Tampilkan postingan dengan label Umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Umum. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Agustus 2013

Hidup Kembali Setelah Mati

Pasti ada yang bertanya-tanya membaca judul di atas. "hidup kembali setelah mati". Bagi yang beragama pasti mempercayai hal ini, bahwa setelah kematian akan ada kehidupan lain di sana, entah di sana itu dimana, sulit memang dibuktikan dengan penjelasan berbahan dasar logika, namun bagi yang percaya akan Tuhan meyakini demikian.  Saya pun termasuk orang yang percaya akan kehidupan setelah kematian. Jadi ketika membaca judul "hidup kembali setelah mati" ya bayangan sudah pasti tertuju pada janji Tuhan yang disampaikan kepada manusia bahwa akan ada kehidupan setelah kematian. Untuk itulah kita diajak untuk tidak takut akan kematian.

Saya terbersit membuat postingan ini karena tertarik pada sebuah artikel dari media online yang berjudul "20 Tahun Lagi, Orang yang Sudah Mati Dapat Dihidupkan Keesokannya". Buat saya artikel tersebut menarik, menambah khasanah ilmu pengetahuan. Namun buat mereka yang memegang prinsip-prinsip Ketuhanan mungkin ada perdebatan. Alasannya, kematian adalah hak yang kuasa, ketika ada yang sudah meninggal itu adalah takdir, kalau bisa dhidupkan kembali, lalu bagaimana? Apakah melawan takdir? Mungkin sekarang belum ramai diperdebatkan, karena dijudul artikel itu tertulis '20 tahun lagi', mungkin ketika sudah mendekati baru ramai perdebatannya.

Pada artikel tersebut tertulis, bahwa proses menghidupkan orang yang sudah mati ini bisa dilakukan oleh medis, dalam hal ini yang berkompeten adalah seorang dokter. Dikatakan bahwa seorang dokter dapat mengembalikan nyawa seseorang yang sudah dinyatakan meninggal. Dokter menggunakan teknik yang dinamakan resusitasi. Tak banyak dokter yang berkecimpung di bidang ini, salah satunya bernama dr. Sam Parnia. Sang dokter menjelaskan bahwa tekniks resusitasi akan mencapai puncaknya dalam 20 tahun kedepan, dalam bukunya yang berjudul "Eerasing Death".

Berdasarkan keyakinan di agama saya yang seorang Kristiani, yang bisa melakukan ini hanya Yesus Kristus melalui kuasa Bapa Nya di Surga. Ketika Yesus membangkitkan Lazarus dari kematian. Tetapi kini, medis coba menjelaskannya dengan ilmu pengetahuan. Akankah jadi perdebatan? Ini baru dilihat dari sudut padang satu agama, lalu bagaimana agama lain menanggapi hal ini? Perdebatannya tentunya belum bisa dilihat sekarang, ketika topik ini belum diangkat untuk diperbincangkan. Tapi suatu saat pasti akan menarik untuk diketahui.

Menurut dr. Sam Parnia pengobatan yang ada saat ini memungkinkan membuat orang hidup kembali dalam waktu satu atau mungkin dua jam atau mungkin bisa lebih setelah jantungnya berhenti berdetak dan mati akibat gagalnya peredaran darah. Dan hal ini akan lebih baik di masa depan, dimana kematian bisa dibalikan. Bahkan sang dokter juga menyebutkan bahwa ilmu kedokteran dapat mengembalikan orang yang sudah 12 jam atau bahkan 24 jam setelah dinyatakan meninggal. Menurut artikel yang ditulis tersebut menunjukan bahwa rata-rata pasien serangan jantung yang bisa diresusitasi di AS adalah 18% dan di UK adalah 16%. Sedangkan pasien yang ditangani dr. Sam Parnia sendiri  kemungkinan pasien yang berhasil diresusitasi sekitar 33-38%. Angka yang cukup tinggi, untuk mengembalikan nyawa seseorang setelah mengalami kematian.

"Mungkin", masih jadi kata yang dipakai, "mungkin" menunjukan sesuatu yang belum pasti, baru akan. Hal ini menunjukan masih ada bentuk usaha yang dilakukan. Bisa saja ini tidak diperdebatkan, karena apa? Karena cara resusitasi sebenarnya adalah cara atau teknik terakhir yang perlu dilakukan untuk menyelamatkan jiwa seseorang. Seorang dokter memang bertugas melawan takdir atau juga menyelaraskan takdir, jadi jika dilihat dari sisi ilmu pengetahuan bukan suatu hal yang bermasalah. Dokter akan berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan seseorang dari yang namanya kematian, umur hidup yang lebih panjang mayoritas akan dipilih semua orang, jadi hidup adalah sebuah pilihan jika seorang dokter bertugas menyelematkan seseorang. Ya balik lagi ke usaha manusia, Tuhan yang menentukan. Tapi buat kepercayaan yang mempunyai banyak aturan yang mengatur berbagai sendi kehidupan manusia pastinya punya pandangan lain lagi, belum lagi pandangan 'imam-imam' besar yang mereka miliki. Inilah yang saya katakan pada suatu saat ini hal ini akan jadi perdebatan apabila ada hal yang bertentangan dengan catatan aturan yang mereka miliki.

Di bawah postingan ini ada artikel yang jadi sumber catatan saya kali ini dan ada satu lagi artikel tentang beberapa kematian sesaat. Contoh-contoh di bawah hanya contoh kecil, banyak lagi orang yang bisa bangun lagi dari kematiannya, yang lebih dikenal dengan mati suri. Apakah sama atau berbeda dengan teknik resusitasi? Tapi dari pandangan saya sih kalau mati suri bisa hidup kembali tanpa bantuan medis apa pun, sedangkan resusitasi merupakan teknis medis. Lebih jelasnya bisa dicari informasinya. Apabila lain waktu saya mendapat informasi lebih lanjut saya akan share di postingan berikutnya. Semoga bermanfaat (^_*)?

 

Sumber informasi dan bacaan tambahan:

Health Detik. 08-2013. 20 Tahun Lagi, Orang yang Sudah Mati Dapat Dihidupkan Keesokannya. health[dot]detik[dot]com | diakses tanggal 1 Agustus 2013

Health Detik. 07-2013. Orang-orang yang Hidup Kembali Setelah Dinyatakan Mati. health[dot]detik[dot]com | diakses tanggal 1 Agustus 2013

Sabtu, 27 Juli 2013

Stand Up Comedy Pilihan Hiburan Lain

Stand up comedy, kini jadi variasi hiburan komedi dalam bentuk lain, ditengah parodi komedi yang marak saat ini. Stand up comedy mulai dikenal ketika mendapat tempat disalah satu stasiun televisi nasional media pemberitaan, yaitu di MetroTV dan KompasTV. Stand up comedy dikenalkan sebagai komedi satu arah, atau komedi monolog. Sehingga sangat membutuhkan kreatifitas dan wawasan yang luas dari si pembawanya (komik). Tidak mudah sesorang komik membawakan stand up comedy ini. Karena si komik harus membawakan situasi humor dan mengajak penonton terbawa dengan kisah-kisah lucu yang dibawakan.

Ada banyak komik komedian yang sering muncul, dan mudah dikenal karena punya ciri tertentu yang familiar. Apa yang dibawakan harus mengalami perubahan, tidak itu-itu saja yang dibawakan sehingga penonton tidak bosan. Satu hal yang penting diperhatikan bahwa mengajak orang lain tertawa itu tidak mudah. Membuat tertawa dengan hiburan yang berkualitaslah yang sulit. Kebanyakan yang saya amati, topik yang dibawakan tidak jauh dari seks, aktivitas sehari-hari, hubungan pertemanan sampai pacaran, bisa juga hubungan keluarga, sampai hal-hal lain yang tidak terpikirkan didalam pikiran kita penonton bisa dibawakan jadi bahan komedi dalam stand up comedy.

Komik yang terkenal dan saya ingat itu ada Raditya Dika, Mongol, Cah Lontong, Sammy (gendut), Ge Pamungkas, Ryan Adriandhy, Gilang Bhaskara, Boris Bokir, Insan Nur Akbar, Budi Kusumah, Mo Sidik, Asep Suaji, Topenk, Kemal Palevi, Babe, Fico, Arie Kriting, Alphi Sugoi, Bene dll. Mereka punya nama dan ciri khusus agar mudah dikenal penontonnya.

Entahlah, apakah stand up comedy ini bisa jadi acuan seorang komedian berbakat di dunia komedi atau tidak, meski jam terbang di dunia komedi parodi sudah banyak, atau juga sebaliknya. Apakah seorang komik berbakat bisa menjadi seorang komedian parodi yang berbakat pula, atau sebaliknya seorang komedian parodi berbakat pasti bisa menjadi komik berbakat atau malah hanya salah satu saja yang menonjol? Untuk soal itu saya belum bisa menilainya, dan mungkin harus banyak mengamati sepak terjang dunia komedian terlebih dahulu.

