Senin, 27 Mei 2013

RC213V Produksi Massal Mulai Menjalani Tes

RC213V di ajang MotoGP merupakan motor andalan Honda untuk musim 2013 ini, dan motor ini sudah mampu dikatakan pesaing terberat tim pabrikan lain, Yamaha dan Ducati. Performa RC213V sangat luar biasa. Ducati yang dahulu diklaim sebagai motor yang berpower besar cukup kewalahan menghadapi dominasi RC213V di berbagai lintasan, bahkan untuk track lurus saja RC213V mampu mengimbangi power dari Ducati Desmos GP13. Begitu juga dengan Yamaha YZR M1 yang terkenal mempunyai stabilitas hadling baik di sirkuit yang berkarater tikungan pun kewalahan menghadapi RC213V. Dibuktikan di seri awal 2013 dimana sirkuit yang dikenal Yamaha sebenarnya mampu mendominasi mampu dipatahkan RC213V.
[Sumber: otomotifnet]

Melihat performa yang kompetitif ini HRC ingin mencoba membuat motor prototipe ini untuk produksi massal, dan juga plan Honda untuk membuat motor RC213V ini bisa dipakai di tim CRT. Disamping itu Honda ingin membawa atmosfer race MotoGP pada penggemar otomotif motor besar di seluruh dunia. Mengingat apabila untuk memroduksi motor RC213V membutuhkan dana yang sangat besar, untuk itu Honda mencoba membuat motor yang serupa dengan biaya lebih murah, paling tidak tidak mengurangi aspek performanya.
Beberapa waktu lalu, saya membaca artikel berita dari Otomotif[dot]net tentang informasi terkait dengan apa yang saya catat ini. Bahwa Honda mulai mengetes motor RC213V yang digunakan untuk produksi massal di Motegi, Jepang. Kebetulan pada sesi tes tersebut ada Suzuki dan Yamaha yang ikut tes. Suzuki saat itu tengah mengetes motornya yang akan ikut MotoGP musim 2014. Yamaha pun melakukan hal yang serupa di sirkuit tersebut. Mengenai spesifikasi dari motor replika RC213V ini pihak HRC belum mau menginformasikannya. Bravo Honda!!! Lanjutkan pengembangan mu. One Heart!!!

Sabtu, 25 Mei 2013

Corat-coret: Rumah Sakit dan Hotel

Siapa yang tak kenal rumah sakit, dan siapa yang tak mengenal hotel? Sebuah tempat yang berbeda, namun punya kesamaan jika dilihat dari sudut pandang tertentu. Kalau hotel, banyak orang menginginkan mengunjunginya, sedangkan sebaliknya, rumah sakit jadi tempat yang tidak ingin dikunjungi, kalau pun harus mengunjungi itu pada keadaan tertentu, ya ketika sakit.

Apa yang saya tulis ini terinspirasi dari beberapa hari saya berada di rumah sakit. Ya, seperti postingan di blog pribadi saya, Netbook cocoper6, saya sedang menjaga om saya yang sedang sakit. Selama beberapa hari di rumah sakit, saya melihat ada kesamaan antara rumah sakit dengan hotel.

Pembedanya hanyalah rasa ketika kita tinggal di dua tempat tersebut. Ketika kita tinggal di sebuah hotel, perasaan kita adalah senang, hiburan, melepaskan segala kepenatan. Sebaliknya ketika kita tinggal di rumah sakit, yang dirasa ya kesakitan, kegelisahan, ketidakbetahan, kejenuhan serta rasa sakit apabila kita merupakan pasien dari rumah sakit tersebut.

Kalau bahas sol kamar, ya kalau di rumah sakit kita memilih ruang perawatan untuk kelas VIP atau VVIP, tentunya bisa merasakan suasana perawatan yang nyaman lengkap dengan segala fasilitasnya, ya ada kamar mandi dalam, kemudian televisi, kulkas, ada juga extra bed, mungkin juga sofa, wastafel, meja dan peralatan pendukung kenyamanan pasien dan keluarganya. Untuk soal biaya juga jelas berbeda untuk memperoleh semua fasilitas tersebut. Tidak jauh berbeda jika kita memilih sebuah hotel berbintang, ada harga lebih yang harus dibayar atas fasilitas yang diharapkan.

