penggunaan sehari-hari, homili seringkali berarti khotbah yang berisikan hal-hal praktis, sebuah nasihat atau pesan yang berisi ajaran moral atau peringatan, atau suatu ucapan yang memberikan inspirasi.
Nah, di postingan ini saya bukan ingin menjelaskan soal pengertian khotbah atau homili atau pidato dan sebagainya. Tapi hanya ingin share tentang pesan dari khotbah misa Minggu, 6 April 2013. Tetapi bila ingin mengetahui apa perbedaan khotbah dan homili bisa baca di sini. Klik saja maka anda akan tahu jawabannya. he3x.
Saya ingin sharing saja apa yang saya peroleh dari isi khotbah misa di Minggu sore ini. khotbah disampaikan oleh Romo Alex di Gereja Katolik St. Paulus, Depok. Saya merasa terpanggil atas apa yang disampaikan oleh Romo Alex. Menyoal tentang khotbah. Pastur Alex mengajak agar kita bisa mengaplikasikan langsung dalam kehidupan sehari-hari, dalam tindakan dan perilaku kita atas khotbah atau homili. Jadi tidak lagi kita habiskan waktu untuk berbicara atau menyampaikan sesuatu atau pesan kepada orang lain. Tetapi pesan itu ditunjukan dalam tindakan dan perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga orang lain bisa merasakan langsung efeknya dalam kehidupan bersama di masyarakat.
Keadaan yang terjadi adalah seseorang hanya bisa berkhotbah atau berkata-kata tanpa bisa melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Jadi lebih seperti 'harmoko atau hari-hari omong kosong', sama seperti jaman orde baru dahulu. Contoh seperti ini sangat sering terjadi di masyarakat.
Saya punya pengalaman yang sering saya jumpai. Setiap Senin di tempat saya bekerja dulu selalu diawali seremoni pagi untuk mengawali aktivitas selama seminggu kedepan. Nah biasanya di pertengahan seremoni pagi itu ada  disediakan
waktu untuk menyampaikan pesan-pesan atau sharing informasi seputar pekerjaan, bisa juga berisi hal-hal yang berisi motivasi singkat. Namun di sesi ini yang terjadi adalah acara menggurui, dimana orang yang dianggap 'tinggi' di situ berpidato atau berkhotbah atau berhomili sesuai apa yang dia mau. Memang pesan yang disampaikan itu tidaklah salah, benar, namun karena yang terjadi itu lain dengan apa yang dikatakan, sesi itu menjadi hambar, dan buat saya acara itu hanya sampah. Buang-buang waktu, kenapa di sana yang terjadi adalah kesan menggurui. Siapa yang akan mendengar apabila yang berbicara itu saja tidak melakukan apa yang dikatakannya sendiri. Itulah kebanyakan yang terjadi di masyarakat.
Apa yang disampaikan Pastur Alex sore ini kembali mengingatkan saya untuk bagaimana kita berbuat. Saya harus melakukan apa yang diajarkan Nya dalam kehidupan sehari-hari, agar pesan yang Kristus bawa ke dunia ini bisa juga dirasakan oleh orang lain. Karena Kristus datang ke dunia untuk semua orang, bahkan untuk orang yang berdosa. Karena Kristus datang untuk menebus dosa kita. Jadi lakukanlah seperti apa yang Kristus lakukan. Membawa damai bagi semua orang, menjadi garam dan terang dunia. Semoga demikian. Amin.


Sabtu, 06 April 2013

Karya Tuhan Melalui Orang Lain

Bersyukur ku ucapkan pada Tuhan, karena berkat Nya terhadapku. Lindungan Nya setiap saat pada ku. Walau memang kadang aku sering tidak melakukan perintah Nya, tetapi Dia tetap menyanyangi ku. Terima kasih Tuhan.
Terima kasih juga pada santo pelindungku. Santo Christophorus. Saya memahami dia adalah pelindung perjalanan. Itu kenapa saya percaya bahwa selama ini dalam aktivitas saya di jalan selalu dalam lindungan Tuhan melalui perantara santo pelindung ku.
Percaya atau tidak tetapi saya meyakini itu. Tuhan berkarya melalui perantara orang lain. Sadar atau tidak, peka atau tidak itu tergantung bagaimana kita melihat karya Tuhan. Itu yang selama ini saya yakini.
Beberapa waktu lalu, saya selalu luput dari yang namanya kecelakaan, semuanya kebetulan diketahui sebelumnya. Entah melalui orang lain yang mengingatkan, kebetulan karena suatu kondisi, juga diingatkan dalam bentuk hal-hal lain yang sadar atau tidak saya rasakan.
Belakangan ini saya berkendara di jalan memang sudah cukup lelah, karena fisik yang lelah ditambah suasana jalanan yang terik dan padat. Gangguan kantuk jadi musuh terbesar. Beberapa kali saya sering dilanda kantuk hebat dengan kondisi berkendara.  Hampir saya mengalami laka, namun selamat, saya diingatkan melalui orang lain di sekeliling saya. Dengan itu saya jadi tersadar.
Beberapa waktu lalu, berkaitan dengan fisik kendaraan saya. Motor yang saya gunakan telah melalangbuana kemana-mana, sehingga kondisi fisiknya sudah jauh menurun drastis. Ditambah perawatan yang kurang karena budget pemeliharaannya. Beberapa bagian vital di motor sempat mengalami kerusakan parah yang kalau terjadi ketika berkendara berefek fatal. Tetapi untungnya kejadian itu terjadi ketika saya sedang berhenti. Belum lagi ketika ada kesalahan waktu mengencangkan baut mur as roda depan. Kejadiannya saat saya selesai menambal ban di tukang tambal ban, kebetulan ganti ban dalam. Karena lupa mengencangkan as roda depan, efeknya baut murnya jadi kendur ketika dipakai berkendara.
Tiba saatnya baut itu mau lepas, kebetulan saya sedang berhenti di lampu merah. Orang lain memberi tahu kondisi itu pada saya, untunglah saya diberi tahu, kalau tidak efeknya akan fatal bagi saya. Itulah hal-hal yang saya anggap sebagai rasa syukur saya bahwa saya masih dilindungi Tuhan melalui perantaraan orang lain. Terima kasih Tuhan.