Ada lagi komedian seperti Rowan Akinson, dia dikenal sebagai komedian gerak tubuh, atau juga Charlie Caplien. Mereka berkomedi tanpa banyak berbicara, gestur dan tingkah polah mereka jadi komedi unik untuk dinikmati, malah kita penonton diajak berimajinasi atas gestur dan tingkah pola mereka. Rowan Akinson dikenal dengan karakter Mr. Bean dan Charlie Caplien dikenal sebagai karakter pantomim. Mereka berhasil melekatkan karakter khusus yang diciptakan dalam diri mereka. Terutama Mr. Bean, banyak film layar televisi dan layar lebar yang dirilis, dan semuanya membuat banyak orang terhibur. Bahkan filmnya yang meski sudah diputar berulang-ulang tidak membuat kita bosan, dan tetap saja kita tertawa ketika melihat filmnya.

Stand up comedy bisa jadi pilihan hiburan lain untuk membuat kita sejenak refresh dari stres, setidaknya bisa membuat kita tertawa. Karena tertawa adalah obat atau terapi yang murah meriah untuk stres. Atau setidaknya stand up comedy bisa jadi bagian dari seni komedi yang sudah banyak macamnya, yang berkembang seiring perkembangan jaman. Maju terus buat seniman stand up comedy, bekreasilah dengan baik dan benar, ajaklah masyarakat jadi pribadi-pribadi humoris sehingga lebih humanis dan bersahabat, sehingga bisa jadi sumber keceriaan buat sesama. ~(^o^)~

 

> Postingan ini juga dipublish di Naturality dengan judul yang sama <

Jumat, 26 Juli 2013

Penertiban PKL Harus Dilakukan Sejak Dini

Pedagang kaki lima (PKL) selalu jadi musuh pemerintah daerah, selama ini begitulah yang terjadi. PKL dan pemerintah daerah tidak pernah bisa sinkron dan bekerja sama dengan baik. Kenapa? Kalau saya menilai karena sudah sejak awalnya hubungan mereka dimulai dari kemasabodohan. PKL memang akar ekonomi masyarakat kecil, mereka ini ibarat rumput liar yang muncul diantara ladang-ladang petani. Rumput-rumput liar ini dianggap mengganggu petani, tapi terkadang rumput-rumput liar yang ada bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak. Intinya menyikapi masalah ini adalah tinggal bagaimana mengelolanya saja.

Saya punya pengamatan tersendiri melihat PKL ini. PKL bisa dikatakan pedagang-pedagang liar yang memanfaatkan tempat seadanya untuk berjualan, PKL ini memanfaatkan peluang yang ada, meski peluang itu melanggar aturan (Perda) yang ada. Sekarang kembali ke pemerintah daerah untuk setiap saat melakukan fungsinya memonitoring perda yang ada apakah berjalan dengan baik atau tidak. Penindakannya bagaimana? Tegas atau tebang pilih? Kalau perda yang ada dijalankan dan sanksi tegas diberikan, maka ini akan menjadi alat untuk manajemen kelola yang baik. Kemudian, selama ini pemerintah daerah hanya mengatur PKL tetapi tidak pernah mengatur si pembeli. Karena PKL itu ada sebenarnya mengikuti pembeli, jika suatu tempat sepi dan tidak ada pembeli, PKL tidak akan menjamur di sana. Tapi jika tempat itu ramai pasti PKL akan menjamur dengan cepat. Sekarang, bisakah pemerintah daerah mengatur pembeli untuk juga tertib?

Saya mengamati dari suatu kota yang sedang berkembang. Biasanya diawali dari sebuah kota yang sepi, baru lama-kelamaan  tumbuh menjadi kota yang ramai. Nah ketika kota itu masih sepi, pemerintah daerah harusnya sudah melakukan perecanaan matang, mana saja tempat yang boleh dan layak untuk menjadi tempat berusaha, untuk kalangan rakyat kecil, menengah atau atas. Semua itu harusnya sudah diperhatikan pemerintah daerahsetempat dengan bekal perda yang mereka miliki.

Saya mengamati kota dimana saya dilahirkan, yaitu Kota Cirebon. Terutama di wilayah kecamatan dimana saya tinggal yaitu Kecamatan Harjamukti. Dulu sekali di tahun 1990 daerah dimana saya tinggal sangatlah sepi, tidak banyak warung atau pertokoan atau pedagang kaki lima yang ada di pinggir jalan. Bahkan untuk mencari makanan di warung pinggiran jalan harus pergi ke arah kota, sebagai pusat keramaian kota Cirebon saat itu. Namun seiring perjalanan waktu Kota Cirebon bergeliat dengan pembangunan perumahan terutama di wilayah Kecamatan Harjamukti. Sekarang di tahun 2013, saya amati mulai batas perumnas gunung, yaitu ujung Jalan Ciremai Raya di perempatan By Pass sampai masuk ke arah komplek perumahan Kalijaga kini sudah ramai komplek pertokoan dan warung-warung yang berada di kiri kanan jalan. Bahkan warga perum gunung kalau mau mencari kebutuhan sehari-hari sudah tak perlu lagi pergi jauh ke pusat keramaian kota. Di kiri kanan jalan sekarang sudah diisi pedagang-pedagang yang membuat warung. Pedagang-pedagang inilah yang akan jadi bibit PKL ke depannya, jika pemerintah daerah tidak mau konsentrasi menertibkan dan menatanya. Menertibkan dalam arti pemerintah daerah sudah harus mendata mereka, dan kumpulkan mereka ke dalam suatu kesepakatan, jika suatu saat pemerintah daerah menertibkan atau mengatur, mereka akan dengan sukarela melakukannya tanpa harus ada pemaksaan. Setiap tahun mereka harus diajukan nota kesepakatan yang harus mereka penuhi, karena mereka berdagang di lahan milik publik. Dan setiap enam bulan sekali pemerintah daerah harus mendata mereka secara rutin dan melakukan pembinaan. Dengan cara ini proses monitoring akan berjalan, dan PKL itu sudah sejak awal dididik untuk tertib. Hasil monitoring itu pun pemerintah bisa konsentrasi melindungi usaha PKL dari bentuk-bentuk pemerasan yang mengatasnamakan keamanan oleh preman-preman setempat.

Nah hasil pengamatan saya di area Kecamatan Harjamukti, hal tersebut di atas tidak dilakukan. Pemerintah daerah seakan-akan malas dan menutup mata, dan nanti baru membuka mata ketika sudah ada masalah. Inilah sifat-sifat birokrat yang ada sekarang. Tidak hanya terjadi di kota atau daerah-daerah kecil, tapi sudah sampai ke tataran ibukota, seperti yang dialami DKI Jakarta yang kini sedang berjuang menegakan aturan sebagaimana mestinya. Pemerintah daerah yang niat memperbaiki malah harus menanggung dosa pemerintahan periode-periode sebelumnya. Ya itulah yang terjadi sekarang.

PKL sebenarnya punya kecenderungan memanfaatkan celah kosong yang tidak diperhatikan pemerintah. Mereka sadar bahwa yang dilakukan itu melanggar aturan dan mengganggu kenyamanan publik, tetapi ketika dibenturkan kemata pencaharian mereka dan mereka sudah melakukannya bertahun-tahun mereka akan sulit melepaskan kesalahan mereka itu. Dan malah mereka akan membela diri mati-matian meski mereka melanggar, dan alasan yang diangkat adalah HAM. Meski pemerintah daerah sudah mencoba memindahkan mereka, tetap saja pasti akan ditolak karena alasan mereka sudah punya langganan, atau di tempat yang baru itu sepi, di tempat yang baru tidak layak dan alasan-alasan lain yang membenarkan apa yang mereka lakukan. Hal inilah yang terjadi di DKI Jakarta. Jokowi dan Ahok perlu kreatifitas ditingkat yang lebih tinggi lagi untuk menangani masalah ini. Tanggung jawab pemerintahan Jokowi adalah tetap menegakan perda yang ada dan mengakomodir semua kepentingan. Akhirnya hal yang tadinya mudah menjadi hal yang kompleks dan sulit dilakukan. Andaikan saja, sedari awal pemerintah daerah bertindak seperti yang saya maksudkan tadi di paragraf sebelumnya, pasti mengelola PKL akan lebih baik dan PKL akan jadi aset pemerintah daerah.

Kota Cirebon terutama di wilayah Kecamatan Harjamukti juga akan jadi biang masalah PKL seperti yang dialami DKI Jakarta jika dari sekarang pemerintah daerahnya tidak mau mulai bekerja dengan baik. Kota Cirebon ini punya potensi untuk berkembang menjadi kota yang maju, dan sebelum masa itu tiba proses demi proses awal ini harus dijalani dengan baik, bekerja dengan baik itu kuncinya.