Sebagai pembanding saja, di rumah sakit tempat om saya dirawat kenas cas Rp 450.000,00 per malam, untuk pukul 00:00 perhitungan biayanya. Harga yang tak jauh berbeda untuk hotel berbintang, minimal bintang tiga. Ya inilah yang saya bilang ada kesamaan antara rumah sakit dan hotel, yang membedakan ya tadi perasaan si empunya sewa di ruang perawatan rumah sakit atau di kamar hotel tersebut.

Saya pun merasakan demikian, di ruang perawatan VIP rumah sakit ini relatif nyaman, ya tak berbeda dengan hotel. Hanya saja, untuk tempat tidurnya bukan spring bed layaknya tempat tidur hotel, tetapi tempat tidur dorong (mekanik). Ya setidaknya ruang perawatan VIP ini jadi tempat inap sementara kami yang menunggui pasien yang sakit yakni om saya. Keluarga bisa berkumpul di sini, di tempat yang nyaman bak hotel, meski ras yang kami rasakan di sini berbeda jika kami menginap di sebuah hotel. Tapi tak apalah, kebersamaan berkumpul bersama keluarga itu yang tidak jauh berbeda jika kita bermalam di hotel bersama keluarga.

Nah jadi sekarang, pilih mana, mau menginap di rumah sakit atau di hotel? ha3x … Pertanyaan bodoh kayanya. Jelaslah kita akan memilih hotel untuk menginap, daripada rumah sakit yang mempunyai fasilitas bak hotel. Karena harga sebuah ketenangan dan, kesehatan mahal harganya. Jadi kalau sekarang baru hanya mampu menikmati suasana hotel ala rumah sakit, ya harap maklum, karena nanti suatu ketika bermalam di hotel berbintang tak lagi malu atau minder. (^_^)?

Selasa, 21 Mei 2013

Wiskun: Bubur Sop Ayam ala Pedagang Cirebon

Bubur ayam, semua pasti sudah sering mencicipi makanan yang satu ini. Ya wajar saja, biasanya dikonsumsi untuk santap sarapan. Bubur ayam banyak ragamnya itu yang saya tahu. Karena sering sekali saya menemukan bubur ayam disajikan dengan rupa dan cita rasa yang berbeda. Tetapi intinya ya tetap bubur atau nasi yang dimasak lembut dan suir-suir daging ayam jadi poin wajib.

Bubur ayam yang sering saya temui ada bubur ayam kering, ada bubur ayam yang agak berkuah, dan ada yang berkuah banyak. Nah yang saya temui di sini adalah bubur ayam yang berkuah, namaya adalah bubur sop ayam. Setidaknya itu yang saya lihat di spanduk kain yang dipasang di gerobak jualannya.

Bubur sop ayam ini sangat banyak kuahnya, jadi itu bubur seperti terbanjiri kuar. Malah dari tampilannya buburnya tak terlihat karena tertutup kuah kaldu tauco yang berwarna coklat, kemudian suiran ayam, kol, seledri dan kacang. Soal rasa yang saya rasakan ketika menikmati kuahnya yaitu berasa seperti kuah tauco. Bumbu tauconya sangat terasa, karena seperti ada kacang kedelainya. Yang saya tahu itu tauco itu terbuat dari kacang kedelai.

Kalau rasa keseluruhan sih biasa saja, tidak terlalu berkesan. Ya begitulah yang saya rasakan ketika menyantap menu kuliner bubur ayam. Tapi setidaknya dengan mengenal ragam menu bubur ayam jadi menambah wawasan tersendiri. Setidaknya sih kalau lagi sakit, menu bubur pasti jadi pilihan karena kelembutannya, jadi nanti tinggal pilih menu bubur yang model apa.

Sekian dulu share saya soal kuliner yang saya temui. Ya paling tidak ini jadi tempat saya untuk berbagi dan sekaligus jadi catatan pribadi saya. Sampai jumpa di jenis kuliner yang lainnya. (^_^)?