Jumat, 03 Mei 2013

Note About CBR150R and CBR250R

Postingan ini dibuat karena ada request dari T i a n, di Denpasar. Pengen tahu tentang perbedaan dua motor keluaran Honda ini, CBR150R dan CBR250R. Secara kasat mata memang bentuk keduanya sama saja, hanya berbeda dimensi dan pastinya cc yang diusung masing-masing mesin.
CBR150R
CBR150R
[Sumber: Google Image]



Data spesifikasi masing-masing motor sepertinya sudah banyak disampaikan di beberapa artikel atau blog. Tetapi saya coba buat catatan khusus untuk Naturality, juga untuk kebutuhan informasi saya dan pembaca setia my blog. He3x #narsis.
CBR250R
CBR250R
[Sumber: Google Image]

CBR150R merupakan tampilan baru dari CBR150R tipe lama, yang bentuknya kecil. Di CBR150R baru, dimensi motor agak sedikit lebih besar dari tipe lamanya, sehingga lebih gagah. Sedangkan CBR250R memang motor keluaran Honda untuk motor sport 250cc untuk bersaing dengan motor ber-cc sejenis, yaitu Kawasaki Ninja 250R yang telah muncul lebih dulu. Untuk lebih jelas soal spesifikasi diantara CBR150R dan CBR250R bisa dilihat di tabel di bawah ini:
Spesifikasi
CBR150R
CBR250R

Tipe Model
Honda MC41
1.977 x 701 x 1.130
Dimensi (p x l x t | mm)
2.035 x 720 x 1.125
1.310
Jarak Sumbu Roda (mm)
1.370
190
Jarak Terendah ke Tanah (mm)
145
797
Ketinggian Tempat Duduk (mm)
780
138
Berat Kosong (Kg)
161 (tipe STD)
165 (tipe C-ABS)
2.400
Radius Putar Minimum (mm)
2.500
Twin Tube Diamond
Tipe Rangka
Pola Berlian (Diamond)
Depan: Teleskopik
Belakang: Tunggal (Monoshock)
Tipe Suspensi
Depan: Teleskopik
Belakang: Lengan Ayun (Sistem Suspensi Pro-Link)
Depan: 100/80-17M/C 52P
Belakang: 130/70-17M/C 62P
Ukuran Ban
Depan: 110/70-17M/C (Tubeless)
Belakang: 140/70-17M/C (Tubeless)
Depan: Cakram Hidrolik (Piston Ganda)
Belakang: Cakram Hidrolik (Piston Tunggal)
Tipe Rem
Depan: Cakram Hidrolik
Belakang: Cakram Hidrolik
13,1 Liter
Kapasitas Tangki Bahan Bakar
13 Liter



CS150RE, 4-Langkah, DOHC, Silinder Tunggal
Tipe Mesin
CS250RE, 4-Langkah, DOHC, Silinder Tunggal
Pendingin Cairan (Radiator) dengan kipas elektrik otomatis
Sistem Pendingin
Pendingin Cairan (Radiator)
Injeksi (PGM-FI/ Programmed Fuel Injection)
Sistem Suplai Bahan Bakar
Injeksi (PGM-FI/ Programmed Fuel Injection)
6 Kecepatan
Tipe Transmisi
Constant Mesh 6-Speed Return
Manual, Wet Multiplate with Coil Springs
Tipe Kopling
Wet Multiplate with Coil Springs
149,4
Volume Langkah (cm³)
249
63,5 x 47,2
Diameter x Langkah (mm)
76,0 x 55,0
11,0 : 1
Perbandingan Kompresi
10,7 : 1
13,11 kW (17,8 PS)/ 10.500 rpm
Daya Maksimum
21,92HP
12,66 Nm (1,29 kgf.m)/ 8.500 rpm
Torsi Maksimum
14,65 lb.ft
Elektrik Starter
Tipe Starter
Elektrik Starter
Full Transisterized
Tipe Pengapian
Full-Transistor Battery Ignition
1,0 Liter pada Pengantian Periodik
Kapasitas Minyak Pelumas
1,8 Liter
Repsol Edition, Night Black, Xtreme Red, Sporty RWB (Honda Three Colors-Symbol Honda Racing)
Tipe Pilihan Warna
Repsol Edtion, Candy Ruby Red, Sword Silver Metallic, Asteroid Black Metallic, Sporty RWB (Honda Three Colors-Symbol Honda Racing)
Rp 33.300.000,-
Rp 34.300.000,- (Repsol)
Harga
Rp 42.550.000,-  (Sporty RWB-Red)
Rp 43.550.000,- (STD Repsol)
Rp 49.750.000,- (ABS Black)
Rp 51.000.000,- (ABS-Repsol)