Solusi pemerintah DKI Jakarta menurut saya, adalah mendata semua PKL yang ada, terutama di kawasan yang sedang dibenahi yaitu di Tanah Abang dan Pasar Minggu. Data semua PKL tersebut, bagi per KTP. Setelah data semua dimiliki itu jadi dasar penataan, dan inilah yang memang sedang dilakukan pemda DKI Jakarta. Seperti di Tanah Abang dan Pasar Minggu pun memang sebenarnya sudah disiapkan lokasi baru untuk PKL, namun kembali seperti alasan klasik PKL, karena kembali lagi mereka sudah mendarah daging di lokasi lama, jadi selalu sulit mencoba hal baru. Pemerintah DKI Jakarta juga harus mulai menertibkan pembeli-pembeli, pengguna jalan yang membeli barang dagangan PKL. Mereka calon pembeli dan pembali harus membeli di tempat yang disediakan, dengan alasan ketertiban umum. Dengan begini, pemerintah daerah bertindak mengatur semua pihak, jadi tidak ada ketimpangan, yang ini diatur sedangkan yang lain tidak. Mulailah dengan pemasangan baliho seruan kepada pembeli dan pedagang untuk berjualan dan membeli di tempat yang telah disediakan. Seruan ini dilakukan secara intens di seluruh wilayah, sekaligus menjadi pelajaran buat masyarakat untuk berlaku tertib.

Kemudian, momen lebaran tahun ini adalah momen yang tepat, yakni ketika lebaran, Jakarta akan ditinggalkan pendatang. Nah kebanyakan PKL ini adalah pendatang dari daerah, ketika mereka semua pulang, saatnya pemerintah daerah menertibkan. Lahan-lahan yang biasa digunakan untuk berjualan, ditutup dengan apalah itu yang membuat mereka ketika kembali ke lokasi mendapati kesulitan membuka lapaknya. Ketika nanti ada aksi perusakan terhadap fasilitas publik, pemerintah daerah dan pihak kepolisian tinggal menindak tegas pelaku. Cara ini dilakukan untuk mencegah dan menimbulkan efek jera. Kembali ke lahan publik adalah milik publik dan tidak bisa dikuasai segelintir orang. Saat lahan publik itu kosong atau bebas dari pedagang, pemerintah daerah tinggal membenahinya, dan situasi yang cocok adalah ketika Jakarta ditinggal semua pendatang yang hanya terjadi setahun sekali. Hasil pengamatan saya, ketika lebaran, Jakarta seperti kota sepi, dan inilah situasi Jakarta sebenarnya. Karena penduduk Jakarta kebanyakan ya pendatang dari daerah.

Saya sendiri mengalami dan merasakan cukup terganggu dengan PKL yang tidak tertib. Terutama di Tanah Abang, PKL di sana jadi biang kemacetan luar biasa setiap harinya, disamping itu juga ulah pembeli yang berhenti seenaknya, dan membeli di tempat yang tidak seharusnya, lalu ulah-ulah angkutan kota dan pemilik truk barang yang parkir bongkar muat seenaknya memakan badan jalan. Kemudian hal yang sama juga terjadi di Pasar Minggu. PKL ini sudah jadi sumber keruwetan, kemacetan dan kekotoran. Mereka tidak memperhatikan kebersihan sama sekali. Itulah yang menjadi sumber kekumuhan ibukota.

Semua pihak harus bekerja sama, baik masyarakat yang memanfaatkan jasa PKL, dan PKL itu sendiri yang mencari nafkah pun harus sadar bahwa kepentingan umum diatas segalanya. Masyarakat kita ini masih terlalu egois. Seharusnya ketika sudah hidup bermasyarakat, yang dinomorsatukan adalah kepentingan umum. Sehingga tidak ada lagi alasan yang mengatasnamakan kepentingan pribadi, bahkan untuk alasan HAM sekali pun. Penegak HAM pun harus berpikir hal yang sama, sehingga tidak mudah termakan alasan-alasan yang mengatasnamakan HAM.

Jadi buat daerah yang masih sedang mengalami proses perkembangan dan pertumbuhan, mulailah buka mata, karena permasalahan dikemudian hari haruslah dimulai diselesaikan dari sekarang, saat semuanya masih dini, karena semua perkara besar dimulai dari perkara kecil. Mau atau tidak tergantung semua pihak yang ada, pemerintah daerah, swasta dan masyarakatnya. Sudah banyak contohnya, dan janganlah jadi pemerintah daerah macam keledai yang senang jatuh di lubang yang sama berkali-kali. Saya berharap Kota Cirebon melalui pemerintah daerahnya mau membuka mata, tidak ada kata terlambat untuk berbenah, sekarang atau tidak sama sekali. Memang semuanya tidak mudah, tidak semudah yang diutarakan banyak pengamat, termasuk saya ini, tapi kalau sudah memilih sebagai pemimpin itulah tanggung jawab yang harus dilakukan. Semoga demikian (^_^)?

 

> Postingan ini juga diposting di Naturality dengan judul yang sama <

Rabu, 24 Juli 2013

Dakon Sebuah Permainan Filosofi

Pernah ingat permainan rakyat yang bernama dakon? Buat kita yang masyarakat Jawa pasti mengenal. Tetapi bukannya hanya masyarakat Jawa saja deh, paman saya yang masa kecilnya di Flores, Nusa Tenggara Timur pun pernah merasakan permainan dakon ini. Saya ingat sewaktu kecil ibu saya pernah mengajarkan permainan ini, memang sih permainan ini banyak dimainkan anak perempuan, tetapi menurut saya tidak juga. Toh permainan ini melatih perhitungan kita, kesabaran serta ketelitian, dan nilai-nilai kejujuran juga bisa diambil dari permainan ini. Nah dari nilai-nilai positif ini tidak adil juga jika hanya dirasakan anak perempuan. Tapi sebenarnya tidak hanya nilai-nilai positif yang bisa diambil, ternyata permainan ini juga bisa jadi sarana latihan untuk pasien stroke.

Pasien stroke kita tahu mempunyai keterbatasan saraf sensor motorik dan sensorik. Dengan permainan dakon ini dibutuhkan ketepatan membagi butir-butir dakon itu ke lubangnya masing-masing, dan hal ini dilakukan berulang-ulang. Pasien stroke dengan keterbatasan sensor motorik dan sensorik pasti akan mengalami kesulitan tersendiri, dan inilah cara melatih sensor-sensor saraf tersebut. Inilah kelebihan dari permainan rakyat yang terlihat sederhana namun punya manfaat dan nilai-nilai positif yang rugi jika tak dimanfaatkan.

Terakhir saya main dakon ini ketika saya masih sekolah dasar, itu pertama kali saya kenal. Saya kepincut sama sepupu yang memainkan permainan ini, akhirnya saya meminta ibu saya membelikan permainan ini. Ibu saya menurutinya karena memang murah harganya. Setelah dibeli saya sering memainkannya bersama adik dan ibu saya ketika sepulang sekolah. Lama waktu berlalu akhirnya muncul rasa bosan dan permainan dakon itu hilang, bijinya hilang papannya juga entah kemana. Baru setelah belasan tahun kini permainan itu ada lagi di depan mata, dibeli karena untuk latihan pasien stroke.

Dari pertemuan saya dengan permainan rakyat yang bernama dakon ini ada banyak hal yang bisa saya ambil, selain soal filosofi yang sudah saya catat di atas. Buat yang pernah bermain dakon ini dengan saya, pasti akan tahu. Saya punya sebutan khusus untuk permainan ini. Tapi tidak saya sebutkan di sini, karena kalau disebutkan di sini, nanti takutnya bisa berbuntut panjang, karena sedikit menyerempet hal-hal yang berbau mencirikan kelompok tertentu, tapi sudahlah lupakan itu. Pastinya permainan dakon atau permainan rakyat lainnya punya banyak filosofi yang menarik dan bermanfaat seperti yang sudah disampaikan tadi. Sekian dulu catatan saya soal permainan dakon ini, semoga bermanfaat, dan buat yang penasaran dengan permainan ini, cobalah untuk memainkannya. Oh ya, untuk cara bermainnya saya tidak berani mensharekannya di sini, karena saya bingung dengan standar baku permainan ini. Soalnya permainan yang diajarkan kepada saya oleh ibu saya dari Semarang dan paman saya dari Flores itu berbeda. Mungkin lain waktu bisa saya catatkan kembali caranya bagaimana, jika saya sudah menemukan standar baku bagaimana memainkannya. Sampai ketemu lain waktu (^_^)?

 

> Postingan ini pertama kali diposting di Naturality dengan judul yang sama <

Minggu, 21 Juli 2013

Solusi Pelanggan ala 3Store "Gratis"

Senangnya pergi ke customer care yang memberi solusi dan yang buat asyik lagi itu layanannya yang gratis. Saya tidak bisa jamin sih hal yang sama juga terjadi dicustomer care lainnya. Kebetulan yang saya datangi di sini customer care di 3Store.

