Rabu, 03 Juli 2013

Merasakan Terapi Bio-Electric

Serangan stroke yang dialami paman (om) satu bulan lalu (pertengahan Mei) dijadikan pelajaran berharga buat kami orang-orang terdekat, termasuk saya sendiri yang setiap saat mengurus dan merawat beliau. Setelah masa kritis terlewati, kini kondisi kesehatannya sudah membaik. Kelumpuhan sebagian tubuh bagian kanan yang pada awalnya mengganggu kini sudah berangsur-angsur normal.

Penanganan baik medis maupun pengobatan alternatif kami lakukan untuk mengembalikan kondisi paman saya itu seperti semula. Meski kondisi yang sedia kala 100% masih belum tentu terwujud, namun dengan bisa melakukan aktivitas normal itu sudah jauh lebih baik, dan itu yang kami (keluarga) harapkan.

Penanganan medis dilakukan sejak pertama kena serangan, kalau dihitung tiga minggu waktu penanganan di rumah sakit. Berdasarkan pengamatan saya meihat kondisi paman saya itu, pengobatan di rumah sakit hanya sebatas membuat kondisi pasien pada tahap pemulihan kesehatan saja, tapi tidak dapat mengembalikan fungsi gerak motoriknya dengan baik. Pada waktu minggu ketiga saat keluar rumah sakit itu pun kondisinya masih lumpuh sebagian. Paman saya sangat amat terbatas dalam gerak motoriknya. Memang pihak rumah sakit memberikan fisio terapi, namun jauh dari harapan.

Pengobatan medis itu tidak sepenuhnya kami percayai, diam-diam tanpa sepengetahuan dokter (pihak rumah sakit), kami keluarga juga memberikan obat herbal. Dan obat herbal itulah yang juga memberi kesembuhan lebih cepat. Kembali kesoal  kondisi fisik yang lumpuh tadi, akhirnya kami pihak keluarga membawa paman saya ini ke pengobatan alternatif bio-elektrik. Tidak jauh berbeda teorinya dengan metode fisio terapi di rumah sakit, namun di pengobatan alternatif ini, energi listrik yang disalurkan ke tubuh pasien dapat dikontrol, sehingga tidak sekedar kejut listrik statis kepada saraf tertentu saja, tetapi juga ke seluruh tubuh, bahasa baiknya terapi di alternatif ini lebih menyeluruh ke seluruh badan, sehingga efeknya lebih bisa dirasakan.

Terapi hari pertama itu hasilnya luar biasa, paman saya langsung bisa duduk, terapi kedua paman saya bisa berdiri, terapi ketiga paman saya bisa melangkah dan seterusnya perkembangan ke arah yang lebih baik. Hal ini jauh berbeda dengan terapi yang dilakukan di rumah sakit selama perawatan di sana. Ini yang buat saya luar biasa, dan membuka mata saya, bahwa pengobatan alternatif bisa jadi solusi untuk kesembuhan, tidak semata-mata percaya saja pada pengobatan medis. Karena nyatanya pengobatan alternatif punya solusi lebih baik daripada medis di rumah sakit yang menekankan pada pengobatan kimiawi yang lebih banyak punya efek samping merusak organ tubuh yang lain. Hingga kini pengobatan alternatif pada paman saya itu masih berjalan sampai ke kondisi yang jauh lebih baik, dengan target satu bulan pemulihan saraf motoriknya baik. Meski begitu, pelatihan gerak secara pribadi juga dilakukan untuk pemulihan.

Berdasarkan pengalaman itu ada keinginan saya mencoba. Kebetulan saat kondisi saya sangat amat lelah. Wajar sejak serangan stroke pertama pada paman saya, saya intens mengurus menjaga hingga kondisinya sekarang lebih baik. Belum lagi ditambah aktivitas lain yang membuat kelelahan fisik saya itu. Saya merasakan ketegangan saraf di tubuh terutama di bagian kepala. Alih-alih takut terkena penyakit yang paman saya alami itu, saya memutuskan untuk melakukan pencegahan dengan mencoba pengobatan alternatif yang paman saya jalani itu.

Pengobatan alternatif itu tidak hanya untuk orang yang sakit, bahkan kita yang terlihat sehat perlu untuk itu. Karena pada dasarnya, pengobatan ini untuk melancarkan saraf-saraf di tubuh kita yang terhambat. Karena sebenarnya kunci dari kesehatan adalah sirkulasi daraf, saraf-saraf di tubuh berjalan dengan baik.

Akhirnya saya merasakan manfaat dari pengobatan itu. Setelah saya menjalani terapi, tubuh saya yang tadinya lelah, capek, tegang menjadi lebih baik. Keluhan-keluhan saya itu bisa hilang, tubuh jauh lebih ringan. Saya merasakan kondisi yang lebih baik. Kesimpulan dari saya pribadi, memang pengobatan alternatif bio-electric ini sungguh luar biasa. Kuncinya ya ada diterapisnya, beliau punya kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Listrik yang dialirkan itu sepertinya energi alami, jauh berbeda dengan listrik PLN yang punya sifat merusak terhadap tubuh manusia. Beliau bisa mengendalikan seberapa kuat energi yang perlu disalurkan ke impuls saraf yang sakit, sehingga dapat kembali normal. Kesimpulannya sekali lagi adalah mantab!