Sumber: berbagai sumber

Secara garis besar perbedaan diantara kedua motor adalah seperti yang tercatat pada tabel. Informasi ini saya peroleh dari berbagai sumber, ada yang saya peroleh dari internet dan liflet book promotion CBR150R and CBR250R yang saya peroleh ketika Jakarta Festival Motor Show 2012 lalu.

Kamis, 02 Mei 2013

Demo May Day Indikator Kesejahteraan Buruh

Tanggal 1 Mei diperingati sebagai hari buruh internasional. Dimana di setiap negara yang punya kelas pekerja terbawah mempunyai hari istimewa untuk menyampaikan segala macam unek-unek, aspirasi dan segala sesuatu lain untuk mereka perjuangkan. Tujuannya adalah demi kesejahteraan dan kehidupan yang layak.

Masalah perburuhan tidak hanya terjadi di negara sedang berkembang seperti Indonesia, bahkan sampai negara maju pun mengalami permasalahan perburuhan, mungkin dengan kadar masalah yang relatif berbeda. Bahkan di Jerman aksi demo May Day berakhir ricuh di tahun 2013 ini. Kita tahu Jerman adalah negara maju, jauh kalau dibandingkan dengan Indonesia. Tak hanya itu, buruh di Spanyol pun melakukan demo atas peningkatan pengangguran sampai 27%. Demo buruh di Istambul, Turki yang juga mengalami bentrokan. Negara lain di luar negeri sana yang serupa dengan Indonesia, sama-sama negara sedang berkembang adalah Yunani, yang sempat mengalami krisis, buruhnya pun melakukan demo hingga melumpuhkan angkutan umum. Kemudian demo di Manila, Filipina. Lalu demo buruh juga terjadi di Kamboja. Dan negara-negara lain di dunia, dimana kesejahteraan buruh masih dipandang sebelah mata.

Di Indonesia sendiri, masalah perburuhan cukup kompleks. Dari masalah kesejahteraan, jaminan kesehatan, penghasilan minimum, sistem kerja kontrak, sampai hal-hal lain seputar keadaan ekonomi yang memberatkan kesejahteraan buruh dan rakyat yaitu soal kenaikan harga BBM, kenaikan harga-harga barang dll. Beberapa Presiden yang telah punya kesempatan memimpin bangsa ini belum ada yang berhasil menyelesaikan masalah perburuhan, yaitu mengakomodir dua elemen, buruh dan pengusaha. Indonesia termasuk ke dalam negara sedang berkembang, dan ini bisa jadi gambaran dari perekonomian yang terjadi di negara kita ini.

Bagaimana pun suatu negara mengklaim telah mesejahterakan rakyatnya, namun gejolak dari elemen bawah masyarakat terus-menerus, itu tanda bahwa klaim pemerintah belum bisa dibuktikan. Siapa yang disejahterakan? Di Indonesia gap antara si kaya dan si miskin terlalu jauh. Pemerintah selalu mengklaim bahwa perekonomian terus tumbuh, rakyatnya bisa mampu ‘membeli’ sesuatu yang dianggap bukan kebutuhan penting, seperti produk otomotif atau elektronik dsb. Terutama soal kemacetan, pemerintah menilai itu salah satu bentuk kesejahteraan rakyat, mereka telah dianggap mampu. Tapi pemerintah tidak melihat semua itu dibiayai dengan “hutang” alias “kredit”. Ketika sumber pendapatan tidak lagi ada atau mencukupi, “hutang” atau “kredit” tidak akan bisa terbayar dan yang terjadi kredit macet. Inilah yang disebut perekonomian keropos, seperti yang terjadi pada perekonomian jaman orde baru.