Siang ini saya datang ke 3Store di Jl. Cipto Mangunkusumo, Kota Cirebon. Menemani adik saya yang ingin mengurus kartu sim ponselnya yang terblokir. Entah terblokir karena apa, yang jelas sim card nya tidak bisa diakses, dengan informasi "terblokir". Awalnya, rencana kartu ini mau dihanguskan, tetapi setelah dipikir-pikir sudah banyak yang tahu nomor ini, akhirnya diputuskan untuk menjaga kartu ini tetap hidup.

Solusinya ya harus dibawa ke layanan customer care 3Store, karena kartu sim nya milik Tri/ Three (3). Sampai di sana, syarat untuk itu sudah dipersiapkan, diantaranya: kartu sim yang terblokir, catatan lima nomor yang terakhir dihubungi, dan copy identitas pemilik kartu sim. Sampai di sana, langsung datangi customer service, dan sampaikan keluhan. Solusi akan diberikan si CS. Kita akan disodorkan kertas formulir layanan pelanggan. Formulir itu juga tidak diisi semua, hanya diisi nama, nomor Tri/ Three (3) yang bermasalah, tanggal dan tanda tangan. Proses penanganan keluhan selesai, dengan mengembalikan kartu ke kondisi semula dengan mengganti kartu sim baru tapi dengan kelengkapan data kartu lama. Artinya segala macam data yang tersimpan di sim lama masih ada sebagaimana sebelum kartu terblokir.

Proses untuk itu semua hanya membutuhkan waktu lima menit, tidak terhitung waktu tunggunya lho. Tapi kebetulan tadi sih sepi, jadi langsung dilayani. Nah, yang terpenting dari proses itu semua adalah gratis, tanpa biaya sepeserpun, meski dari customer care ada penggantian kartu sim baru. Ini yang saya bilang solusi. Jarang-jarang sekali ada solusi seperti ini dijaman sekarang. Ya entahlah untuk customer care provider telekomunikasi lain. Tentunya bila saya punya pengalaman yang menarik seperti ini akan saya share. Begitupun jika ada pengalaman yang tidak menarik atas pelayanan mereka, pasti akan saya share juga.

Sebagai informasi, 3Store Cirebon buka dari 09.00 - 19.00 WIB. Lokasinya di Jl. Cipto Mangunkusumo No. 71, Kota Cirebon. Lokasinya dekat dengan CSB Mall. Pelayanan yang dilayani di 3Store: penyedia produk Tri (3) dari paket perdana, 3Pascabayar, voucher top up, e-top up; pembayaran tagihan 3pascabayar; penggantian kartu sim; penanganan keluhan; informasi produk dan layanan; dan layanan lainnya. Sekian catatan saya soal solusi Pelanggan ala 3store yang tanpa dipungut biaya alias gratis. Sampai jumpa dicatatan saya selanjutnya.

Senin, 08 Juli 2013

Sepintas Tentang Novi Amalia

Kita tidak pernah tahu siapa Novi Amalia sebelum kasus depresinya menjadi konsumsi publik. Novi Amalia lahir di Medan, 1 Desember 1987. NA adalah seorang model majalah dewasa di Indonesia. NA pertama kali menjadi foto model tahun 2004. Karirnya di dunia entertaiment tidak berjalan mulus, sempat mencoba dunia tarik suara namun NA tidak melanjutkannya. Hingga akhirnya NA mulai terkenal karena kasusnya dan dikenal sebagai foto model majalah dewasa.

[Sumber: Google Image]
NA mulai terkenal sejak kasus pertama yaitu laka lantas akibat mabuk dan dipengaruhi narkotika yang dikonsumsinya yang kemudian menyebabkan NA menabrak beberapa orang di jalan daerah Taman Sari, Jakarta Barat tahun Oktober 2012 lalu. Pada bulan sebelumnya, April NA juga pernah kena kasus serupa masih berhubungan dengan laka lalin tapi waktu itu di Jalan Gajah Mada.
Pada kasus yang kedua, ketika itu NA dipastikan sedang tidak sadar akibat pengaruh miras dan narkotika. Konsumsi narkotika sebenarnya jadi hal biasa, sama seperti kasus Xenia maut di Tugu Tani, yang membuat berbeda adalah ketika laka terjadi, NA didapati tidak berbusana normal layaknya orang ketika mengendarai mobil. NA didapati hanya menggunakan pakaian dalam.
Beberapa foto nyaris bugilnya itu sempat menjadi konsumsi publik. Akibat keteledoran pihak kepolisian yang cereboh hingga foto-foto itu tersebar hingga jadi konsumsi publik. Saya sendiri juga sempat mengkonsumsinya.
Waktu berlalu, sidang kasus pertama NA akhirnya digelar. Namun rupanya tak membuatnya jera, NA kembali berulah. Entah karena alasan apa, NA kembali berulah dengan melakukan perilaku yang tidak wajar di jalan. Tepatnya di daerah Mampang NA bertingkah seperti orang gila, dengan melepas pakaiannya sambil berteriak-teriak. Meski tidak semua pakaiannya terlepas, namun pakaian dalamnya bagian atas sempat dilepaskannya. Ketika itu, NA selesai mengunjungi rumah temannya namun tak sempat bertemu. Tukang ojek jadi orang yang "beruntung" ketika itu, hingga akhirnya membawa NA ke Polsek Metro Mampang.
Kedua kasus yang dialami NA itu terjadi karena depresi berat yang dialami NA. Entah untuk masalah apa. Tapi mungkin untuk yang kedua, NA mengalami depresi karena kasus yang tengah membelitnya. Tapi yang jelas ada gangguan psikologis dalam diri NA. Dari kedua kasus itu, NA seperti seorang eksibisionis, yaitu orang yang suka menampilkan anggota tubuhnya (telanjang) di muka umum.
Buat lelaki yang senang dengan dunia pornografi, atau melihat wanita telanjang dengan segala aksinya itu biasa saja. Malah akan jadi tontonan menarik, mungkin. Namun jadi masalah ketika hal tersebut dilihat di muka umum. Masalah karena Indonesia merupakan negeri timur yang punya adat ketimuran sehingga hal tersebut pasti akan dianggap tabu. Lain hal di negara barat, yang lebih liberal soal hal ini. Bahkan seliberal barat pun, soal macam itu punya batas-batas tertentu.
NA jadi perhatian karena NA ini punya paras yang cantik dengan tubuh yang sexy. Jadi tak salah jadi perhatian publik, ya terutama lelaki. Ditambah lagi karena memang NA merupakan model majalah dewasa. Ya pendapat saya tentang NA ini adalah wanita yang cantik dengan bentuk tubuh yang aduhai. Kalau dilihat sepintas tampak seperti wanita muda, tapi ketika dilihat lebih jelas seperti 'tante', padahal usianya masih bisa dibilang muda. Kemudian, dari beberapa kasusnya itu, menurut saya NA lebih cantik dengan rambut pendeknya, karena lebih terlihat muda meski begitu dengan rambut panjang juga cantik. Menurut saya penampilan dengan rambut panjangnya itu membuat NA lebih dewasa.
Permasalahan depresi yang diderita NA masih lebih baik, karena tidak membuat dirinya melakukan tindakan bodoh yaitu bunuh diri. Tapi jika tidak diobati, mungkin saja hal itu bisa terjadi. Apa yang terjadi pada NA harusnya bisa jadi pelajaran buat kita yang normal, agar jangan sampai mengalami seperti yang dialami NA. Manajemen psikologis pribadi yang baik bisa jadi solusi untuk terhindar dari masalah depresi.
Harapannya semoga kasus NA ini lekas selesai, dan masalah psikologis yang dialami NA bisa diobati dan bisa menjadi orang yang normal. Agar NA bisa berkarir di dunia entertaiment dengan normal, dalam arti tidak terkenal karena hal-hal yang bernada negatif. Postingan ini hanya postingan opini saja, karena saya sedikit tertarik dengan kasus NA. Cu next time (^_^)?

Sabtu, 06 Juli 2013

Wajah Stadion Bima, Kota Cirebon

Kalau masyarakat Kota Cirebon ditanya, "Apa nama stadion sepakbola kebanggaannya?" Jawabannya tertuju pada Stadion Bima, yang terletak di komplek perumahaan Pertamina Kota Cirebon. Stadion ini pernah jadi markas dari beberapa kesebelasan, salah satunya juga jadi markas kesebelasan Indocement. Kemudian pernah juga jadi markas (kandang) Persikad Depok. Tapi itu dulu, kalau sekarang ini Stadion Bima tidak tahu lagi digunakan untuk markas kesebelasan apa. Bahkan untuk kesebelasan kota asalnya Cirebon juga saya tidak pernah mendengarnya.

Di wilayah Stadion Bima ini sebenarnya tidak hanya ada stadion untuk sepakbola saja, tetapi ada juga arena-arenauntuk olahraga lain, seperti arena bulutangkis, tenis lapangan, dan ada juga gelanggang renang. Sebenarnya tempat ini sudah seperti sport centernya Kota Cirebon. Tinggal perlu sedikit polesan dan perawatan yang intensif untuk menjadikan daerah ini menjadi sport center. Namun itu semua hanya angan saja, karena sampai saat ini komplek olahraga masyarakat Cirebon teronggok tak terawat.