Meski begitu yang lebih mantab adalah tetap menjaga kesehatan, melakukan pola hidup sehat dan selalu makan makanan yang bergizi. Mudah-mudahan cara ini menjauhkan kita dari sakit. Sakit bisa datang kapan saja, namun seberapa parahnya bergantung dari pola hidup kita juga. Kesembuhan bisa datang dari mana saja, tapi yang terutama ya dari dalam diri kita, yaitu semangat untuk sembuh, disamping pengobatan dari luar baik medis maupun alternatif. Ini hanya share yang saya alami, setidaknya bisa menjadi catatan pribadi saya dikemudian hari. Sampai jumpa dishare pengalaman yang lainnya. (^_^)?

Selasa, 02 Juli 2013

Pesta Demokrasi di Tingkat RT/ RW

Pesta demokrasi sangatlah wajar di tanah air Indonesia ini, karena Indonesia adalah negara yang memegang prinsip demokrasi. Bahkan Amerika yang dikenal sebagai negara yang memegang prinsip ini memuji perkembangan iklim demokrasi di Indonesia. Memang tidak sepenuhnya baik iklim demokrasi di Indonesia, tapi itu semua adalah proses demokrasi, proses belajar menuju ke arah yang lebih baik.
TPS pemilihan ketua RW05 Bina Asih, Kel. Larangan, Kec. Harjamukti, Kota Cirebon, Jawa Barat
Tidak hanya ditingkat nasional demokrasi ada, tapi di tingkat yang paling rendah proses demokrasi juga sudah dilakukan. Pemilu merupakan bentuk proses demokrasi. Tingkat yang paling rendah yang saya maksudkan di sini adalah acara pemilihan ketua RW di lingkungan saya tinggal, RW05 Bina Asih, Kelurahan Larangan, Kecamatan Harjamukti. Acara pemilihan ketua RW ini dilakukan pada 23 Juni 2013.
Pertama kalinya saya ikut acara yang semacam ini di tingkat RW. Saya ikut memberikan suara pada pemilihan RW hari itu. Suasana demokratis saya lihat ketika saya datang ke tempat pemungutan suara. Terlihat warga di RW saya itu antusias memberikan suaranya di TPS. Memang kalau dilihat dari total pemberi suara, hanya kurang lebih 50% yang memberikan suara ke TPS ini. Wajar, karena banyak juga warga yang tidak berada di tempat namun terdaftar. Tapi hal ini tidak menjadi masalah. Jauh berbeda ketika pemungutan suara tingkat kabupaten/ kota, atau pemilu provinsi hingga pilpres, kesalahan sedikit saja pasti dimanfaatkan oknum-oknum tak bertanggungjawab untuk mencuri suara.
Ya yang membedakan karena di tingkat RW ini jarang sekali ada konflik kepentingan untuk memperebutkan keuntungan tertentu. Sehingga siapa saja yang terpilih atau yang mencalonkan diri ya niatnya untuk bekerja bagi warganya. Toh jarang juga warga yang mau mencalonkan diri untuk sibuk mengurus warganya di tingkat RT/ RW. Ya karena itu tadi tidak adanya kepentinan yang bisa dijadikan keuntungan. Tapi biarlah proses demokrasi di tingkat terendah di masyarakat terus berkembang, agar terus belajar menjadi lebih baik.

Wiskun: Sego Pecel “Mbok Ijo”

Kembali lagi saya ingin posting tentang wiskun saya di Kota Cirebon. Kali ini saya dapat referensi makanan yang menarik, ya paling ga buat nongkrong isi perut sekedar mengganjal perut yang lapar. Wiskun kali ini adalah soal nasi pecel. Nasi pecel biasanya sih terkenal di daerah Madiun, tapi pecel yang ini yang buat katanya sih dari Jogja. Tak apalah kalau kita mencoba bagaimana rasanya. Kalau saya sih merasakan cita rasa pecel biasa saja, tidak ada perbedaan mencolok.

Tempat makan nasi pecel ini bernama Sego Pecel “Mbok Ijo”, lokasinya berada di depan sebuah ruko yang terletak di Jalan Veteran, Kota Cirebon. Lokasinya tidak jauh dari lampu merah Veteran yang berbatasan dengan perempatan Alun-alun Kejaksan. Tempat makannya sederhana saja, seperti tempat makan kaki lima gitu, Cuma tidak di trotoar. Lokasinya nyaman dan bersih.

Untuk harga per porsi kalau tidak salah itu Rp 8.000,00 harga tercatat sebelum harga BBM naik (24 Juni 2013) lho, tidak tahu kalau harga setelah BBM naik, saya belum ke sana lagi. Per porsi seharga itu bisa dilihat di gambar yang saya ambil di lokasi. Kalau soal rasa komentar saya sih lumayan lah, biasa seperti makanan nasi pecel. Saya memang tidak terlalu suka nasi pecel, jadi saya tidak terlalu bisa membedakan cita rasa nya. Tapi buat yang mau coba menu nasi pecel di Cirebon, bisa mampir di sini. Monggo : )