Senin, 06 Mei 2013

Maag Menyerang, di Saat Telat Makan

Sakit maag memang tidak enak, sengsara. Namun bagi yang terbiasa telat makan, maag sudah jadi langganan menyerang. Apalagi kalau sudah ditambah masuk angin, wah terasa tidak enak sekali. Kondisi badan bisa terasa drop, nafas jadi terengal-engal padahal tidak melakukan aktivitas berat, keringat dingin keluar, belum lagi tekanan  di bagian perut hingga ulu hati.

Malam ini saya mengalaminya. Memang saya akui saya telat makan, hari ini saya baru mengisi perut satu kali, yaitu pagi hari, sore yang harusnya saya sudah isi asupan makanan saya memilih menundanya, sampai akhirnya angit keburu mengisi rongga perut, ditambah asam lambung naik. Kesalahan terbesar saya adalah mengisi perut dengan minuman asam.

Sebagai pengisi perut untuk makan malam, saya memilih menu yang salah. Tidak salah sih untuk menu makannya, yang salah adalah saya pilih minumannya. Jeruk panas saya minum terlebih dahulu di kondisi perut yang kosong, seharusnya saya minum jeruk panas itu setelah saya selesai makan, jadi lambung sudah ada alasnya. Saya buru-buru ingin minum jeruk panas karena untuk mengobati sariawan saya yang belum juga sembuh.

Sekarang setelah saya makan, sakitnya masih menyerang, badan terasa lemas, dan ingin sekali rebahan. Minyak angin jadi teman untuk memindai nyeri yang ada di perut bagian bawah dada. Saya usapkan minyak angin di bagian itu untuk memindai nyeri yang saya alami ini. Semoga lekas reda serangan perut ini. Mudah-mudahan malam ini juga lebih sejuk dari malam kemarin, repot bila tidur tak nyenyak di kondisi seperti ini. (*_*)?

My Vega di Masa Jayanya

Motor kesayangan ku, Yamaha Vega R keluaran tahun 2006. Motor ini sudah menemani ku beberapa tahun, sejak masa ku di pertengahan kuliah hingga sekarang merantau di ibukota. Banyak pengalaman yang sudah terjalin dengan My Vega. Dulu menemani kuliah, sampai harus pulang-pergi KKN di Desa Kesugihan, Kabupaten Cilacap. Vega harus menemani saya PP, balik ke Purwokerto. Sampai harus mengalami ban benjol dan ganti dengan ban baru, wajar saja, jalanan Purwokerto - Cilacap PP sangat tidak bersahabat, kalau siang mungkin tidak masalah, namun jika jalan malam lubang dan jalanan tidak rata tidak dapat terlihat jelas oleh saya, efeknya benturan keras sering dihadapi ban Vega, akhirnya benjol deh.

Vega juga menemani ku perjalanan ke Jogja, itu pun PP. Kemudian ke Kebumen, Purworejo, Bantul, Tegal, Pemalang, Purbalingga, Wonosobo dan daerah lain di Jawa Tengah. Kalau untuk dibawa pulang ke Cirebon pasti, karena kalau mudik Vega selalu menemani saya. Kuningan, Majalengka, Indramayu bahkan sampai akhirnya Vega sampai juga di Jakarta di tahun 2010 hingga sekarang.

Namun karena jam terbang yang tinggi dan kurangnya perawatan membuat kondisi Vega sekarang tak eperti dulu. Pengaruh cuaca ekstrim di Jakarta serta kesibukan yang luar biasa membuat Vega tak terurus, dari sektor mesin, body, kaki-kaki sampai ke performanya kini telah berbeda. Kalau dihitung ini sudah masuk tahun keenam Vega berkarya di jalanan.

Jika ingin melihat Vega di masanya ketika masih "gress" bisa kunjungi link ini, di sana catatan saya di blogdrive, ketika awal menekuni dunia ngeblog, saya sempatkan membuat catatan sedikit. Setidaknya bisa jadi nostalgia saya sendiri, bahwa Vega pernah jadi motor yang cantik dan kinclong di setiap kali saya pakai berpetualang.

Senin yang Crowded, "Katakan Selamat Tinggal untuk Mobil"

Pagi ini sangat terasa terik,  meski angin pagi berhembus membawa dinginnya pagi, namun semua itu tidak ada artinya ketika aktivitas Senin yang padat dimulai di jalanan. Pagi ini siswa sekolah dasar giliran untuk merasakan UN, namun situasi berbeda dari ketika UN SMA/SMK dan UN SMP yang hari pertama lalu lintas relatif lancar. Pagi ini lalu lintas sangat amat macet.