Pada awalnya yang saya ketahui, komplek gelanggang olahraga di sini dibuat oleh Pertamina. Ketika itu kalau tidak salah Pertamina sedang mengadakan pekan olahraga. Hingga akhirnya dibuatlah sarana olahraga yang lengkap saat itu di Kota Cirebon. Hingga akhirnya acara terselenggara, gelanggang olahraga tersebut tidak lagi dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat atau pemerintah daerah setempat. Malah kian waktu gelanggang olahraga itu mulai renta termakan usia tanpa perawatan yang optimal. Padahal masyarakat Kota Cirebon, terlebih-lebih masyarakat sekitar gelanggang olahraga kerap memanfaatkan lokasi tersebut untuk berolahraga. Meski hanya sekedar jogging, bermain sepak bola, renang, bermain tenis, atau buat tempat nongkrong. Malah terkadang bila malam tiba sering digunakan untuk sirkuit balap liar. Ada juga sih digunakan untuk balap road race yang resmi diselenggarakan di komplek gelanggang olahraga tersebut..

Sudah lama sekali saya tidak berkunjung ke gelanggang olahraga tersebut. Saya lebih mengenal dengan sebutan "Komplek Stadion Bima". Pagi ini saya meniatkan waktu untuk berkunjung ke sana untuk sekedar olahraga pagi. Masuk ke komplek yang saya amati hanyalah rimbunnya semak belukar, nampak suram, kusam dan kotor sekali, belum lagi jalanannya yang sudah berlubang dan berkubang. Lanjut ke stadion sepak bola, dinding tribun stadion yang terbuat dari tanah kini sudah ditumbuhi semak belukar yang lebat. Kondisi pagar keliling stadion sudah berkarat, dan ada beberapa sisi yang sudah terlepas besi pagarnya. Pintu masuk tribun dari sisi timur stadion yang awalnya tertutup oleh pintu tralis kini sudah tidak lagi, bahkan pintu tralisnya sudah hilang.

Saya sempatkan berhenti dan masuk ke salah satu sisi tribun. Tangga naik ke tribun penonton saja sudah dikelilingi semak, sangat amat terkesan kusam, belum lagi sampah sisa-sisa makanan berserakan terbuang sembarangan. Hingga akhirnya saya sampai di tribun penonton, nampak hamparan lapangan hijau yang kelihatannya rumputnya sudah tak terawat. Saya amati sekeliling tempat duduk tribun yang terbuat dari semen dengan ubin biasa ada beberapa yang sudah terkelupas dan terpecah, ditemani serakan sampah sisa-sisa makanan penonton, ditambah sedikit semak-semak yang tumbuh dari balik kelupasan semen di tempat duduk tribun.

Saya amati lagi menara-menara untuk pemantau lapangan, yang sepertinya digunakan untuk dokumentasi pertandingan yang terletak di empat sudut lapangan. Menara-menara itu tampak sudah berkarat dan terlihat lapuk, tapi entah kondisi fisik yang sebenarnya. Ada dua menara yang sudah tak terlihat lagi puncaknya, nampaknya seperti digerogoti, besi-besi paling atas rupanya sudah dipotong/ dilepas. Entah dipotong/ dilepas secara resmi oleh pihak pengelola atau oleh tangan-tangan ilegal. Kabar yang saya dengar, banyak besi-besi yang ada di komplek gelanggang olahraga ini dirusak dan dicuri oleh orang-orang tak bertanggungjawab untuk dijual menjadi besi bekas. Memperihatinkan sekali nasib stadion sepakbola ini. Sungguh-sungguh tak terawat.

Entah kenapa selama bertahun-tahun pemerintahan pemimpin daerah Kota Cirebon tidak mengamati hal ini. Seakan-akan mereka tutup mata melihat kondisi ini. Tidak ada yang bisa mereka perbuat untuk memperbaiki atau sekedar merawat komplek gelanggang olahraga kebanggaan masyarakat Kota Cirebon ini. Atau mungkin karena ketidakjelasan pengelolaannya sehingga seperti halal untuk diabaikan. Keasadaran masyarakat Kota Cirebon juga sangat kecil. Ya terlihat dengan aksi corat-coret yang sering dilakukan di dinding sisi stadion membuat kesan kusam.

Ini posting saya buat sebagai catatan saya, sekaligus keperihatinan melihat aset daerah yang teronggok seperti ini. Setidaknya dilain waktu saya kembali datang berkunjung ke stadion ini sudah ada wajah baru karena saat itu Kota Cirebon sudah dipimpin oleh pimpinan berfigur seperti Jokowi ha3x #mimpi sepertinya. Ada beberapa gambar yang saya abadikan dengan kamera BlackBerry saya tadi pagi sekitar pukul tujuh. Tidak banyak yang saya ambil, tetapi paling tidak dari gambar itu ada sesuatu yang berbicara, bahwa begitulah sesungguhnya kondisi stadion kebanggan masyarakat Kota Cirebon itu. (^_^)?

 

Postingan ini diterbitkan pertama kali di Naturality: Wajah Stadion Bima, Kota Cirebon dan diforum Kompasiana[dot]com oleh account Christopher Leopold Lalo Nusa, denganjudul yang sama Wajah Stadion Bima, Kota Cirebon

Kamis, 16 Mei 2013

My Room D205 Yulimar

Setelah saya share tentang meja kerja saya di postingan sebelumnya. Kali ini saya ingin share soal my room. Ya ini lah catatan saya tentang kamar sewa yang selama dua tahun ini saya tinggali sejak akhir tahun 2010 sampai sekarang, ya saat saya membuat postingan ini.
Catatan ini saya buat sebagai catatan untuk nostalgia saya ketika saya tak lagi tinggal di sini, karena memang di sini ya hanya untuk sementara. Masa mau jadi anak kos selamanya, tidak kan ... ;) Ingin juga dong punya sesuatu yang lebih dari kamar, rumah misalnya. Karena sepertinya saya sudah banyak tertinggal dari rekan-rekan saya seangkatan yang lainnya yang sudah mempunyai rumah tinggal sendiri.

My room D205
My room D205
Awalnya kebetulan sekali saya bisa bertemu tempat ini, namanya Wisma Yulimar. Nama Yulimar ini telah beberapa kali disebut di postingan saya sebelumnya, terutama postingan tentang hobi saya memelihara kucing. Kucing-kucing saya itu memang tinggal di komplek kos Yulimar. Lokasi tempat tinggal saya ini di Jalan Yahya Nuih No. 79, Pondok Cina - Beji, Kota Depok, Jawa Barat. Setidaknya alamat ini saya simpan selama ini, untuk RT/RW nya saya kurang begitu paham. Patokannya jelas, karena di komplek rumah kos saya tinggal ini ada musholanya. Jadi kalau mencari tempat ini juga tak sulit koq. #sekalianiklan. Rumah kos di sini merupakan bangunan lama, lantainya pun masih plesteran semen biasa, hanya dilapis platik verlak. Karena dulu waktu pertama saya masuk ini, pendapat saya ya 'seram', karena sepi sekali. Tapi lama-lama ya lumayan juga penghuninya. Total kamar yang tersedia itu ada lebih ± 56 kamar (7 deret x 8 sisi). Banyak bukan? Ada satu deret yang digunakan untuk kamar perempuan, jadi tidak 100% kos pria. Kalau soal peraturan di sini relatif ya ribet lah, jauh berbeda dengan kos saya semasa kuliah dulu di Jokle, Purwokerto.
Sebenarnya kamar lama saya tidak di kamar yang sekarang saya tinggali. Dulu saya tinggal di kamar bawah, waktu pertama kali menyewa kamar di sini. Harga pertama dulu itu Rp 300.000,00, include kamar mandi dalam, sudah sama listrik (pemakaian standar tanpa alat-alat elektronik berat). Alat elektronik berat itu maksudnya ya tidak termasuk untuk magicom, komputer/ laptop, televisi, radio, dll.
Saya ingat dulu pertama kali saya datang ke sini tanpa membawa apa-apa. Hanya satu set tas yang berisi pakaian, dan plus sleeping bag yang saya gunakan sebagai bantal. Karena waktu pertama saya masuk ke kamar ini, hanya tersedia kasur, dan lemari saja, tidak ada bantal. Kasurnya saja sudah tipis dan baunya sudah apeg sekali, benar-benar tak nyaman sekali saya tinggal di kamar ini. Cukup lama saya tinggal di kamar ini, sudah seperti gudang, sudah cahaya tidak bisa masuk, pokoknya pengab sekali deh, sudah berasa kaya gudang. Saya ingat waktu itu saya pertama kali bekerja di ibukota. Jadi kamar ini hanya saya gunakan untuk tidur dan mandi saja, karena sedari pagi saya di luar dan baru kembali malam hari. Lama-lama saya punya sesuatu untuk merubah keadaan, saya pun memutuskan untuk pindah kamar, dan sekarang saya ada di kamar lantai dua. Setidaknya di sini saya jauh lebih nyaman, udara segar dan matahari bisa masuk ke kamar. Dan yang paling penting tidak banyak serangga yang masuk ke kamar ini, terutama kecoa. Pernah sih ada tomcat mampir, tapi ya itu tidak setiap hari. Untuk kamar saya yang sekarang ini harga sewanya berbeda, Rp 325.000,00, ya karena sekarang saya punya alat elektronik berat, jadi harus ada biaya tambahan untuk listrik.
Tidak sangka ya sudah dua tahun saya di sini, mungkin lebih. Ya buat saya tempat ini nyaman, ya di kamar saya yang sekarang. Banyak rekan, keluarga yang menyarankan untuk pindah tempat lain, tapi saya belum tertarik untuk pinndah. Kenapa? Karena saya nyaman dengan suasana di sini, meski tidak free. Tapi view di depan kamar yang mengarah ke kebun yang hijau jadi kenikmatan tersendiri, kesegaran melihat yang hijau. Wajar saja, setiap hari di jalan yang dilihat hanya polusi dan kegersangan, tapi di kos saya ini view go green bisa saya nikmati gratis.
Sekian dulu share tentang kamar yang saya tinggali sekarang. Ya barangkali ada yang berminat ke kamar sewa yang saya tinggali ini bisa coba saja main ke alamat yang saya share di atas. Saya memang tak memberi foto soal lingkungan kos saya ini, ya untuk keamanan saja. Kalau berminat ya bisa kunjungi saja ke alamat dimaksud. (^-^)?