Buruh termasuk kedalam kelompok masyarakat kelas bawah, dan hampir kebanyakan rakyat kelas bawah bekerja di sektor ini. Ketika pemerintah tidak bisa mensejahterakan masyarakat di kelompok ini sebenarnya tugas pemerintah yang diamanatkan undang-undang dasar belum bisa diwujudkan. Masyarakat kelas bawah pada kenyataannya selalu sulit memperoleh akses-akses kesehatan, pendidikan serta pekerjaan yang layak, sehingga hidup mereka akan selalu berada di lingkaran setan. Tugas pemerintah seharusnya memfasilitasi rakyatnya yang lemah ini. Tidak dengan memberi begitu saja, tetapi memberi dengan mendidik serta membina.

Jika tiba waktunya bangsa ini dipimpin oleh pimpinan yang amanah, cita-cita bangsa bisa dipastikan akan terwujud, meski tidak sempurna, namun ada sesuatu yang bisa diperoleh rakyatnya. Rakyat bisa mendapat kesehatan, pendidikan serta pekerjaan yang layak sehingga bisa memenuhi kebutuhan dasarnya adalah penting untuk diwujudkan. Begitu pun dengan kepentingan buruh-buruh di seluruh negeri ini.

Apabila semua itu terwujud, ketika peringatan May Day, ada yang berbeda. Kalau tahun-tahun lalu May Day selalu dilakukan dengan aksi demonstrasi, mobilisasi buruh dengan aksi blokir, pengrusakan atau lain-lainnya, tapi di waktu dimana semua itu telah terwujud aksi-aksi negatif buruh tidak akan ada lagi. Yang ada adalah aksi pawai damai atau pawai kebudayaan yang menampilkan segala kreativitas para buruh atas hasil cipta-rasa-karsa mereka dalam bekerja. Mereka bisa menampilkan hasil kerja keras mereka, dan ketika hubungan antara pengusaha dan buruh sudah baik, yang terjadi adalah demonstrasi produksi. Suatu hal yang menarik, dan bila hal ini terjadi pastinya akan jadi ajang promosi untuk hasil produksi dalam negeri.

Suatu kondisi yang diidamkan semua pihak di negeri ini. Itulah yang saya maksudkan, ketika pada peringatan May Day sudah tidak ada lagi aksi demonstrasi dan mobilisasi buruh untuk berdemo besar-besaran, itu adalah waktu dimana kesejahteraan  buruh bisa diwujudkan. Kapan hal itu terjadi? Entah, tidak ada yang tahu. Butuh berapa calon pemimpin negara untuk itu? Tentu tidak ada yang tahu, yang bisa menjawab adalah pribadi-pribadi calon pemimpin negeri ini, bisa atau tidak mewujudkan mimpi yang indah itu? Kalau tidak bisa, pemimpin itulah yang membuat mimpi buruk terus terjadi di negeri ini, di negeri yang katanya kaya raya dengan segala sumber dayanya. (^_^)? Hidup buruh!!!

Rabu, 01 Mei 2013

I say: “I like May Day in Jakarta”

Hari ini hari pertama di bulan Mei 2013. Penanggalan pertama di bulan Mei, yang juga jadi hari istiwewa bagi para buruh sedunia. Karena hari ini diperingati sebagai Hari Buruh Internasional. Efek kata ‘internasional’ juga berpengaruh di dalam negeri yang statusnya nasional. Memang sudah jadi agenda rutin para buruh di seluruh Indonesia untuk mengistimewakan hari ini, untuk mereka turun ke jalan, berdemo, mengutarakan pendapat secara besar-besaran.

Oleh karena rutin diselenggarakan setiap tahun, semua pihak yang berhubungan dan bersinggungan dengan aksi mereka pun sudah pasti mempersiapkan diri, termasuk para buruh sendiri. Pihak-pihak yang berhubungan atau bersingunggan dengan aksi para buruh antara lain pihak keamanan seperti TNI-Polri, Sat. Pol. PP DKI Jakarta dan daerah-daerah lain sebagai tenaga keamanan daerah yang diperbantukan. Kemudian pihak perusahaan yang merelakan waktu kerjanya terbuang untuk aksi demo ini. Lalu juga masyarakat yang punya aktivitas di area yang dilalui para buruh berdemo, terutama pengguna kendaraan pribadi roda empat mengurungkan niat mereka memakai kendaraannya. Mereka inilah yang jelas mempersiapkan diri ketika hari ini tiba.