Pagi ini saya beraktivitas seperti biasa, start dari Margonda menuju Pos Pengumben, Jakarta Barat. Macet sudah jadi pembuka di jalan Margonda, lanjut ke ruas jalan depan Universitas Pancasila, lanjut ke Tj. Barat, TB. Simatupang, sampai ke perempatan Ragunan. Menurut pengamatan saya, kepadatan disebabkan karena volume kendaraan meningkat.  Pandangan subjektif saya kemacetan ini karena banyak beredarnya mobil pribadi. Mobil pribadi ini membuat kondisi jalanan menjadi tidak liquid. Pengguna sepeda motor pun relatif cukup banyak beredar di jalanan, sebagai kendaraan alternatif pemecah kemacetan.

Lanjut ke ruas Pejaten arah Kemang, di sana juga terjadi kepadatan, meski tidak terlalu parah. Lanjut ke arah Prapanca-Antasari juga masih relatif lancar, lanjut ke Abdul Majid masih lancar sampai ketemu ruas Fatmawati. Ruas Fatmawati ini memang selalu ramai setiap harinya, kecuali Sabtu yang relatif lancar. Lanjut ke H. Nawi ruas ini juga dianggap masih lancar, sampai akhirnya tembus ke ruas Radio Dalam yang cukup ramai, dan relatif padat.

Lanjut ke ruas yang cukup padat adalah ketika masuk ke ruas jalan depan Mall Gandaria City. Di situ kemacetan sudah terasa selepas underpas Gandaria City. Lanjut ke kolong flyover Cipulir di sana kemacetan cukup terasa, karena ulah angkutan kota kopaja yang bermanuver sembarangan di kolong flyover Cipulir serta sambil 'ngetem' menunggu penumpang. Lanjut ke arah underpas Kebayoran Lama kendaraan terlihat antre memasuki underpas, lanjut ke ruas Simprug di sana pun sama, padat. Sampai di flyover Permata Hijau, juga terasa kemacetan karena antrian mengular kendaraan yang akan berbelok ke arah Pejompongan/ Slipi. Selepas putaran arah Pejompongan/ Slipi, di lampu merah Permata Hijau pun terpantau padat, tampak ruwet karena volume kendaraan meningkat dan terjebak di kondisi lampu merah.

Macet juga sudah mulai terasa di ruas jalan depan Bellezza, lanjut ke lampu merah Kebayoran Lama, dekat Rumah Sakit Medika, di sana kondisi lalu lintas kacau balau, kendaraan jadi seperti terkunci tak bisa maju dan mundur, akhirnya antrian panjang mengular. Hampir dari semua ruas volume kendaraan terhenti di perempatan itu. Kacau balau kondisi pagi ini di sana. Saya akhirnya mengalihkan laju ke arah H. Soleh, di sana cukup lancar, dan banyak biker yang memilih jalan ini untuk menghindari macet, bahkan dari arah sebaliknya banyak biker yang menggunakan jalan ini. Hal ini jadi indikator bahwa ruas jalan sebaliknya mengalami kemacetan, sampai para biker mencari jalur alternatif. Sampai di Pos Pengumben, kondisi lalinnya kacau balau di setiap lampu merah. Begitupun arah sebaliknya ketika saya kembali arah pulang dengan jalur yang sama.

Badan oenuh dengan keringat, luar biasa panas cuaca pagi ini ditambah kondisi lalin yang kacau balau. Sepertinya harus ada pembatasan penggunaan mobil, itu pendapat subjektif saya, karena mobil ini banyak membuat masalah karena ukurannya yang banyak menghabiskan badan jalan. Ditambah lagi sikap egois pengguna mobil, hanya mengangkut satu orang saja mobil bebas melintas jalanan, sedangkan kondisi jalanan cukup padat. Bandingkan apabila semua pengguna jalan yang menggunakan mobil beralih ke sepeda motor, dijamin tidak akan ada macet sampai 'terkunci' di sebuah perempatan. Karena sepeda motor akan mudah diatur ketika mengalami simpul kemacetan. Jadi sudahlah, katakan cukup gunakan mobil di weekday. Ada baiknya mobil digunakan untuk weekend saja, sekaligus dalam rangka penghematan konsumsi BBM, karena jelas mobil akan lebih boros dibandingkan dengan sepeda motor. Kampanye gunakan motor atau sepeda untuk aktivitas weekday!!!