My Work Table

Ah menyebalkan sekali, perasaan saya sudah buat postingan tentang hal ini kemarin, ketika saya menceritakan bahwa saya sekarang sudah punya meja kerja, up's meja belajar tepatnya. Saya biasa membuatnya di ScribeFire, cuma karena saya lupa dengan versi ScribeFire yang saya gunakan ini berbeda dengan yang saya gunakan dulu di Firefox. Jadi draft postingan yang sudah saya buat kalau ditutup dengan draf postingan baru, yang lama akan hilang dengan sendirinya, kecuali apabila postingan yang masih berupa draf itu di simpan terlebih dahulu.

My work table ;p
Saya mau share, kalau saya sekarang sudah punya meja kerja/ meja belajar. Memang saya sudah punya fasilitas ini di kamar sewa, cuma ya tidak terpakai maksimal sebagaimana fungsinya, karena tidak ada kursi. Kemarin saya coba mengusahakan kursi agar meja belajar ini bisa dipakai. Sekarang saya dapat menggunakan meja ini sebagaimana mestinya. Sebelumnya meja ini hanya untuk menyimpan sesuatu, ya yang jelas tidak maksimal penggunaannya.
Di meja saya ini saya simpan megicome, dvd player ( yang tak pernah bisa dipakai untuk memutar film, hanya bisa memutar musik saja). Di bagian atas saya simpan perlengkapan pribadi saya, seperti body spray, bedak, roll-on, kaca, pengharum pakaian. Di meja itu saya juga simpan rill pancing kesayangan saya, saya juga simpan beberapa buku di pojok kiri, ada juga botol celengan yang tak kunjung penuh (karena setiap akhir bulan selalu diambil untuk tambah-tambah uang makan). Ada juga dua ban dalam cadangan, untuk jaga-jaga kalau ban bocor disaat dompet lagi tipis. Ya begitulah isi dari meja yang saya miliki sekarang. Ke depannya meja ini akan saya gunakan untuk melakukan aktivitas kerja.
Sebelumnya saya memanfaatkan meja lesehan saja, tapi lama-kelamaan capek juga pantat dan punggung saya, jika duduk depan Lenov berjam-jam. Ya memang yang ideal kalau berkativitas itu duduk di kursi dan bermeja. Itu sebabnya kenapa di kantor-kantor selalu disediakan meja dan kursi untuk aktivitas karyawannya. Bayangkan apabila tidak ada meja dan kursi, karyawan kantor melakukan aktivitas lesehan di lantai ... #lucukaliya
Oh iy, cukup sekian share saya ini. Sekali lagi penting tidaknya catatan ini ya kembali ke urusan saya, toh ini catatan saya, saya mau simpan apa ya suka-suka saya. Toh tempat dimana sekarang saya tinggal ini bukan untuk selamanya. Jadi jika sudah tak lagi jadi tempat tingga saya, saya punya kenangan di sini, dan catatan ini bisa jadi sarana saya nostalgia ... ;o Tentunya begitu ;p (^_^)?

Rabu, 15 Mei 2013

Kompor Gas Portable

Omong-omong soal kompor gas portable, saya punya kompor gas yang selalu menemani saya di saat kesusahan. Biasanya sih kalau lagi "tipis dompet", kompor gas ini selalu menjadi teman saya, untuk memasak lauk, sekedar buat makanan ringan atau minuman hangat, semua jadi praktis dengan adanya kompor ini. Dulu bayangan saya, kalau harus menyediakan kompor gas plus dengan tabung gasnya, waduh repotnya kaya apa, mana lagi harus menyediakan tempat lebih untuk meletakannya. Belum lagi resiko penggunaan kompor gas dengan tabung melon 3 kilo ... #alamak Kan banyak tuh pemberitaan kasus "meledak" ketika memasak dengan tabung gas "granat" 3 kilo. Wajar saya sebut "granat", kalau kalau salah picu langsung meledak deh.
Kompor gas portable "Rinnai" dan tabung gas "HI-COOK"
Awal bertemu dengan kompor gas portable ku ini. Kebetulan ketika sedang belanja kebutuhan kamar, ada promo kompor gas, saya lihat-lihat, ternyata kompor gas portable yang ditawarkan. Kompor gas ini terlihat praktis, ringan, dan ada kopernya khusus untuk menyimpannya. Bahan bakar gas yang digunakan juga sederhana, seperti tabung pilog, tahu kan, itu botol cat semprot. Harga tabung gas nya itu juga murah meriah, kisaran 9,8K sampai 14K per botol 330 ml. Harga kompor yang ditawarkan promo itu juga tidak lebih dari 150K. Padahal sebelum-sebelumnya saya sempat ingin membeli kompor jenis ini, namun karena harganya relatif mahal kala itu masih diangka 200K saya mengurungkan niat saya. Kali ini kebetulan sekali harganya pas. Dan juga karena didorong oleh M e m e y, terbelilah. Dan sekarang saya merasakan manfaat dari kompor itu.
Kompor gas ini menurut saya lebih aman digunakan, daripada kompor gas biasa. Ya kalau untuk keperluan memasak ringan sepertinya cukup menggunakan kompor ini, seperti untuk kebutuhan anak kos, atau untuk travelling, untuk acara masak-memasak di sekolah, untuk demo masak sepertinya kompor ini cukup. Keamanannya menurut saya terjamin, asalkan digunakan secara normal saja, maksudnya pemasangan tabung sesuai dengan petunjuk penggunaan. Saya juga belum pernah mendengar kasus "laka" dari penggunaan kompor gas portable. Banyak produsen kompor juga punya varian untuk kompor gas jenis ini, tinggal pilih saja sesuai selera.
Sumber gasnya seperti yang sudah saya sampaikan di atas tadi, menggunakan tabung gas ukuran tabung kecil ukuran 330 ml. Tersedia di pasaran dengan berbagai merk. Masing-masing merk punya ukuran berbeda, namun rata-rata kisarannya 320 - 330 ml, harganya pun bervariasi. Soal masa berkala penggantian tabung itu tergantung pemakaian. Kalau pengalaman saya menggunakan tabung ukuran 330 ml, bisa sebulan lah, dengan pemakaian standar, untuk memasak air, indomie, menggoreng telur, tahu, tempe, memasak ringan lainnya. Contoh, saya memasukan tabung penggantian tanggal 14 Mei, nanti penggantian kembali sekitar tanggal 13-15 Juni. Bisa lebih awal atau lebih lama, sekali lagi tergantung pemakaian, namun tidak jauh dari tanggal tadi.
Jadi buat anak kosan, untuk mengirit pengeluaran harian terutama soal makan, kompor jenis ini bisa jadi pilihan, daripada harus repot-repot pinjam kompor nyokap di rumah #ahay, belum lagi soal resiko kalau-kalau apes teledor bisa terjadi ledakan, bahaya kalau sampai terjadi, bisa bikin geger satu atap rumah kos, dan tetangga. Meski penggunaan yang sederhana, sisi keamanan dan penggunaan yang cermat wajib diperhatikan. Selamat masak-memasak bagi yang mengaku jadi anak kos #okay ... ;) (^_^)?