 

Aktivitas saya pagi ini

Hari ini saya punya agenda khusus dari Depok menuju Tanah Abang II. Saya berangkat dari Depok sekitar pukul 8 pagi. Deadline time pukul 10 pagi. Biasanya di hari-hari normal, jika saya berangkat jam segitu jalanan dari Depok menuju Jakarta itu macetnya cukup parah, namun pagi ini cukup berbeda. Ya benar, berbeda karena hari ini adalah hari buruh, “May Day”. “Yeah, I like this. No crowded.”

Rute yang saya lewati pagi ini sama seperti rute yang saya lewati jika menuju kawasan Budi Kemuliaan. Dari Depok saja tidak ada kemacetan berarti, biasa di sekitar Univ. Pancasila, kemudian di sekitar markas PDI-P Lenteng Agung, kolong fly over TB. Simatupang, Tanjung Barat biasanya sudah mulai macet, pagi ini tidak, arus kendaraan lancar saja. Macet yang saya rasakan yaitu di lampu merah Ragunan, dan memang tiap hari di sana selalu macet. Kemacetan terasa di arah menuju Kemang, karena kebanyakan kendaraan roda empat mengalihkan kendaraannya ke arah sini.

Pagi ini memang volume kendaraan roda empat jauh berkurang dari hari biasa. Ini yang saya sukai, karena menurut saya kemacetan justru ditimbulkan oleh kendaraan roda empat. Sering-sering saja May Day ini setiap hari, jadi jalanan lengang tanpa kendaraan roda empat. Kemudian saya melalui Jalan Antasari, Prapanca hingga ke Blok M, lalu menuju arah Bundaran Senayan, hingga Jensud. Jalan-jalan yang saya lewati itu relatif lancar sekali. Padahal kalau hari biasa jalanan ini didominasi oleh kendaraan roda empat. Sampai akhirnya saya ke pusat ibukota, yaitu Bundaran HI, di sini sudah terlihat banyak bus-bus besar, mobilisasi buruh menuju pusat ibukota sedang berlangsung. Suatu kondisi yang “seru, luar biasa” bisa mengumpulkan mereka untuk tuntutan-tuntutan yang intinya “kesejahteraan buruh”.

Tidak hanya para buruh dari berbagai daerah saja yang berkumpul, terlihat awak media, petugas keamanan serta masyarakat yang punya aktivitas di perkantoran sekitar Bundaran HI ikut berbaur. Saya tidak bisa mengabadikan momen ini karena saya sedang berkendara, dan saya tidak bisa menepikan kendaraan, karena di kiri jalan banyak petugas yang mengarahkan kendaraan untuk tetap melaju.

Lanjut ke jalan MH. Thamrin hingga kawasan Budi Kemuliaan pagi ini masih lancar dan lengang. Hari ini untuk pengalaman di jalanan cukup menyenangkan, setidaknya jadi penghibur untuk situasi yang tak menyenangkan setelahnya.

 

Tapi komentar saya untuk  hari ini adalah menyenangkan, dan saya katakan “I like May Day”. Tentunya untuk wilayah Jakarta, karena hari ini cukup berbeda dari hari biasa, untuk itu saya menyenanginya, sama seperti hari raya Lebaran, saya juga sangat menyukainya, karena jalanan Jakarta sangat lengang ketika itu. Inginnya setiap hari adalah “May Day”.

Presiden RI yang masih berkuasa di periode ini mengatakan bahwa akan mengistimewakan hari ini, dimana mulai tahun depan, setiap tanggal 1 Mei adalah hari libur nasional, untuk memperingati Hari Buruh Internasional dan secara nasional. Presiden SBY berharap para buruh bisa memanfaatkan hari libur untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat.

Sekali lagi, “I like May Day in Jakarta”. Saya suka karena jalanan bebas kendaraan roda empat yang menurut saya adalah sumber macet selain angkutan umum. Karena kendaraan roda empat itu banyak memakan badan jalan daripada motor, memang mereka bayar pajak untuk itu, tetapi sama saja buat saya mereka itu sumber kemacetan. Jadi lebih baik gunakan motor saja untuk aktivitas tertentu, jangan pakai mobil hanya untuk pergi ke kantor yang hanya mengangkut satu-dua orang saja. Masih lebih baik satu mobil bisa mengangkut banyak penumpang, sehingga mobil sebagai lambang “ego dan keangkuhan” bisa dihilangkan. That’s my opinion. Sampai jumpa di “May Day” tahun berikutnya. (^_^)? Sukses buat perjuangan buruh Indonesia!!!