Minggu, 12 Mei 2013

Densus 88 Anti Teror Mabes Polri

Belakangan ini dengan ramainya pemberitaan soal kasus terorisme, nama Densus 88 kembali terkenal. Densus 88 merupakan tim khusus antiteror yang menangani kasus-kasus kejahatan terorisme milik Mabes Polri. Pada intinya, Densus 88 dilibatkan pada kasus kriminal atau kejahatan teror, terutama yang menggunakan senjata api dan bom yang mengancam keamanan masyarakat sipil. Itulah yang sejauh ini saya ketahui mengenai Densus 88.

Kembali soal pemberitaan, Densus 88 ini kalau saya lihat ya, kadang dibela, kadang juga dicaci atau dipertanyakan keprofesionalannya. Saya pernah membuat postingan yang berjudul Melihat Aksi Kontra Terorisme dari Sudut Lain. Di situ saya mencoba memandang Densus 88 dari sisi yang lain, ditengah berbagai pendapat yang menurut saya memojokan tugas penanganan kontra terorisme di Indonesia. Sepertinya sebagian masyarakat Indonesia masih menganggap aksi terorisme yang ada itu hanya sebuah rekaan, terutama ketika Densus 88 melakuan aksi preventif. Tetapi sebaliknya, ketika Densus 88 bergerak setelah terjadi kasus terorisme, Densus 88 dihujat atas kecolongannya.

Di tengah pemberitaan Densus 88 yang sepertinya dipojokan itu, Densus 88 pun pernah menerima pujian, atas keberhasilan menangkap pelaku terorisme yang ketika itu benar-benar menampar Indonesia, ketika korban dari aksi terorisme itu sudah dianggap kejahatan kemanusiaan. Keberhasilan Densus 88 sangat diharapkan masyarakat Indonesia.

Ya itu dulu, tetapi sekarang sepertinya pandangan masyarakat sepertinya sudah berubah, terkesan sebagian masyarakat Indonesia mengamini tindakan terorisme. Masyarakat kita tampak munafik dengan hal ini, dan tidak mau terbuka diri memang ada oknum-oknum masyarakat Indonesia yang berusaha mengahalalkan terorisme di negeri ini, dan itu harusnya dilawan bersama, apa pun kepercayaan yang oknum itu anut. Saya menganggap hal ini terjadi karena pandangan negatif masyarakat Indonesia, terutama sebagian masyarakat tertentu yang punya pandangan keyakinan tertentu, yang menganggap Densus 88 adalah alat dari asing (barat), untuk merusak salah satu keyakinan masyarakat Indonesia.

Berdasarkan latar belakang itu, saya ingin mencoba tahu lebih soal sejarah Densus 88. Mungkin tidak banyak yang akan saya catat, karena keterbatasan saya atas informasi yang ada, karena kebanyakan informasi yang saya peroleh menganggap Densus 88 sebagai pasukan yang tumpang tindih, dan Densus 88 masih dianggap sebagian orang (blogger) dan orang tertentu sebagai organisasi tak profesional, ya karena alasan-alasan klasik “alat barat”. Wajar, itu pendapat masing-masing orang, asalkan tidak merusak keutuhan negara ini dengan pandangan mereka yang seperti itu. Oleh karena itu informasi seputar Densus88 saya peroleh dari Wikipedia saja yang lebih netral.

Densus 88, itulah sebutan yang lebih sering digunakan ketika diberitakan soal aksi kontra terorismenya. Tahukah nama panjangnya? Densus 88 adalah kependekan dari Detasemen Khusus 88, merupakan satuan khusus Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk penanggulangan teroris di Indonesia. Pasukan khusus ini memang dilatih khusus untuk menangani segala bentuk ancaman teror, termasuk teror bom hingga penyanderaan. Beberapa dari anggota Densus 88 merupakan anggota tim Gegana.

Densus 88 Mabes Polri diperkirakan berkekuatan 400 personel, yang terdiri dari ahli investigasi, ahli bahan peledak (penjinak bom) dan unit pemukul yang di dalamnya terdapat ahli penembak jitu (sniper). Di masing-masing kepolisian daerah (Polda) juga memiliki unit antiteror Densus 88 yang beranggotakan 45-75 orang, namun dengan fasilitas dan kemampuan yang lebih terbatas. Fungsinya memeriksa laporan aktivitas teror di daerah; melakukan penangkapan kepada personel atau seseorang atau sekelompok orang yang dipastikan merupakan anggota jaringan teroris yang dapat membahayakan keutuhan dan keamanan negara Republik Indonesia.

Densus 88 merupakan salah satu dari unit antiteror yang dimiliki Indonesia, selain Detasemen C Gegana Brimob, Detasemen Penanggulangan Teror (Dengultor) TNI AD alias Grup 5 Anti Teror; Detasemen 81 Kopasus TNI AD; Detasemen Jalamangkara (Denjaka) Korps Marinir TNI AL; Detasemen Bravo (Denbravo) TNI AU; dan Satuan Antiteror BIN.

Satuan ini diresmikan oleh Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya, Inspektur Jenderal Firman Gani, pada tanggal 26 Agustus 2004. Densus 88 ini awalnya beranggotakan 75 orang, yang dipimpin oleh Ajun Komisaris Besar Polisi Tito Karnavian. Densus 88 dibentuk dengan Skep. Kapolri No. 30/VI/2003 tertanggal 20 Juni 2003, untuk melaksanakan Undang Undang No. 15 Tahun 2003 tentang penetapan Perpu No. 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, yaitu dengan kewenangan melakukan penangkapan dengan bukti awal yang dapat berasal dari laporan intelejen manapun, selama 7 x 24 jam (sesuai pasal 26 dan 28). Undang-undang tersebut populer di dunia sebagai Anti-Terrorism Act”.

Bahasan kita kini ke soal filosofi dari angka “88”. Angka 88 berasal dari kata ‘ATA (Anti-Terrorism Act)’, yang jika dilafalkan dalam bahasa Inggris erbunti ‘Ei Ti Ekt’. Pelafalan ini kedengaran seperti ‘eighty eight (88)’. Jadi bila ada anggapan bahwa angka ‘88’ itu merupakan representasi dari korban jiwa bom Bali terbanyak yaitu 88 orang warga Australia, dan representasi dari “borgol” yang membentuk angka ‘8 adalah salah’. Ada pula pandangan yang selama ini beredar pandangan di masyarakat bahwa Densus 88 merupakan pasukan buatan asing (barat), dalam rangka niat mereka menumpas suatu keyakinan tertentu, sehingga membuat Densus 88 dianggap tak profesional. Wajar pandangan ini muncul karena memang Densus 88 dibuat dengan atas biaya dari pemerintah USA.

Densus 88 dibiayai oleh pemerintah USA, melalui bagian Jasa Keamanan Diplomatik (Diplomatic Security Service) Departemen Luar Negeri USA. Mengenai pelatihannya sendiri, dilatih oleh instruktur dari CIA, FBI dan U.S. Secret Service. Pengajarnya kebanyakan bekas anggota pasukan khusus USA. Informasi tadi dipandang lain oleh petinggi Polri saat itu  yang sebenarnya intinya sama saja. Menurut mereka (petinggi Polri saat itu) terdapat bantuan signifikan dari pemerintah USA dan Australia dalam pembentukan dan operasional Densus 88. Paska pembentukan, Densus 88 dilakukan pula kerja sama dengan beberapa negara lain seperti Inggris dan Jerman.

Soal persenjataan, pasukan Densus 88 dilengkapi persenjataan dan kendaraan tempur, seperti senapan serbu, pistol Colt M4, senapan serb Steyr AUG, HK MP5, senapan penembak jitu Armalite AR-10, shotgun Remington 870. Soal kendaraan tempur, selama ini Densus 88 menggunakan kendaraan sipil untuk melakukan penggerebekan ke sarang teroris. Hal ini untuk menyamarkan operasi agar tidak mudah diketahui.


Sebenarnya bagian inilah (dua paragraf di atas) yang menjadi titik kelemahan Densus 88, ketika dianggap sebagai pasukan khusus bentukan asing, bukan dibentuk atas dasar kebutuhan Polri sendiri, mengingat pada tahun itu, dunia internasional sedang terpukul atas aksi terorisme yang menjadi-jadi. Padahal bila dilihat dari kacamata lain, sebenarnya memang Polri membutuhkan tim ini, mengingat efek paham radikal juga sudah masuk ke Indonesia, dibuktikan dengan kasus-kasus teror yang membuat banyak jatuh korban, dimana keadaan ini jelas merusak citra Indonesia sebagai negara timur yang damai. Jadi menurut saya, selama Polri berjalan sesuai undang-undang yang berlaku, memang sudah seharusnya, jadi disitulah keprofesionalan Polri. Tidak usahlah kita mencampur adukan dengan keyakinan-keyakinan yang “salah”, toh tidak ada paham yang menghalalkan pembantaian atas orang-orang yang tak bersalah. Apabila, sebagian orang itu berpandangan bahwa mereka (negara-negara barat) pun melakukan hal yang sama di suatu negara, ada cara lain untuk meluruskannya, dan bila jalan “radikal” yang dpilih, janganlah lakukan itu di negara ini. Itu sudah cukup jelas, dan tak perlu diperdebatkan. So, do it in your place, don’t in here.

Terorisme di Indonesia ini muncul memang ada banyak hal yang mempengaruhi, dari kesejahteraan masyarakat sampai  ke pandangan ideologis yang masyarakat anut. Coba bila melihat daerah-daerah di dunia sana yang tinggi tingkat terorism-nya, kesejahteraan masyarakat secara ekonomi tidak terlalu baik, perut yang kosong membuat mereka mudah dimasuki pandangan-pandangan yang radikal. Tapi kesejahteraan yang baik juga tidak menjamin ada masyarakatnya yang tidak berpandangan radikal. Intinya, penegakan hukum yang tegas harus dilakukan dengan profesional dan tanpa pandang bulu.

Selama ini pandangan mereka yang radikal itu tidak mampu mengkombinasikan hukum dunia dan hukum Tuhan. Intinya seperti itu, jadi ketika ada permasalahan perbedaan pandangan yang prinsipil, hukum di Tuhan dan hukum dunia menjadi tumpang tindih. Padahal, hukum Tuhan itu digunakan untuk memagari hukum dunia, agar tetap sesuai koridor hukum Tuhan. Tuhan menurut keyakinan apapun tidak pernah mengamini kekerasan atau penghilangan nyawa orang dalam bentuk apa pun.

Pandangan saya ini jelas akan dianggap lain oleh masyarakat yang “phobia barat” atau “phobia Israel”, atau yang lebih ekstrim “phobia Yahudi”. Mereka pastinya akan menentang bagaimana pun caranya. Ya inilah yang membuat dunia tidak pernah damai, ketika perbedaan pandangan diselesaikan dengan kekerasan dan perang, diantara dua pihak atau lebih yang bertentangan. Dunia yang penuh kedamaian menjadi cita-cita bersama seluruh warga dunia, namun hal itu bisa terwujud jika warga masing-masing negara di dunia mampu menciptakan kedamaian pula, mengikis pemahaman radikal yang salah. Dan juga hapuskan dunia dari pemaksaan kehendak untuk urusan apapun, karena setiap individu punya kebebasan memilih kehendaknya selama berada dijalur aturan yang berlaku.

Di sini saya mencoba objektif melihat peran Densus 88, ketika memang Densus 88 perlu dikritisi ya lakukan untuk membangun. Tidak ada alasan apapun sebuah lembaga atau organisasi buatan negeri sendiri bisa disetir oleh asing. Hal ini terjadi karena terlalu seringnya bangsa ini bergantung pada bantuan asing. Cobalah untuk lepas dari ketergantunggan asing, “berdikari” bisa jadi pilihan, meski bukan berarti memutus diri dengan pergaulan dengan negara lain. Peace and love in world ;p

Jumat, 10 Mei 2013

Gerhana dan Ritual

Tadi pagi 10/5 di beberapa wilayah di Indonesia ini, kita bisa menyaksikan gerhana matahari sebagian. Banyak orang yang mengabadikan momen ini dengan kameranya, adajuga anak-anak sekolah yang mengamati proses alam ini dengan teropong. Gerhana merupakan momen alam semesta, terutama berkaitan dengan benda-benda langit.
Gerhana sendiri ada dua macam, sesuai yang saya ketahui sejak sekolah dasar. Ada gerhana matahari dan gerhana bulan. Yang membedakan adalah posisi dari benda-benda langit tersebut, mereka berada pada posisi sejajar. Pada gerhana, benda langit yang ikut serta adalah matahari, bulan dan bumi kita ini. Gerhana dapat dilihat ya dari posisi bumi kita ini. Pada gerhana matahari, posisinya ketika cahaya matahari tertutup oleh bulan, yang melintas sejajar dengan orbit dimana kita memandang dan terjadi di siang hari. Sedangkan gerhana bulan terjadi ketika pantulan cahaya terhadap bulan tertutup atau terhalang oleh bumi, sehingga sebagian dari bulan tampak gelap dan terjadi di malam hari. Posisi matahari adalah sebagai pusat, sehingga bumi kita dan bulan yang bergerak mengelilingi matahari, disamping bumi kita melakukan rotasi.
Penampang gerhana
Masyakarat kuno jaman dulu, ketika masih belum mengenal ilmu pengetahuan, menganggap momen gerhana adalah momen mistis. Inget dulu kalau cerita kakek-nenek, bahwa ketika terjadi gerhana itu, ada makluk jin yang memakan benda langit tersebut. Kalau terjadinya gerhana matahari, ya berarti mataharinya dimakan, kalau gerhana bulan bulannya yang dimakan. Sebuah cerita yang tidak masuk akal memang.
Pernah juga tahu mitos tentang wanita hamil agar memperhatikan gerhana, karena kalau tidak akan ada gangguan terhadap anak yang dilahirkannya nanti. Bisa jadi nanti anaknya cacat, kekurangan satu organ, yang katanya orang dulu akibat dimakan oleh sesuatu, seperti yang terjadi pada matahari atau bulan yang dimakan sesuatu. Mitos yang aneh bila kita tahu tentang proses apa sebenarnya yang terjadi pada fenomena gerhana itu.
Cerita-cerita macam itu tidak hanya teradi di negara kita, bahkan di negara-negara lain di dunia punya kisah-kisah atau mitos-mitos tertentu yang berkaitan dengan gerhana ini. Entah, siapa yang memulai menebar mitos-mitos tersebut, tetapi mitos tersebut sering dijadikan ritual khusus.
Ada juga ritual di masyarakat India, tepatnya di Gulbarga atau di Kamataka Utara  yang berkaitan dengan gerhana. Ritual ini adalah dengan mengubur anak cacat hidup-hidup sampai leher anak cacat tersebut, selama enam jam saat terjadi gerhana matahari. Hal ini dilakukan untuk mengimbangi efek negatif yang diperkirakan disebabkan karena efek negatif gerhana matahari sebelumnya. Tapi manfaat sesungguhnya dari ritual itu belum bisa dipastikan secara ilmiah, hanya saja menurut masyarakat di sana ada pengaruh terhadap mobilitas anak-anak yang cacat setelah diritualkan.
Lalu juga, pernah nonton film-film luar negeri? Ketika terjadi gerhana, disaat itulah proses ritual pemanggilan setan atau penarikan energi ruang dan waktu jadi sangat tepat, dimana ketika terjadi gerhana ada sesuatu yang membuat ritual-ritual magis bisa berjalan sebagaimana mestinya. Cerita yang diangkat ke film ini juga sebagian diambil berdasarkan kepercayaan tertentu masyarakat dimana film tersebut dibuat atau sumber cerita film tersebut diangkat. Coba kunjungi link ini, di sini disampaikan beberapa fenomena yang terjadi di dunia yang berkaitan dengan gerhana.
Lalu bagaimana kita menyikapi hal tersebut? Apakah memang benar seperti itu? Bahkan menurut agama tertentu, ketika terjadi momen gerhana, perlu diadakannya ibadat tertentu yang khusus ditujukan untuk momen gerhana.

Saya mencoba menjawab, ya paling tidak mengira-ngira soal ritual yang dilakukan menurut agama tertentu itu. Ketika agama tertentu itu masuk ke suatu daerah, mereka melihat masayarakat setempat melakukan hal-hal atau mempercayai segala bentuk ketakhayulan. Nah dalam agama tertentu tersebut, sangat tidak diperkenankan mempercayai hal tersebut, hanyalah Tuhan Yang Maha Esa yang adi panutuan dan tujuan. Oleh karena itu, untuk mengubah kebiasaan tahayul masyarakat, ketika terjadi momen gerhana, diadakan ritual keagamaan yang tujuannya adalah menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Itulah sebenarnya alasan ritual gerhana menurut agama tertentu. Cukup logis bukan? Jadi bukan berarti ritual agama tertentu tersebut untuk mengamini ritual keagamaan yang ada selama ini di masyarakat. Jawaban ini hanya perkiraan saya saja yang melihat fenomena tersebut, saya sendiri bukan dari kepercayaan tersebut.
Nah berkaitan dengan ritual-ritual lainnya yang dilakukan pada saat gerhana saya masih belum bisa menjawabnya, apakah memang ada kesesuaian dengan ilmu pengetahuan atau memang hanya kepercayaan masyarakat setempat saja. Tapi biarlah ritual-ritual itu menjadi budaya, selama tidak merugikan, namun bagi pemaham ilmu pengetahuan yang ilmiah tetap harus membagikan ilmunya kepada masyarakat tersebut, bahwa fenomena gerhana itu adalah fenomena alam yang wajar terjadi karena memang posisi benda langit.
Jadi buat kita yang paham tentang fenomena gerhana ini, nikmati saja, kalau yang senang dengan gerhana, bisa mengamatinya dan menyelami tentang ilmu perbintangan dan segala benda langit, setidaknya hal tersebut lebih bermanfaat daripada melakukan ritual-ritual takhayul yang belum jelas ilmiah dan logikanya. (^_^)?